Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
berlibur ke pantai


__ADS_3

perselingkuhan Suamiku


Part11


Pagi yang indah terdengar suara riuh burung-burung berkicau, Mitha dan anak-anaknya berjalan di persawahan juga melihat pemandangan yang hijau dan juga sejuk, selesai jalan-jalan mereka berlalu pulang dan sang kakak sudah berada pulang dari kota Madiun, ia memeluk Mitha kakaknya sangatlah rindu dengan adik semata wayangnya.


"Ko tambah cantik saja sih adik Mas? Tanya sang kakak.


"Mulai menggoda adiknya," jawab mitha sambil mencubit pipi sang kakak.


"Gimana kabar kamu? Mas sampai rindu sudah lama kita tak bertemu."


"Alhamdulillah baik Mas, tapi tidak dengan pernikahan Mitha sudah diambang kehancuran Mas?" ucap Mitha pada kakaknya.


"Kok bisa gimana sih Mas ndak ngerti?" tanya Kakaknya pada Mutha tak mengerti.


"Mas Bram selingkuh dengan Siska Mas?" jawab Mitha sedih pada kakaknya.


"Apaaaa, dasar bener-bener siska ndak ada habisnya buat hancurin keluarga kita." ucapnya meradang.


"Sudahlah Mas, semua sudah terjadi. Mas Bram bilang katanya Dia dijebak Siska, awalnya Mitha mau memaafkannya karena demi anak-anak, tapi Siska mengandung anaknya mas Bram." ucap Mitha lagi pada kakaknya.


"Bener-bener keterlaluan Siska, Mas ndak trima Tha, Mas harus buat perhitungan dengannya." Mas Pram meradang wajahnya memerah menahan amarah.


"Sudah mas Pram yang sabar ya, semua sudah diatur sama sang pencipta, ini ujian buat Mitha mungkin Allah rindu tangis Mitha Mas." ucap Mitha lembut, untuk meredam emosi kakaknya.


Dipelukanya adik tersayang dalam dekapan sang kakak, adiknya yang begitu baik kenapa disakiti seperti ini, sang kakak menjatuhan bulir bening di sudut matanya, Apa yang dimau Siska hingga menghancurkan rumah tangga Mitha.


Meskipun Mitha kehilangan cintanya, namun masih banyak orang-orang yang menyayanginya, masih banyak kasih sayang yang Mitha dapat dari sang keluarga tercinta.


Makan malam telah tersedia diatas meja makan, mereka berkumpul dan makan bersama setelah itu berkumpul diteras delan sambil melihat sinar rembulan juga menatap bintang-bintang yang bertabur dimalam hari


Raka dan Rania bermain dengan kakak sepupu mereka Alea juga Anisa, Mitha merasa bahagia ada keluarganya yang mendukung Mitha dengan sepenuh hati.


Mitha sedang bercanda gurau bersama keluarga, ponsel mitha berbunyi.


[Mbakyu sherelock? Fiko sudah ada di Alun-Alun Nganjuk.]


[Ok Fiko]


Mitha mengirimkan tempat lokasi kepada sang adik ipar, berapa menit kemudian mobil Sylver itu telah terparkir di depan rumah Pak Ferdi. Sang pemilik tubuh kekar itu turun dari mobil yang ia naiki, Fiko diantar oleh beberapa temannya, temanya pamit lalu mobil berlalu pergi.


"Om Fiko, ucap Raka dan Rania yang langsung memeluk sang Paman."


"Sayang kalian apa kabar?" Tanya Fiko pada kepinakannya.


"Alhamdulillah Om kami baik, jawab Raka juga Rania.


"Dapat juara berapa Om?" tanya Rania pada pamannya Fiko.


"Satu dong," jawab Fiko sambil memeluk Rania.


"Alhamdulillah selamat ya Om," ucap Raka juga Rania


"Iya sayang," ucap Fiko senang menatap kedua keponakannya.

__ADS_1


Fiko mencium punggung tangan pak Ferdi juga kakaknya Mitha. Mereka mempersilahkan Fiko masuk dan sebuah kamar yang telah disiapkan, Mitha menemani Fiko makan malam, lalu mereka ngobrol didepan bersama mbok Darmi, dan yang lainnya,


Mitha senang diusianya yang Masih muda Fiko termasuk pemuda yang rajin juga jarang keluar rumah, ngobrol bersama keluarga mereka berbicara tentang cerita horor membuat Raka dan Rania sembunyi di balik punggung sang paman.


