Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Kehilangan


__ADS_3

Ckiiit!


Mobil yang di kendarai oleh Fazril berhenti tepat di depan kediamannya di mana bendera berwarna kuning nampak melambai-lambai tertiup angin. Di dalam sana para tetangga sudah memenuhi halaman untuk melayat dan mengantarkan kepergian mendiang Nyonya Inggrid. Dia segera keluar dari dalam mobil begitupun dengan Nuri istrinya. Keduanya memasuki pagar dengan setengah berlari.


Sesampainya di dalam, Fazril berjalan dengan langkah kaki gontai. Kedua matanya benar-benar membanjir tidak kuasa melihat jenazah sang ibu yang kini tertutup kain. Dada seorang Fazril benar-benar terasa sesak. Dia perlahan mendekat dengan hati dan perasaan hancur. Tidak ada kata yang terucap, hanya bibirnya saja yang nampak bergetar menahan tangisan. Fazril menggigit bibir bawahnya keras seolah ingin menahan rasa sakit yang terasa menusuk relung jiwanya yang paling dalam.


Fazril duduk tepat di samping jenazah sang Ibu. Di bukanya kain yang semula menutupi wajahnya, tangisnya dia tahan sedemikan rupa. Kedua matanya menatap sayu wajah Ibu untuk yang terakhir kalinya. Wajah Fazril perlahan mendekat, satu kecupan pun di daratkan di kening sang Ibu dengan kedua mata yang terpejam, semoga air mata itu tidak menetes di wajah Ibu yang saat ini sudah tidak lagi bernyawa.


"Semoga Ibu bisa beristirahat dengan tenang, Ibu pasti bahagia karena akhirnya bisa menyusul Ayah di sana. Doakan kami anak-anak Ibu, semoga kita bisa berkumpul lagi di surga nanti. Saya sayang Ibu, terima kasih karena telah melahirkan saya dari rahim Ibu. Hal yang sangat saya syukuri di dunia ini adalah, saya memiliki Ibu yang sangat baik. Saya sayang Ibu," lirih Fazril, suaranya terdengar bergetar.


Isakannya dia tahan sedemikian rupa. Satu kecupan kembali dia daratkan di kening Ibu sebelum wajahnya kembali di tutup menggunakan kain berwarna putih. Fazril terlihat tegar, tapi tidak dengan hatinya. Laki-laki itu terlihat tenang, tapi tidak dengan perasaanya. Siapapun pasti akan merasa hancur ketika di tinggalkan untuk selamanya oleh wanita yang telah mengandung dan melahirkan kita. Mengurus dan mendidik hingga kita tumbuh dan besar menjadi orang sukses. Hati dan perasaan Fazril benar-benar merasa hancur dan terluka.


Kehilangan sang Ibu adalah patah hati terbesar untuk seorang anak laki-laki. Satu yang dia sesali saat ini, kenapa dirinya tidak ada di samping Ibu ketika malaikat maut menjemputnya? Dada Fazril semakin merasa sesak saja ketika dirinya mengingat hal itu.


"Abang!" rengek Alena yang tiba-tiba sudah duduk tepat di samping sang kaka tanpa dia sadari.


Fazril sontak menoleh, dia menatap wajah sang adik dengan tatapan mata sayu. Tangisnya tidak mampu lagi dia tahan kali ini. Pergelangan tangan laki-laki itu seketika bergerak meraih dan memeluk tubuh adiknya erat. Tangis keduanya pecah, Alena memeluk erat tubuh sang Kaka seolah sedang melupakan kesedihannya setelah ditinggalkan oleh Ibu yang sangat mereka sayangi.


"Ibu, Bang. Hiks hiks hiks!" lirih Alena seolah sedang mengadu.

__ADS_1


"Iya, Lena. Kamu pasti kuat, Ibu sudah tenang di alam sana. Ibu sudah beristirahat dengan damai, semoga kita bisa berkumpul kembali di surganya kelak," jawab Fazril lembut dan penuh kasih sayang.


Keduanya benar-benar meluapkan kesedihan dan kehilangan sang Ibu dengan saling berpelukan erat juga saling menguatkan di depan jenazah Nyonya Inggrid, wanita yang telah mengandung dan melahirkan, membesarkan mereka berdua dengan penuh kasih.


.


