Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Belum Siap


__ADS_3

Alena sudah dalam perjalanan pulang setelah menerima kabar bahwa Alvin tidak bisa kembali ke kampus, karena Lian tertidur selama perjalanan. Kekasihnya itu terpaksa membawa putra bungsunya ke rumah sang ibu. Jujur, hati seorang Alena benar-benar merasa senang. Apakah putranya itu sudah mulai nyaman dengan sang kekasih?


Pedal gas di di injak guna mempercepat laju mobil yang dikendarainya. Alena merasa tidak sabar ingin segera sampai. Dia ingin secepatnya bertemu dengan laki-laki itu. Laki-laki yang telah berhasil mengobati luka di hatinya akibat perceraian yang menyakitkan. Laki-laki yang dengan setia menemani hari-harinya kala dia sedang berada di titik terendah di dalam hidupnya, sehingga perlahan dia mulai merangkak dan bangkit dari keterpurukan.


Ckiiit!


Mobil yang di kendarai oleh Alena akhirnya sampai di tempat tujuan. Mobil tersebut berhenti di bagasi, wanita itu pun segera keluar dari dalam mobil dengan tergesa-gesa, bahkan setengah berlari dengan wajah yang ceria.


Pintu utama pun nampak terbuka lebar. Alvin bersama sang ibu sedang duduk santai di ruang tamu dengan di temani secangkir teh hangat. Sepertinya mereka berdua tengah membicarakan hal yang serius.


"Kamu pulang juga akhirnya, sini Nak duduk sama ibu. Ada yang ingin ibu bicarakan dengan kamu," ujar ibu tersenyum senang menyambut kedatangan putri kesayangannya.


"Lian di mana, Mas?" tanya Alena duduk di samping ibu sementara kedua matanya menatap wajah Alvin kini.


"Lian tidur di kamar kamu, Len. Sepertinya dia kelelahan, dia aktif sekali tadi," jawab Alvin tersenyum menatap wajah cantik seorang Alena.


"Mungkin karena dia sudah lama dia tidak menghabiskan waktu di luar. Aku senang karena Lian gak rewel. O iya, bu. Lani di mana? Aku gak liat dia?"


"Lani juga tidur di kamar ibu."


"Oh begitu. Hmm ... Apa yang ingin ibu bicarakan?"

__ADS_1


Ibu nampak menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia pun menatap wajah sang putri juga wajah calon menantunya secara bergantian. Senyuman bahagia pun beliau perlihatkan. Wanita paruh baya itu terlihat begitu bahagia sekarang.


"Alvin sudah mengutarakan keinginannya untuk serius dengan kamu, Len," ujar sang ibu kemudian.


"Se-serius? Aku 'kan emang serius sama Mas Alvin." Alena mengerutkan kening.


"Iya, Mommy tahu. Maksud Mommy, kamu akan segera di kenalkan kepada kedua orang tua Alvin. Kalau kamu setuju, pacar kamu ini juga akan melamar kamu secepatnya. "


"Hah? Me-melamar?" Wajah Alena seketika memucat entah mengapa.


"Iya, Len. Kenapa, kamu keberatan kalau saya melamar kamu dalam waktu dekat ini?"


"Eu ... Tidak bukan begitu. Hanya saja--" Alena tidak meneruskan ucapannya. Wanita itu pun menundukkan kepala, memainkan ujung kuku jari jempolnya kini. Hati Alena mendadak dilanda gelisah, dia memang mencintai laki-laki bernama Alvin, tapi apakah dia sudah siap untuk mengarungi rumah tangga bersama laki-laki itu?


"Maaf, bu. Aku hanya--" Lagi-lagi Alena menahan ucapannya.


"Kalau kamu masih belum siap untuk menikah, saya akan mengundur rencana lamaran saya itu," ucap Alvin menahan rasa kecewa sebenarnya.


"Maaf, Mas. Bukan maksud aku untuk menolak lamaran itu. Hanya saja, aku ini seorang janda, gelar janda bukanlah sesuatu yang membanggakan untuk aku pribadi, jujur aku takut kedua orang tuanya Mas merasa keberatan putranya menikahi seorang janda. Aku merasa tidak percaya diri, Mas." Ujar Alena, meskipun dia tidak sepenuhnya jujur karena sejatinya, dirinya memang belum siap untuk mengarungi mahligai rumah tangga mengingat dirinya sudah pernah gagal sebelumnya.


"Hey, apa maksud kamu? Bukankah kamu sudah mendapatkan restu dari ibu saya?"

__ADS_1


"Mas masih ada ayahnya Mas, juga ibu tiri Mas. Apa mereka akan bersedia menerima aku sebagai menantunya mengingat statusku sebagai janda beranak 2?"


"Kamu tidak usah mengkhawatirkan hal itu, saya sudah bilang sama mereka bahwa saya sudah memiliki calon istri, saya juga sudah berjanji kepada mereka bahwa saya akan segera mengenalkan kamu secepatnya, tapi kalau kamu masih belum siap juga gak apa-apa. Biar kita undur rencana saya itu, saya akan selalu menunggu sampai kamu benar-benar siap, Len."


Alena menundukkan kepalanya merasa bersalah. Entah apa yang dia inginkan saat ini, dirinya pun masih mencoba untuk menyelami lubuk hatinya yang paling dalam. Apakah dia siap untuk di lamar dan menikah dalam waktu dekat dengan kekasihnya itu?


"Baiklah kalau begitu, saya pamit sekarang, Len, bu." Pamit Alvin kemudian.


"Apa Mas Alvin marah sama aku?" tanya Alena menatap sedih wajah Alvin kini.


"Marah? Tentu saja tidak, Lena. Untuk apa saya marah? Saya mengerti bagaimana perasaan kamu, saya paham betul, Lena. Satu hal yang pasti, saya akan tetap menunggu sampai kamu benar-benar siap."


Alena semakin merasa bersalah saja kini. Hal berbeda di rasakan oleh Nyonya Inggrid, dia merasa bersyukur memiliki calon menantu seperti Alvin dan berharap perasaan laki-laki ini tidak berubah seperti mantan menantunya terdahulu.


"Terima kasih karena kamu bersedia menunggu putri ibu, mungkin Alena masih butuh waktu untuk berfikir, tapi bukan berarti dia akan menolak kamu karena ibu yakin bahwa putri ibu ini sangat mencintai kamu, iya 'kan Len?"


Alena tersenyum cengengesan lalu menganggukkan kepalanya pelan.


'Duh, ibu! Aku jadi malu, kenapa ibu harus bilang kalau aku sangat mencintai Mas Alvin? Kalau nanti di bilang bucin gimana?' batin Alena.


BERSAMBUNG

__ADS_1


...***************...


__ADS_2