
"Apa? Kamu bilang apa tadi, Mas? Gak, aku gak akan pernah biarin kamu mengambil hak masuk anak-anak. Kamu yang jelas-jelas berselingkuh, pengadilan tahu betul akan hal itu," teriak Alena merasa tidak terima.
"Cukup, Len. Malu di lihat orang-orang, lebih baik kita masuk, laki-laki ini gak usah di ladenin," pinta Alvin mencoba untuk menenangkan.
"Kamu gak becus ngurus anak-anak, Alena. Lian sakit karena kamu sibuk pacaran, sibuk kuliah. Seharusnya kamu fokus saja dalam mengurus anak-anak."
"Lalu kamu sendiri bagaimana? Kamu fokus selingkuh dengan wanita lain di saat aku sibuk mengurus anak-anak. Pokoknya, aku gak akan pernah membiarkan anak-anak ikut sama kamu, Mas. Mereka masih di bawah umur, pengadilan juga sudah memutuskan kalau anak-anak ikut aku ibunya!" Alena semakin emosi.
Dia tidak terima jika anak-anaknya sampai ikut dengan suaminya. Membayangkannya saja dia tidak akan sanggup. Apalagi jika hal itu sampai benar-benar terjadi.
"Tapi pada kenyataannya kamu gak becus mengurus mereka, Lena."
"Cukup! Saya minta cukup, Alviano. Apa kamu tidak malu berteriak-teriak seperti ini? Apa kamu tidak malu mengatakan hal pribadi di depan orang banyak, marah-marah kayak gini hanya karena kamu merasa cemburu melihat mantan istri kamu duduk dengan laki-laki lain? Seharusnya kamu mikir, dengan kamu bersikap seperti ini, hanya akan menunjukkan seberapa brengseknya kamu, dan seberapa buruknya kamu sebagai seorang ayah," ujar Alvin panjang lebar.
Alviano sontak terdiam. Dia pun mengepalkan kedua tangannya kini. Jika saja tidak ada para pengunjung yang menyaksikan pertengkaran mereka, mungkin sudah dia hantam habis-habisan laki-laki bernama Alvin ini. Namun, Alviano mencoba untuk menahan diri, dia akan melakukannya nanti ketika ada kesempatan.
"Saya akan beri perhitungan sama kamu, brengsek!" tegas Alviano.
Laki-laki itu menunjuk wajah Alvin dengan jari telunjuknya juga menatap wajah laki-laki itu dengan tatapan mata tajam. Setelah itu, dia pun pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua juga mereka-mereka yang saat ini saling berbisik membicarakan dirinya.
Tubuh Alena seketika ambruk di atas kursi. Dia menutup wajahnya menggunakan telapak tangan. Apa masih belum cukup mantan suaminya itu menyakitinya selama ini? Hati seorang Alena benar-benar merasa terluka. Dia tahu betul bahwa sikap Alviano seperti ini karena laki-laki itu merasa cemburu melihat kebersamaannya dengan Alvin.
__ADS_1
"Kamu tenang aja, Lena. Tidak akan semudah itu pengadilan mengalihkan hak asuh kepada mantan suami kamu. Apalagi penyebab berceraian itu adalah karena perselingkuhan yang dia lakukan, selain itu anak-anak juga masih di bawah umur. Hak asuh wajib jatuh ke tangan ibunya, kecuali ada hal lain yang menyebabkan si ibu harus menyerahkan hak asuh kepada ayah mereka," lirih Alvin, selain karena ingin menghibur dia juga tahu sedikit tentang hak asuh anak-anak bagi kedua orang tuanya yang bercerai.
"Tapi kalau ternyata hak asuh jatuh kepada Mas Vian gimana?" Alena sedikit terisak, menurunkan telapak tangannya.
"Gak akan, Lena. Hal itu tidak akan terjadi, jika mantan suami kamu itu benar-benar mengajukan banding terkait hak asuh, maka kamu harus melawan. Saya akan membantu kamu, dan saya akan selalu menemani kamu. Maaf, semua ini terjadi karena saya, seharusnya saya lebih bisa menahan perasaan saya sama kamu."
"Tidak, Mas Alvin gak salah sama sekali. Mantan suamiku saja yang egois. Dia jelas-jelas mengkhianati aku, sekarang giliran aku dekat dengan laki-laki lain, giliran aku menyukai laki-laki lain bahkan di saat kami sudah tidak ada hubungan apapun, dia merasa murka dan marah-marah di depan semua orang, dia laki-laki jahat. Egois!" umpat Alena, entah sadar atau tidak saat dia mengatakan hal itu, tapi apa yang baru saja di ucapkan oleh wanita itu sukses membuat hati seorang Alvin merasa berbunga-bunga.
Perlahan, telapak tangan laki-laki itu bergerak meraih telapak tangan Alena dan menggenggam jemarinya erat. Alena secara refleks balas menggenggam juga menatap wajah Alvin lekat dengan bola mata memerah, seolah dia memang sedang membutuhkan dukungan dan juga sandaran.
"Saya yakin kamu adalah wanita yang kuat. Kamu wanita hebat, kamu pasti bisa melewati masa sulit ini, sama halnya saat kamu memutuskan untuk berpisah dari suami kamu. Kamu masih berdiri tegak sampai sekarang, kamu bisa melewatinya sampai saat ini."
* * *
Alena dan juga Alvin kembali ke kamar rawat inap di mana putranya berada saat ini. Setelah menenangkan diri sejenak, perasaan Alena pun sudah merasa tenang sekarang. Dia mencoba menyembunyikan kesedihannya saat dirinya mulai memasuki ruangan. Selain karena dirinya tidak ingin membuat Lian semakin merasa tertekan, dia pun tidak ingin Fazril sampai tahu apa yang sudah dilakukan oleh mantan suaminya.
"Kalian sudah balik? Kenyang sekarang?" tanya Fazril duduk dengan memainkan ponsel, sementara Lian masih tertidur di ranjangnya.
"Lian tidak bangun sama sekali?" tanya Alena berjalan menghampiri sang putra.
"Tidak, sepertinya tidurnya nyenyak banget dia."
__ADS_1
Dret! Dret! Dret!
Ponsel Fazril seketika bergetar, laki-laki itu segera mengangkat telpon di depan Alena dan juga Alvin.
📞 "Iya halo, Bu. Ini saya."
Entah apa yang di bicarakan oleh ibundanya di dalam sambungan telpon, karena raut wajah Fazril seketika berubah. Dia menatap sayu wajah Alena membuat wanita seketika merasa heran.
"Ada apa, Bang? Siapa yang nelpon?" tanya Alena mengerutkan kening.
"Lani, Len."
"Lani kenapa? Ada apa dengan putriku?"
"Mantan suami kamu membawa Lani dari rumah."
"Apa?"
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1