Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Nuri


__ADS_3

Fazril semakin mempercepat langkah kakinya. Baru kali ini dia di buat gugup oleh seorang wanita, terlebih wanita itu hanya berprofesi sebagai asisten rumah tangga, sangat jauh dari kriteria idealnya selama ini. Namun, jantungnya masih saja berdetak dengan sangat kencang, dia pun merasa ada yang aneh dengan perasaanya sekarang. Fazril benar-benar di buat bingung.


Bruk!


Tubuh Fazril tiba-tiba saja menabrak seseorang. Tubuhnya memang tidak sampai tersungkur di atas lantai, tapi hal itu sukses membuat laki-laki itu merasa terkejut bukan kepalang.


"Astaga, Fazril. Ada apa sama kamu? Memangnya kamu habis melihat hantu apa?" tanya Ibu berdiri tepat di depan sang putra.


"Maaf, bu. Saya gak sengaja, eu ... Saya ke kamar dulu ya," jawab Fazril dengan napas yang tersengal-sengal lalu berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar pribadinya.


"Ada apa dengan anak itu? Apa dia masih syok karena akan di jodohkan dengan wanita pilihan ayahnya? Ck ... Ck ... Ck ...!" Ibu berdecak seraya menggelengkan kepalanya menatap kepergian Fazril dengan perasaan heran.


Wanita paruh baya itu pun berjalan ke arah ruang makan di mama Nuri sedang membereskan sisa makan malam di atas meja. Nyonya Laila tersenyum lebar. Dia benar-benar merasa puas dengan kerja asisten rumah tangganya yang baru itu.


"Selamat malam Nyonya," sapa Nuri ramah dan sopan dengan logat jawanya yang medok.


"Selamat malam juga. Masakan kamu benar-benar enak, Nuri. Rasanya tidak kalah dengan masakan-masakan di Restoran," puji Nyonya Laila juga tersenyum ramah.


"Terima kasih, Nyonya. Kebetulan di kampung saya pernah bekerja di salah satu rumah makan sebagai juru masak, lumayan buat nambah-nambah pengalaman," jawab Nuri masih dengan logat khasnya.


"Maksudnya Chef?"


"Bukan-bukan, mana mungkin orang seperti saya jadi seorang Chef. Cuma juru masak biasa, Nyonya."


"Oh begitu, kenapa kamu tidak mengikuti ajang-ajang pencarian bakat saja, semacam master Chef gitu?"


"Hah! Hahahaha! Nyonya bisa saja, saya cuma lulusan esempe, Nyonya. Mana mungkin saya berani bersaing dengan orang yang berpendidikan tinggi seperti mereka-mereka itu. Saya tidak percaya diri, wong saya cuma orang kampung. Saya cuma orang yang tidak punya, Nyonya." jawab Nuri selagi tangannya masih bergerak membereskan sisa piring di atas meja.


"Hmm! Jangan terlalu rendah diri, siapa tahu suatu saat kamu akan dinikahi sama orang hebat, orang kaya. Drajat kamu juga akan naik nanti."


"Amin, Nyonya. Semoga saja. Saya permisi Nyonya, saya mau cuci piring di belakang," pamit Nuri dengan membawa piring kotor yang dia tumpuk di telapak tangannya.


"Oke, kamu boleh beristirahat setelah ini."


"Matur suwun, Nyonya."

__ADS_1


Nyonya Laila hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Dia menatap gadis belia yang masih berusia sekitar 20-han itu. Gadis itu memakai pakaian seadanya, bahkan terlihat lusuh. Namun, wajah Nuri terlihat cantik alami tanpa polesan make up sedikit pun.


"Gadis itu cantik, dia juga tidak malu bekerja sebagai asisten rumah tangga. Hmm! Semoga dia betah bekerja di rumah ini," gumam Nyonya Laila berjalan keluar dari dalam ruang makan.


.


Keesokan harinya.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi, Tuan. Saya mau mengantarkan pakaian bersih," ucap Nuri berdiri tepat di depan pintu kamar Fazril, putra dari majikannya.


"Masuk saja!" Teriak Fazril dari dalam sana.


Ceklek!


