Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Berbohong


__ADS_3

Lani benar-benar merasa menyesal karena dirinya tidak dapat mengenali Lian sang adik. Hatinya memang sempat bergetar saat melihat wajah pemuda itu, tapi dia hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Seharusnya dia tidak mengabaikan perasaan itu, nalurinya sebagai seorang kaka sempat naik kepermukaan, tapi otak kecilnya menolak rasa itu, dirinya berpikir bahwa tidak mungkin sang adik tumbuh menjadi seorang pemuda urakan bahkan terlihat seperti seorang preman.


"Sebenarnya kaka kenapa sih? Apa kaka kenal sama kaka yang tadi itu?" tanya Naila yang masih diliputi berbagai tanda tanya.


"Eu ... Ti-dak ko. Lebih baik kita pulang sekarang, Mommy sama Daddy pasti nungguin kita di rumah. Kita perginya udah kelamaan lho."


"Hmm! Iya juga ya, aku juga lapar, kak. Ayo kita pulang, aku pengen makan masakan Nenek."


Lani menganggukkan kepalanya. Dia pun menggenggam erat telapak tangan Naila sang adik bungsu yang saat ini masih berusia 10 tahun dan duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Tatapan mata Lani menatap lurus ke depan, tapi sebenarnya pikiran gadis itu melayang memikirkan adik kesayangannya yang bernama Lian.


'Kamu di mana, Dek? Maafkan kaka karena tidak segera mengenali kamu tadi,' batin Lani, dia mengedarkan pandangan matanya menatap sekitar, sampai akhirnya tiba di depan mobil lalu masuk ke dalamnya kemudian.


.


Sesampainya di rumah nenek Anisa.


"Astaga kalian kemana saja? Kenapa baru pulang? Apa kalian tahu Mommy khawatir sekali, Nak?" tanya Alena seketika memuntahkan kekesalannya ketika melihat kedatangan kedua putrinya.


"Maaf, Mom. Tadi kami jalan-jalannya agak jauhan, iya 'kan Nai?" jawab Lani tersenyum cengengesan seraya mengedipkan satu matanya.


'Maafkan aku, Mom. Aku terpaksa berbohong, aku rasa belum saatnya Mommy tahu tentang hal ini, tapi aku janji akan membawa Dede Lian pulang. Aku tahu Mommy juga sangat merindukan dia,' batin Lani merasa bersalah sebenarnya.


"I-iya, Mom. Tadi kaka Lani membawa aku jalan-jalan, pemandangan di desa indah sekali ternyata hehehehe!" jawab Naila seraya tersenyum cengengesan.


"Ya udah sekarang kamu masuk dan makan, nenek udah masakin makanan kesukaan kamu di dalam," pinta Alena kemudian.


"Baik, Mom. Kebetulan aku juga lapar banget ini. Aku masuk dulu, Mom."


Alena menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Naila segera masuk ke dalam rumah, sementara Lani masih berdiri di hadapan ibunya seolah ada yang ingin dia sampaikan. Lani menatap lekat wajah sang ibu membuat Alena seketika merasa heran.

__ADS_1


"Kamu kenapa liatin Mommy kayak gitu?" tanya Alena mengerutkan kening.


"Hah? Eu ... Nggak ko, aku gak apa-apa."


"Jujur sama Mommy, sebenarnya kamu habis dari mana sih? Jangan bilang kalau kamu--"


"Huaaaa! Aku lelah sekali, nanya-nanyanya nanti lagi aja ya, Mom. Aku ngantuk banget, lelah juga," sela Lani dengan sengaja, menurutnya lebih baik dia menghindar dari pada harus berbohong lagi kepada sang ibu.


"Hmm! Dasar, ya jelas kamu pasti lelah. Kalian langsung pergi tadi. Sekarang masuk, bersih-bersih lalu makan dan istirahat."


"Baik, Nyonya besar," jawab Lani setengah bercanda.


Alena mengacak rambut panjang sang putri seraya tertawa kecil. Keduanya pun berjalan masuk ke dalam rumah secara bersamaan seraya bergandengan tangan. Bagi Alena, putri sulungnya ini bukan hanya seorang anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya, tapi dia juga teman, sahabat bahkan sewaktu-waktu bisa bersikap seperti seorang adik perempuan baginya. Alena begitu menyayangi Lani lebih dari apapun yang ada di dunia ini bahkan melebihi rasa sayangnya kepada nyawanya sendiri.


