
Nuri terisak. Dia tidak menyangka bahwa rasanya akan sesakit ini. Fazril yang juga baru pertama kali melakukan hubungan suami-istri seketika merasa panik. Dia berusaha untuk menenangkan istrinya yang saat ini menahan rasa nyeri di bagian intinya.
"Maafkan saya, sayang. Saya gak tahu bahwa rasanya akan sesakit ini," lirih Fazri mengusap kedua sisi wajah Nuri.
"Katanya ndak gigit, tapi ko sakit banget, Mas. Rasanya bahkan lebih sakit dibandingkan ketika jari aku tergores pisau saat aku sedang memotong sayuran, hiks hiks hiks!"
"Saya dengar memang rasanya akan sakit saat pertama kali kita melakukannya, tapi nanti juga rasa sakitnya akan hilang ko. Beneran."
"Bohong!"
"Saya tidak bohong, sayang. Saya dengar itu dari teman-teman saya yang sudah menikah. Kata mereka, kalau kamu sudah terbiasa sakitnya akan hilang. Kalau nggak percaya kita coba saja lagi. Saya juga masih penasaran ko."
"Emangnya masih bisa? Itu si juniornya udah lemas gitu."
"Ini sih gampang. Cukup di elus sedikit sama kamu juga nanti bangun lagi, hehehehe!" Fazril seketika tersenyum cengengesan.
"Ish, ndak mau akh! Geli tau, Mas."
"Geli apa geli? Tadi katanya lucu?"
"Ya ... Ya emang tadi lucu sebelum mengigit. Ta kirain ndak tajem, ternyata lebih tajam dari pisau lho. Sakit tau."
"Coba sekali lagi ya. Di jaminan gak bakalan sakit lagi."
Nuri seketika terdiam seraya merapatkan selimut tebal yang saat ini menutupi tubuh polosnya. Dia menatap langit-langit kamar melayangkan tatapan kosong.
'Coba lagi ndak ya? Tapi anuku masih sakit. Kalau ndak di coba, bagaimana bisa tahu kalau rasanya enak apa ndak,' batin Nuri.
"Gimana? Kamu masih penasaran 'kan sebenarnya?" tanya Fazril seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Nuri.
__ADS_1
"Hah? Kata siapa aku penasaran? Wong aku--"
Nuri terpaksa menahan ucapannya karena Fazril tiba-tiba saja mendaratkan ciuman di bibirnya tanpa aba-aba.
Cup!
"Bibir kamu manis, sayang," imbuh Fazril tersenyum seraya menatap wajah istrinya lekat.
"Manis? Memangnya bibir aku ini permen apa?"
"Lebih manis dari permen malah."
"Dasar gombal. Bilang aja kalau Mas ini sedang merayu aku."
"Siapa yang merayu? Orang kenyataanya memang seperti itu ko."
"Mas Fazril itu adalah laki-laki pertama yang mencium saya loh."
"Ya belum pernah. Wong aku ndak pernah berpacaran, kalau yang ngejar-ngejar aku buaaanyak. Dari yang laki-laki biasa saja sampai laki-laki yang luar biasa, mereka mengantri dalam mendapatkan cinta aku."
"Terus, kamu terima mereka semua?"
"Ish, wong gembleng. Mana mungkin aku terima mereka semua, memangnya Mas pikir aku ini perempuan apaan? Aku mana ada waktu buat pacaran. Lebih baik aku menghabiskan waktu untuk bekerja dari pada pacaran ndak jelas."
"Jadi dengan kata lain, saya ini pacar pertama sekaligus pacar terakhir kamu, begitu?"
"Kurang lebih seperti itu, Mas beruntung bisa menikahi wanita seperti aku ini. Sudah cantik, pintar masak, baik pula."
"Hahahaha! Kamu bisa narsis juga ternyata. Saya bukan hanya beruntung, tapi sangat-sangat beruntung. Terima kasih karena telah mau menjadi istri saya, Nuri. Saya cinta sama kamu, muach!" Satu kecupan mendarat di kening Nuri lembut.
__ADS_1
Nuri sontak memejamkan kedua matanya, merasakan betapa nyaman dan damainya ketika bibir lembut suaminya terasa kenyal menyentuh keningnya kini. Namun, wanita itu seketika membuka kedua matanya saat jemari sang suami tiba-tiba saja meremas bagian sensitif tubuhnya.
"Mas mau ngapain?" tanya Nuri menatap wajah suaminya dengan bola mata yang membulat sempurna.
"Kita coba sekali lagi ya?" rengek Fazril, telapak tangannya seketika meremas benda bulat kepunyaan istrinya.
"Anuku masih sakit, Mas. Lagian, itunya Mas juga udah lemas gitu. Gak bakalan masuk nanti."
"Kata siapa punya saya masih lemas, nih liat."
Bret!
Fazril tiba-tiba saja menyibakan selimut tebal yang semula menutup hampir seluruh tubuh polosnya. Nuri memekik merasa terkejut. Dia menatap benda yang masih terasa asing di matanya itu. Benda tersebut nampak berdiri tegak dan begitu kokoh, tapi terlihat menggegamaskan.
"Waaah! Ko udah berdiri aja si? Kapan berdirinya? Padahal ndak aku elus seperti yang Mas minta tadi lho." decak Nuri, entah mengapa darahnya seketika berdesir setelah melihat benda yang akan menjadi benda favoritnya itu.
"Astaga, istriku. Kamu benar-benar menggemaskan. Saya benar-benar sudah tidak tahan lagi," decak Fazril seketika itu juga segera menerkam istrinya tanpa aba-aba.
"Tunggu, Mas. Pelan-pelan, masih sakit ini."
"Iya, sayang. Saya akan pelan-pelan, tapi buka dulu kedua kaki kamu-nya?"
"Seperti ini?"
"Iya, sayang. Seperti itu!"
"Akhhh! Mas!"
"Kenapa, sayang? Sakit?"
__ADS_1
"Tidak, Mas. Teruskan! Hmmm!"
BERSAMBUNG