
"Saya permisi dulu, Non. Masih banyak perkejaan yang belum saya kerjakan di bekalang," pamit Nuri yang sebenarnya merasa tertegun dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Lani.
'Tidak mungkin Den Azril suka sama aku? Wong dia ketus gitu. Padahal dia lumayan tampan jika saja bisa bersikap baik sedikit saja. Ada-ada aja Non Lani ini,' batin Nuri hendak pergi.
"Tunggu, Mbak. Mbak 'kan belum menjawab pertanyaannya aku, nama Mbak siapa?"
Nuri sontak menghentikan langkah kakinya.
"O iya, saya lupa. Perkenalkan nama saha Nuri, Non. Saya asisten rumah tangga baru di rumah ini," jawab Nuri akhirnya memperkenalkan diri.
"Oke, aku akan memanggil Mbak kalau aku membutuhkan sesuatu. Kalau memanggil Bibi suka lama. Bibi 'kan udah tua. Kalau Mbak Nuri masih muda, pasti jalannya cepat benar 'kan Om? Astaga, Om ini dari tadi ngeliatin Mbak Nuri terus, Om beneran suka ya?"
Fazril segera menutup mulut Lani menggunakan telapak tangannya. Dia terpaksa melakukan hal itu karena keponakannya ini pasti tidak akan berhenti berceloteh hal yang membuatnya malu. Nuri hanya tersenyum lucu, gadis kecil ini terlihat begitu menggemaskan terlepas dari apa yang baru saja dia katakan.
"Hmmmm!" gumam Lani merasa kesal.
"Kamu boleh kembali ke belakang, Nuri. Ucapan Lani tidak usah di ambil hati. Dia memang selalu banyak bicara, hehehehe!" ucap Fazril tersenyum cengengesan menahan rasa malu.
"Inggih, Tuan. Saya permisi, Den Azril, eh ... Maksudnya Den Faazril," pamit Nuri membungkuk hormat lalu berbalik dan benar-benar meninggalkan mereka berdua.
"Argggh!" Fazril seketika meringis kesakitan saat telapak tangannya tiba-tiba saja di gigit oleh sang keponakan.
"Rasain, lagian kenapa mulut aku di tutup segala, Om? 'Kan engap tau," ketus Lani menelungkupkan kedua tangannya di dada merasa kesal.
"Dasar nakal ya, main gigit-gigit aja. Emangnya tangan Om ayam goreng apa. Awas ya, Om balas kamu."
__ADS_1
Lani seketika berlari seraya tertawa riang saat Fazril tiba-tiba mengejarnya seraya mengaum layaknya singa yang hendak menerkam. Terjadilah kejar-kejaran antara Om dan juga keponakannya diiringi dengan suara tawa nyaring. Sampai akhirnya Alena dan suaminya pun datang melerai.
"Astaga, kalian sedang apa? Lani, jangan lari-lari nanti jatuh lho," pinta Alena menggelengkan kepalanya menatap wajah putri juga sang kakak.
"Ampun, Om. Ampun, jangan gigit aku. Hahahaha!" Lani tertawa nyaring lalu bersembunyi di belakang tubuh Alvin sang ayah.
"Sini kamu anak nakal, tangan Om sakit kamu gigit!"
"Haaaa! Gendong, Dad. Aku takut," teriak Lani seraya merentangkan kedua tangannya.
Alvin segera menggendong tubuh sang putri. Gadis kecil itu menjulurkan lidahnya menatap wajah sang Om mengejek seraya tertawa riang. Alena dan juga Alvin hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap wajah Alena juga Fazril secara bergantian.
"Lani, sayang. Mommy sama Daddy berangkat ke kampus dulu ya. Kamu jangan nakal, nurut sama Eyang sama Bibi, oke?" ucap Alena mengusap kepala putrinya lembut dan penuh kasih sayang.
"Baik, Mom. Aku gak akan nakal, 'kan sekarang ada Mbak Nuri, aku akan main sama dia," jawab Lani.
"Abang gak berangkat kerja? Ini sudah siang lho," tanya Alena mengerutkan kening.
"O iya, astaga! Saya sudah kesiangan ini," decak Fazril, dia pun segera berlari keluar dari dalam rumah tersebut.
.
Tiga hari kemudian.
"Jadi gimana, Zril. Apa Kamu akan menerima perjodohan yang ayah aturkan? Kawan Daddy udah nanyain terus lho?" tanya sang ayah duduk di ruang santai bersama Fazril dan juga Nyonya Laila istrinya.
__ADS_1
"Hmm! Gimana ya," Fazril menggaruk kepalanya merasa bingung.
"Gimana apanya? Mau sampai kapan kamu melajang seperti ini? Pekerjaan oke, kendaraan punya, wajah kamu juga tampan, tapi kenapa kamu sama sekali gak punya pacar? Dasar pemilih," ujar Nyonya Laila.
"Saya--" Fazril menahan ucapannya ketika melihat Nuri berjalan menghampiri dengan membawa nampan berisi 2 gelas kopi juga satu gelas teh hangat.
"Permisi, Tuan besar, Nyonya, Den Azril, ini minumannya," ucap Nuri meletakan gelas tersebut di atas meja.
Fazril menatap lekat wajah gadis itu. Hatinya kembali melakukan penolakan akan perasaan aneh yang mengusik jiwanya kini. Dia benar-benar mengabaikan kenyataan bahwa sebenarnya rasa cinta itu telah memenuhi hatinya.
"Saya permisi, Tuan, Nyonya," pamit Nuri membungkuk hormat lalu kembali ke belakang.
"Saya akan menerima perjodohan ini, Yah. Kapan ayah akan mengenalkan saya dengan wanita itu?" ucap Fazril secara tiba-tiba membuat Nuri sempat menghentikan langkah kakinya sejenak, tapi dia pun kembali melanjutkan langkahnya mencoba untuk mengabaikan apa yang saat ini sedang dibicarakan oleh tuanya itu.
'Jadi Den Azril dijodohkan toh? Hmm! Apa urusannya sama aku?' batin Nuri mengusap dadanya lembut.
"Syukurlah akhirnya kamu bersedia untuk dijodohkan sama putrinya teman ayah itu. Kamu gak usah khawatir, putrinya kawan ayah itu cantik ko, dia juga berpendirian tinggi. Sekarang dia bekerja di salah satu perusaan besar di kota ini. Namanya siapa ya ayah lupa," ucap sang ayah mengerutkan kening mencoba untuk mengingat nama putri dari kawannya itu.
"Semoga saja wanita itu sesuai dengan kriteria putra kita yang selangit ini. Kalau ternyata gak cocok juga, maka Mommy akan mencarikan wanita lain untuk kamu nikahi," ujar sang ibu kemudian.
"April! Nama wanita itu April, ayah yakin itu."
"Hah? April? Maksudnya Aprilia?"
"Betul!" jawab sang ayah tersenyum senang.
__ADS_1
BERSAMBUNG