"Paman Pram besuk main renang yuk?" pinta Raka juga Rania


"Boleh kemana maunya kemana? Ke pantai mau ndak?"


"Mau mau asyik ........ trimakasih paman !"


"Iya sama-sama, Sekarang tidur besuk pagi kita kesana,"


Fajar sudah terbit, embun pagi menyelimuti rumah sang Ayah, Mitha juga Mbok Darmi menyiapakan sarpan, beberapa saat kemudian sarapan telah siap dimeja makan semua berkumpul sambil menyantap makanan didepan mereka hingga piring mereka bersih tak tersisa.


Mereka bersiap-siap menuju tempat pantai, mobil melaju dengan kecepatan cepat menuju pantai Gemah tulungagung sengaja berangkat agak pagi biar sampai sana ndak kesiangan, mobil terparkir diarea pantai, semua turun dan menikmati suasana pantai.


Raka, Rania beserta Anisa dan alea berlari menikmati pantai, Mas Pram dan mbak Ana asyik berselfi, Fiko dan Mitha duduk ditepi pantai sambil menunggu anak-anak bermain.


"Gimana sama perasaan mbak Mitha? Tanya Fiko.


"Mbak sudah lebih baik Fiko, Mbak harus Iklas. Mungkin jodoh mbak sampai disini dengan Mas Bram, nanti kalau Mbak paksain kasian anak-anak. Siska pasti akan menyakiti mereka Fik, Lagian Siska hamil, kalau Siska ndak hamil pasti mbak pertahankan, bagaimanapun dia dulu adiknya Mbak."


"Iya sudah Mbak Fiko dukung rencana mbakyu saja," ucap Fiko menyemangati Mitha.


"Kalau Mbak kembali ke Surabaya nanti, Mbak tinggal dimana Fiko? Apa pantas Mbak numpang dirumah Mama yang setatusnya bukan Mama Mitha lagi." tabya Mitha pada Fiko.


"Mbak kok ngomong nya gitu sih, Rumah Mama akan selalu terbuka buat Mbak Mitha." jawab Fiko pada Mitha.


"Tapi apa kata orang Fiko? sedangkan mbak bukan lagi menantunya dan hanya Mantan menantu."


"Nanti kita fikirkan Mbakyu, setelah pulang dari sini, kapan Mbak rencana mau pulang?"


"Bunda, Om, ayo sini kita Main,"


Mitha dan Fiko berlari menuju anak-anak bermain dan bergembira, mereka terlihat sangat bahagia, menaiki perahu mesin, makan ikan bakar dan tak lupa mereka berfoto bersama.


Mereka bersiap untuk pulang dan membeli ikan asap juga ikan segar, mobil melaju meninggalkan pantai yang indah, Fiko menyetir didepan bersama Mas Pram mobil melaju dengan kecepatan sedang.


Sebenernya aku kasian sama mbak Mitha, ia rela memberikan suami pada adik adopsi ayahnya, bagaimana pun Siska sudah hamil, dan Mas Bram harus menikahinya, ancaman selalu datang jika tak dituruti Siska semakin merajalela. Ucap Fiko dalam hati.


Bram memperkerjakan orang untuk membersihkan perabotannya, dan dipindahkan dirumah baru yang dibelikan Bram tanpa sepengetahuan Shelomitha dan anak-anaknya, Bram harus bisa menafkahai anak-anaknya meskipun sudah tak tinggal satu rumah dengannya.


Bram meminta sang Mama untuk merahasiakannya, Bram tidak ingin Mitha menolak pemberian rumah darinya.


Bram membayangkan begitu banyak kenangan dirumah ini membuatnya sulit untuk melupakan kenangan indah bersama sang istri. Yang waktu itu lagi ngidam Rania.


"Aduh Mas Bram, Mitha laper?" tanya mitha pada suaminya Bram.


"Itu kan makanan masih banyak sayang ?" jawab Bram pada Mitha.


"Ndak mau, maunya dimasakin sama Mas Bram." ucap Mitha manja.


"Maunya dimasakin apa sayang?" tanyanya pada Mitha


"Nasi goreng sosis sama telur mata sapi." jawab Mitha memohon.