.


Keesokan harinya.


"Aku mau pergi ke suatu tempat, Dad. Aku janji gak akan lama ko, boleh ya, please! Daddy 'kan baik hati dan tidak sombong, hehehe!" Lani mencoba untuk merayu sang ayah seraya tersenyum cengengesan.


"Hmmm! Dasar kamu, pandai banget merayu Daddy. Ya sudah kamu boleh keluar, tapi gak boleh pulang malam-malam, oke?"


"Siap, komandan. Aku janji akan pulang sebelum jam 6 sore," jawab Lani tersenyum ceria seperti biasanya.


Alvin tersenyum kecil, dia pun menyerahkan kunci mobil kepada sang putri. Lani sudah dia anggap seperti putrinya sendiri. Baginya, tidak ada batasan antara dirinya dan putri sambungnya. Gadis ini adalah putri kandung baginya. Begitupun sebaliknya.


"Aku berangkat dulu, Mom, Dad," teriak Lani sesaat sebelum dirinya masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati, jangan ngebut-ngebut. Ingat pesan Daddy-mu, jangan pulang lebih dari jam 6 sore!" jawab Alena dengan nada suara tinggi.

__ADS_1


"Siap, Mom!"


Alena melambaikan tangannya. Dia menatap lekat mobil yang dikendarai oleh sang putri. Dirinya masih merasa ada yang aneh dengan sikap Lani. Dari semenjak mereka tiba di sana, Lani terlihat berbeda dan seperti sedang melakukan sesuatu di belakangnya.


'Sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan di belakang Mommy, Nak? Apa diam-diam kamu sering mengunjungi ayah kandungmu?' batin Alena diliputi berbagai tanda tanya.


.


Ckiiit!


Mobil yang dikendarai oleh Lani berhenti tepat di tepi jalan. Dia menatap ke arah samping di mana hamparan pemakaman membentang luas, seluas jarak mata memandang. Ya ... Dia berada di area pemakaman di mana sang ayah di kebumikan, atas arahan dan petunjuk sang nenek akhirnya dia bisa berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir mendiang Alviano ayah kandungnya.


Ceklek!


Pintu mobil pun di buka, Lani keluar dari dalamnya kemudian. Dia pun menatap sekeliling seraya menghela napas panjang. Kenapa dirinya harus bertemu dengan batu nisan sang ayah? Mengapa dia tidak di beri kesempatan bahkan untuk yang terakhir kalinya melihat wajah Alviano ayah kandungnya?


"Aky datang, Dad. Maaf karena aku datang terlambat," gumamnya kemudian.


Gadis yang tahun ini genap berusia 20 tahun itu mulai berjalan memasuki area pemakanan. Rerumputan berwarna hijau nampak menghampar di antara gunungan tanah lengkap dengan masing-masing batu nisan bertuliskan nama mendiang. Sampai, akhirnya tatapan matanya tertuju pada batu nisan dengan tulisan nama sang ayah, yaitu Alviano.


Kedua kaki Lani sontak berhenti lalu berjongkok tepat di samping batu nisan dengan tubuh yang tiba-tiba saja terasa gemetar. Kedua matanya menatap batu nisan tersebut dengan perasaan hancur.


"Daddy!" Kedua mata Lani terpejam sempurna, seketika itu juga buliran air mata berjatuhan membasahi wajahnya kini. Rasanya sesak, sangat sesak hingga dia harus menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum dia akhirnya meneruskan ucapannya.


"Maaf karena aku datang terlambat, Dad. Maaf juga karena aku telah menghabiskan separuh usiaku dengan membenci Daddy. Sekali lagi aku minta maaf. Aku sayang sama Daddy, hiks hiks hiks!" tangis Lani semakin lirih bahkan sesenggukan terlihat terpuruk dan juga begitu terluka.


"Permisi, Anda siapa ya? Kenapa Anda menangis di sini?"


Suara seorang laki-laki seketika mengejutkan Lani. Gadis itu sontak mendongakkan kepala menatap seorang pemuda yang saat ini berdiri tepat di sampingnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2