Pemakaman pun selesai diadakan. Para pelayat yang terdiri dari para tetangga, rekan kerja Fazril, juga staf Rumah Sakit di mana Alena berkerja saat ini pun sudah mulai meninggalkan rumah duka.Yang tersisa hanyalah keluarga inti saja kini. Fazril bersama istrinya, juga Alena bersama suami dan juga ketiga buah hatinya.


Fazril duduk di tepi ranjang di kamar Ibu di mana terakhir kali dia mengungkapkan kasih sayangnya kepada beliau. Baru kemarin mereka duduk dan mengobrol santai di tempat itu. Wajah Ibu terlibat bahagia, beliau bahkan selalu tersenyum sepanjang hari. Fazril tidak menyangka bahwa itu adalah senyuman terakhir yang dia lihat dari wajah Ibu.


"Mas yang sabar, Ibu pasti pergi dengan tenang karena seluruh keluarganya sudah berkumpul, sayang sekali kita langsung pulang semalam," lirih Nuri mengusap punggung tangan suaminya lembut.


"Semua ini bukan kesalahannya Mas lho. Semua ini takdir, apa Mas lihat wajah Ibu ketika kita makan di meja makan. Beliau menatap satu-persatu wajah kami. Tatapan mata beliau nampak sayu, Ibu bahkan tidak berhenti tersenyum. Sepertinya Ibu benar-benar bahagia, setelah seluruh keluarganya berkumpul beliau pun ingin pulang dan beristirahat dengan tenang. Mas harus ikhlas, Ibu memang sudah tidak ada, tapi beliau tetap hidup di kami anak-anaknya, terutama aku sebagai menantu yang derajatnya di naikan oleh Ibu."


"Ibu adalah mertua yang paling baik. Beliau dengan besar hati menerima aku yang notabenenya hanya seorang asisten rumah tangga. Sedikit pun beliau tidak pernah mengungkit hal itu, derajat aku dinaikan, status sosial aku pun di angkat. Aku benar-benar kehilangan Ibu, tapi mau bagaimana lagi. Ibu sudah tenang di alam sana," lirih Nuri, pikirannya melayang mengingat sosok mendiang Ibu mertuanya.


"Benar sekali, sayang. Ibu sudah tenang di sana. Meskipun rasanya sakit sekali, tapi Mas ikhlas. Mas iklhas melepas kepergian Ibu. Beliau akan tetap hidup di dalam hati Mas."


Nuri menganggukkan kepala seraya menahan tangisan di bibirnya. Air mata itu bergulir begitu saja tanpa terasa. Sama halnya seperti suaminya, dia pun merasakan rasa sakit dan kehilangan yang teramat sangat atas meninggalnya Nyonya Inggrid, Ibu mertuanya.

__ADS_1


'Selamat jalan, Bu. Semoga doa terakhir Ibu yang Ibu ucapan kemarin di dengar Tuhan dan di kabulkan. Aku bisa segera mengandung dan memberikan keturunan untuk suamiku, putra Ibu,' batin Nuri mendekap erat tubuh Fazril suaminya.


.


Satu Bulan Kemudian


"Kamu siap?" tanya Fazril menggenggam telapak tangan istrinya, mereka berada di depan sebuah panti asuhan.


"Aku siap, Mas. Sebelum kita benar-benar masuk ke sana, berjanjilah bahwa kita akan menganggap anak angkat kita seperti anak kandung kita sendiri, berjanjilah bahwa kita tidak akan pernah mengungkit status anak angkat kita. Kita sayangi dia dengan sepenuh hati, merawat dan mendidik dia hingga menjadi anak yang sukses," jawab Nuri menoleh dan menatap wajah suaminya dengan tatapan mata sayu.


Setelah itu, dia pun mengalihkan pandangan matanya ke arah depan. Menatap bangunan dengan tulisan besar bertuliskan, 'Yayasan Panti Asuhan Kasih Bunda.'


"Mas janji dengan sepenuh hati, Mas akan merawat dan menjaga anak yang kita adopsi, tidak akan sekalipun mengungkit statusnya sebagai anak angkat. Mas akan menyayangi dia layaknya darah daging kita sendiri," jawab Fazril.


Keduanya pun mulai melangkah dan memasuki area Panti Asuhan. Mereka sepakat akan mengadopsi seorang anak karena setelah 15 tahun menikah keduanya masih belum di percaya untuk memiliki momongan.


"Kami datang, Nak," gumam Fazril dengan nada suara pelan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2