__ADS_1


"Iya-iya mas masakin tunggu disitu ya?" ucap Bram pada istrinya.


Setelah beberapa menit akhirnya nasi goreng ala Bram siap didepan sang istri, Mitha pun hanya memandang nasi goreng itu tanpa memakannya,


"Kenapa ndak dimakan? Mas sudah susah-susah bikinin lo ini special buat dede bayi yang didalam?" ucap Bram dengan menaikkan satu alisnya.


"Mitha sudah kenyang, Mitha maunya Mas Bram yang habisin," pinta Mitha pada Bram.


"Mas sudah makan tadi sayang," Bram menatap piring malas.


"Sekarang Mas, cepet ayo makan?"


Dengan terpaksa Bram menghabiskan makanan di piring dengan habis, Al hasil Bram kekenyangan hingga tidak bisa tidur semalaman, Dari pada nanti anaknya ileran, mending ia habisakan, Bayangan itu tidak akan pernah Bram lupakan, ia sadar hanya kenangan yang ia miliki, Sebentar lagi semua akan berubah dan rumah ini akan jadi kenangan terindah.


Mobil Fiko terparkir dihalaman Masjid mereka berhenti karena waktu asyar sudah mau habis, mereka beegegas mengambil air wudhu, dan Mas Pram sebagai iman mereka,


Selesai menjalankan kewajibannya mereka mampir ke restoran Masakan padang,


Fiko yang duduk disamping Mbakyu nya, Desiran lembut didalam hatinya kembali berdetak, namun ia mengabaikannya, ia menghormati Mbakyu nya ia tidak boleh memiliki perasaan itu, Ya Allah aku mohon jauhkan desiran itu dari tubuhku guman Fiko dalam hati.


Mitha memperhatikan Fiko tatapannya kosong, lagi mikir apa sih ni anak bengong saja, ucap mitha dalam hati.


"Fiko ayo dimakan, jangan ngamun saja nanti kesambet lho?" tanya Mitha pada Fiko.


"Eh iya Mbak Fiko makan. Jawab Fiko kaget


"Om Fiko kenapa sih, dari tadi bengong saja?" tanya Raka.


"Ndak papa Raka, Om hanya mikir makanannya enak," ucap Fiko


"Yah Om ada-ada saja, ga nyambung tahu Om Fiko jawabnya!"


Semua tertawa melihat ke arah Raka


Selesai makan mereka kembali melajukan mobilnya menuju kerumah sang kakek, tak lama lagi mereka akan sampai, sesekali mereka bercanda tertawa menggoda Raka yang lagi ngambek, Fiko menyadari satu hal bahwa kehangatan keluarga tidak bisa ditukar dengan apapun, ia bahagia keluarganya bisa menerimanya meskipun sang kakak telah menghianati pernikahannya dengan Mitha.


Mitha melihat pemandangan sekeliling banyak sekali pertokoan yang terlihat di samping mobil, tanpa sadar ia ingat waktu dulu bersama bram, ia dibonceng Bram naik sepeda motor muter-muter mencari sandal yang ukurannya 42, dari toko kw toko yang ia singgahi tak kunjung mereka dapatkan.


"Mas itu kaki apa gajah sih, masak muter dari tadi ga ketemu?" tanya mitha kesal


"Ya sabar Tha, memang jarak ukuran segitu kalaupun ada juga sedikit pasti cepst habis." jawab Bram.


"Di mall pasti ada kan Mas?" tanya Mitha lelah


"Ga ada kosong kemarin sudah muter-muter ndak ada, ada yang ukuran segitu tapi ga muat," jawab Bram pada Mitha.


"Yaelahh Mas ada-ada saja, tuh masih ada satu toko lagi yuk kesana?" sambil meninum es dawet kesukaan Mitha.


"Ayo deh, nanti kalau ga ada kita pulang saja ya?" Bram mengikuti Mitha berjalan.


"Iya iya lah setengah hari muter-muter ndak dapet capek tau!" ucap Mitha kesal.


"Iya nanti sampai rumah Mas pijitin dechh,"


Air mata Mita kembali menetes dipipi, sungguh kenangan itu begitu menyakitkan, di balik sepion depan Fiko memperhatikan mbakyu nya sedang bersedih lagi.

__ADS_1


Next....


tinggalkan like komen ya🙏


__ADS_2