Pintu pun di buka lebar. Nuri masuk ke dalam kamar membawa keranjang berisi pakaian yang baru saja dia strika. Gadis itu semakin memasuki kamar seraya menatap sekeliling. Sampai akhirnya dia mendapati sang pemilik kamar yang saat ini sedang berdiri tepat di depan cermin. Fazril baru saja selesai berpakaian dan sudah siap untuk bekerja di salah satu kantor pemerintahan di kota tersebut.


"Maaf, Tuan. Pakaiannya mau di simpan di mana ya?" tanya Nuri terlihat bingung.


"'Kan Tuan sendiri yang meminta saya untuk masuk?"


"Ikh ... Logat kamu itu lho, saya geli mendengarnya!"


"Eu ... Mohon maaf, Tuan. Orang jawa memang memiliki logat seperti ini. Saya minta maaf kalau gaya bicara saya membuat Tuan merasa tidak nyaman."


"Sangat! Saya merasa sangat tidak nyaman! Lebih baik sekarang kamu keluar, oke?"


Nuri seketika mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa. Dia pun berbalik hendak keluar dari dalam kamar. Ternyata, Tuan mudanya tidak sebaik yang dia bayangkan. Padahal wajahnya lumayan tampan.


'Apa orang-orang kaya selalu besikap seperti ini? Padahal Nyonya Laila baik lho, kenapa putranya juteknya minta ampun,' batin Nuri.


"Tunggu!"


Nuri sontak menghentikan langkah kakinya.

__ADS_1


"Kamu mau ke mana?" Tanya Fazril ketus.


"Lho, tadi 'kan Tuan yang mengusir saya? Eu ... Maksud saya, Tuan sendiri yang meminta saya untuk keluar dari dalam kamar ini," jawab Nuri mengerutkan kening.


"Itu pakaian saya mau di bawa ke mana? Masukan dulu ke dalam lemari, gimana sih?"


'Ya Tuhan, kenapa saya jadi ketus kayak gini. Saya benar-benar gugup sebenarnya. Ada apa dengan diri saya,' batin Fazril merasa heran dengan diri sendiri.


"O iya, saya lupa. Hehehehe! Permisi, Tuan," jawab Nuri sedikit membungkukkan tubuhnya saat melintas tepat di depan majikannya itu.


"Jangan salah ya. Celana simpan di lemari sebelah kanan, baju-baju di lemari sebelah kiri. Yang rapi, jangan sampai kusut. Saya tidak suka pakaian saya kusut sedikit pun, paham?"


"Inggih, Tuan."


Fazri hanya tersenyum sinis. Dia pun kembali menatap tubuhnya dari pantulan cermin. Merapikan dasi berwarna hitam yang dia kenakan. Tidak lupa laki-laki itu pun memakai jas dengan warna yang sama.


"Maaf, Tuan. Kalau pakaian dalam tempatnya di mana ya?" tanya Nuri dengan wajah polosnya menoleh dan menatap wajah Fazril membuat laki-laki itu seketika membulatkan bola matanya merasa terkejut.


"Pakaian dalam?" tanya Fazril sontak menoleh dan menatap tubuh Nuri yang saat ini sedang berjongkok tepat di depan lemari, keranjang berisi beberapa buah pakaian dalam miliknya nampak dia letakan di atas pangkuannya.


"Astaga, pakaian dalam saya! Kenapa bisa ada pada kamu?" tanya Fazril berjalan menghampiri lalu meraih keranjang tersebut dari dalam pangkuannya gadis itu merasa malu.


"Tuan kenapa?"


Fazril tiba-tiba saja gelagapan merasa gugup. Dia pun memalingkan wajahnya ke arah samping.


"La-lain kali, saya mau bibi yang mengurus semua pakaian saya. Dia juga yang harus mengantarkannya ke kamar saya. Kamu! Kamu di larang keras masuk ke dalam kamar ini, paham?!"


Nuri menunduk sedih, sebenarnya apa salah dia sehingga Fazril bersikap ketus bahkan berteriak kepadanya? Hati seorang Nuri seketika diliputi berbagai tanda tanya juga merasa kecewa.


"Kenapa diam saja? Cepat keluar dari kamar saya!"


"Ba-baik, Tuan. Sa-ya permisi."


'Ya Tuhan, salah saya apa? Kenapa Tuan begitu marah kepada saya?' batin Nuri.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2