
Alena berjalan di koridor bersama Lian sang putra menuju ruang kelas di mana dia akan belajar pagi ini. Dirinya menjadi pusat perhatian tentu saja. Para mahasiswi dan mahasiswa di sana menatap keduanya dengan tatapan mata heran. Tidak sedikit dari mereka yang mencibir apa yang dilakukan oleh wanita itu, membawa seorang anak ke kampus adalah hal yang tidak biasa.
"Ngampus ko bawa anak? Udah mendingan diam saja di rumah, fokus ngurus anak-anak sama suami kamu. Ups! Dia 'kan janda! Hahahaha!" Celetuk salah satu mahasiswi saat Alena melintas tepat di depan wanita itu.
Alena diam-diam mengepalkan kedua tangannya. Namun, dia sama sekali tidak menanggapi ucapkan wanita itu yang terkesan menyindir secara terang-terangan, karena mengatakan hal itu tepat di depannya. Alena memejamkan kedua matanya, mencoba untuk menekan emosinya dalam-dalam.
Dia pun hendak masuk ke dalam ruangan kelas, tapi Alena seketika menghentikan langkah kakinya saat mendengar namanya di panggil dengan nada suara lantang, dan dia kenal betul dengan suara tersebut.
"Alena!"
Wanita itu sontak menoleh, hal yang sama pun dilakukan oleh Lian. Anak itu nampak memasang wajah masam ketika melihat Alvin berlari menghampiri mereka berdua. Dia bahkan memeluk kaki ibunya seraya melayangkan tatapan mata tajam.
"Mas Alvin?" sapa Alena dengan wajah ceria.
Alvin menatap wajah Lian sesaat setelah dia tiba di hadapan mereka berdua. Rasa canggung itu pun begitu terasa pada awalnya. Namun, dia mencoba untuk bersikap seramah mungkin. Alvin menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum akhirnya menyapa calon putra sambungnya itu.
"Eh, ada Lian. Apa kabar sayang?" sapa Alvin kemudian.
Lian diam tidak menanggapi, dia semakin merekatkan lingkaran tangannya dan memeluk kedua kaki sang ibu.
"Mas Alvin ko ada di kampus? Bukannya hari ini gak ada jadwal kelas ya?" tanya Alena.
"Saya sengaja datang ke kampus karena tahu bahwa Lian akan datang. Lian sayang, main sama Om yu? Kita jalan-jalan, Om bakalan beliin kamu mainan, mau?"
Lian menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Gak usah, Mas. Lian gak akan mau, biar aku bawa dia ke kelas."
"Hmm! Apa akan baik-baik saja kalau dia di bawa ke kelas? Sayangnya bukan jadwal pelajaran saya."
"Lian, sayang. Main sama Om Alvin ya?" Alena mencoba untuk membujuk sang putra, tapi anak itu tetap menggelengkan kepalanya.
"Eu ... Om mau jalan-jalan ke time zone, kebetulan Om gak ada teman. Om juga mau memberi robot-robotan yang sama seperti yang waktu itu kamu beli, tapi Om lupa robot-robotannya seperti apa."
Lian memang masih terdiam, tapi anak itu mulai menatap wajah Alvin. Tatapan mata anak itu pun tidak setajam sebelumnya. Sepertinya dia mulai menyimak apa yang diucapkan oleh kekasih dari ibundanya itu.
"Om mau beli robot yang sama seperti aku?" Tanya Lian akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Betul, kamu mau menemani Om untuk memberlinya ke mall? Hmm! Robot itu bagus banget, sebenarnya Om ingin membelinya waktu itu ketika ke mall sama kamu dan kaka Lani."
Lian kembali terdiam. Bola matanya nampak bergerak ke kanan dan ke kiri seolah sedang berpikir. Lingkaran tangannya pun mulai melonggar.
Lian akhirnya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis. Hal itu tentu saja membuat Alena merasa senang. Kekasihnya ternyata pandai dalam mengambil hati putranya.
"Lian beneran mau ikut sama Om Alvin?" tanya Alena berjongkok tepat di depan putranya.
"Iya aku mau, tapi sebentar aja ya Om. Aku gak mau lama-lama sama Om. Aku 'kan gak suka sama Om," jawab Lian penuh penekanan.
"Oke siap. Kita langsung kembali ke sini kalau Om sudah selesai membeli apa yang Om inginkan, deal?"
Lian mengangguk seraya tersenyum tipis-tipis.
__ADS_1
"Kami pergi dulu, Len."
"Apa Mas akan baik-baik saja membawa Lian ke luar?" tanya Alena sedikit banyaknya merasa khawatir.
"Gak apa-apa, Lian 'kan anak yang baik. Iya 'kan?"
Lian sontak kembali menganggukkan kepalanya, kali ini seraya tersenyum lebar.
"Lian janji jangan rewel ya. Nurut sama Om Alvin, jangan minta yang macam-macam, oke?"
"Baik, Mommy. Aku janji gak akan rewel? Aku juga gak akan meminta yang macam-macam kepada Om ini."
"Sayang, nama Om, Alvin. Panggil Om dengan sebutan Om Alvin, bisa?"
"Gak mau!"
"Hmm! Ya udah gak apa-apa, kita berangkat sekarang?"
"Oke! Mommy, aku pergi sama Om ini dulu ya. Aku gak akan lama ko, aku akan kembali lagi ke sini. Mommy gak apa-apa 'kan aku tinggal?" celoteh Lian dengan suara khas anak kecil, terdengar begitu menggemaskan.
"Hmm! Lucu sekali sih putra Mommy. Kalian hati-hati di jalan ya," pesan Alena menatap kepergian 2 laki-laki yang sangat dia sayangi saat ini.
Hati seorang Alena benar-benar merasa lega. Semoga saja ini adalah awal yang baik untuk hubungan mereka. Harapan terbesarnya saat ini adalah, semoga saja putra bungsunya itu mulai membuka hati untuk menerima Alvin sebagai calon ayah sambungannya.
'Mommy berharap kamu bisa menerima Om Alvi, Nak. Membuka hati dan bisa merasakan ketulusan Om Alvin,' batin Alena penuh harap. Dia pun menatap kedua laki-laki itu sampai benar-benar menghilang di balik tembok.
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...