
Baik Alena maupun Alvin seketika saling menatap satu sama lain. Keduanya merasa bingung harus menjawab apa atas pertanyaan sang ibu. Mereka bahkan belum pernah membahas hal itu. Hubungan mereka saja belum ada kejelasan sampai saat ini.
"Kenapa kalian diam saja?" tanya ibu yang juga menghentikan langkah kakinya.
"Eu ... Nggak ko bu, gak apa-apa. Saya hanya--"
"Saya seorang janda dengan 2 orang anak, bu. Apa ibu merestui putra ibu menikah dengan janda seperti saya?" tanya Alena membuat Alvin seketika merasa terkejut tentu saja.
"Memangnya kenapa kalau kamu janda, Neng? Ibu juga janda, hanya saja ibu tidak menikah lagi," jawab sang ibu menatap lekat wajah Alena kini.
"Jadi ibu merestui kami?" tanya Alvin tersenyum lebar.
"Memangnya ibu mengatakan bahwa ibu keberatan dengan hubungan kalian? Bagi ibu, tidak masalah kamu menikah dengan siapapun, asalkan kamu bahagia dan kalian saling mencintai. Apalagi ibu dapat bonus 2 orang cucu sekaligus, ibu benar-benar senang karena tidak harus menunggu lama untuk menimang cucu nantinya."
Baik Alena maupun Alvin seketika merasa senang. Terutama Alena yang kini merasa berbunga-bunga, sesuatu yang sudah sejak lama tidak pernah dia rasakan. Alena hanya pernah jatuh cinta sekali kepada mantan suaminya.
Dia tidak menyangkan bahwa dirinya akan merasakan kembali indahnya jatuh cinta. Mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari laki-laki lain selain mantan suaminya adalah sesuatu yang membuat perasaannya benar-benar merasa bahagia.
"Nah 'kan, kalian bengong lagi. Ajak pacar kamu ini untuk duduk, memangnya gak pegel apa dari tadi berdiri terus kayak gini?" ujar sang ibu seketika membuyarkan lamunan panjang mereka berdua.
"O iya, saya lupa. Duduk, Len. Kaki kamu pasti pegal 'kan?"
"Nggak ko biasa aja. Mas Alvin yang pegal, dari tadi gendong Lani, sini sayang di gendong sama Mommy," jawab Alena menatap wajah Lani sang putri.
Wanita itu seketika tersenyum kecil. Putrinya ternyata tidur di dalam gendongan laki-laki itu seolah merasa begitu nyaman berada di sana. Kedua mata Lani nampak terpejam sempurna, tertidur dengan begitu lelapnya.
"Lani tidur, Mas. Astaga!" gumam Alena.
__ADS_1
"Semalaman dia memang tidak bisa tidur. Dia terus saja memanggil ibunya, tidurkan Lani di kamar, Vin. Sekalian Eneng juga istirahat, pasti lelah sekali setelah seharian mencari Lani," ucap Ibu dan di jawab dengan anggukan oleh Alena dan juga Alvin.
Keduanya pun berjalan menuju kamar dan masuk ke dalamnya. Alvin membaringkan tubuh Lani secara perlahan dan sangat hati-hati di atas ranjang agar dia tidak menggangu tidur lelapnya. Tubuh gadis kecil itu pun dia tutup dengan selimut tebal.
"Kita ngobrol di halaman, ada yang ingin saya katakan sama kamu, Len," ujar Alvin kemudian.
"Memangnya apa yang ingin Mas Alvin katakan?"
"Mengenai hubungan kita. Tidak enak bicara di kamar seperti ini. Ya ... Meskipun kita sudah terbiasa berduaan di kamar hotel dan memang tidak terjadi apapun, tapi di sini rasanya canggung sekali. Saya gak enak sama ibu."
Alena menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Mereka pun keluar dari dalam kamar lalu berjalan menuju teras rumah. Alvin duduk di kursi kayu bersama Alena yang duduk tepat di sampingnya kini.
"Len."
"Mas Alvin."
"Kamu dulu, Mas."
"Tidak, kamu dulu, Lena. Kamu mau mengatakan apa?"
"Kali ini Mas duluan. 'Kan Mas yang ngajakin aku keluar."
"Hmm! Baiklah, eu ... Boleh kalau saya menuntut kejelasan untuk hubungan kita?" Tanya Alvin tiba-tiba saja merasa gugup tanpa sebab.
"Hah? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Ko jadi malah sebaliknya," jawab Alena yang juga merasa gugup entah mengapa, padahal sebelumnya mereka biasa saja.
"Saya cinta sama kamu, Lena."
__ADS_1
"Iya, aku tahu."
"Jadi bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Status hubungan kita seperti apa?"
"Kamu maunya bagaimana?"
"Astaga, Alena Dwi Pratiwi!" Alvin mengusap wajahnya kasar, sementara Alena hanya tersenyum cengengesan.
Cup!
Alena tiba-tiba mendaratkan bibirnya di pipi Alvin membuat laki-laki itu seketika membulatkan bola matanya. Dia pun menoleh dan menatap wajah Alena dengan tatapan mata berbinar. Mereka memang pernah berciuman sebelumnya di hotel, tapi entah mengapa rasanya berbeda ketika Alena mendaratkan bibir mungilnya baru saja. Sekujur tubuh Alvin seketika terasa merinding.
"Lena, kamu--"
"Apa itu cukup untuk mewakilkan bagaimana perasaan aku sama kamu, Mas?" tanya Alena dengan wajah memerah merasa malu.
"Tidak! Itu belum cukup, Lena," jawab Alvin, seketika mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya di bibir mungil Alena seraya memejamkan kedua matanya kini. Ciuman panas pun benar-benar terjadi, mereka saling menyesap dan ******* bibir masing-masing.
Tangan Alena tiba-tiba saja bergerak dan melingkar di leher Alvin, sedangkan satu tangan laki-laki itu di letakan di pinggang ramping Alena seolah tidak ingin melepaskan. Keduanya benar-benar larut dalam kegiatan yang membangunkan hasrat di dalam jiwa yang selama ini bersemayam dengan tenang di dalam sana.
"Kalian lagi ngapain?" Tiba-tiba saja terdengar suara Lani yang saat ini berdiri tepat di depan pintu seraya mengusap kedua matanya membuat Alena dan juga Alvin seketika merasa terkejut tentu saja.
BERSAMBUNG
__ADS_1