Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Pembuktian Cinta


__ADS_3

"Sttt!" pinta Fazril meletakan jari telunjuknya di bibir Nuri agar gadis itu tidak mengatakan apapun.


Suasana seketika terasa mencekam bagi keduanya. Tubuh Nuri bahkan terlihat gemetar, keringat dingin membasahi pelipisnya kini. Berbeda dengan Nuri, Fazril terlihat tenang. Baginya, tidak masalah jika sang ibu mendapati dirinya sedang berada dalam kamar sang pembantu, jika dia di tuntut untuk menikahi gadis ini pun laki-laki itu akan melakukannya dengan senang hati karena memang itu yang dia harapkan, tapi tidak dengan Nuri.


Jika sampai Nyonya besarnya memergoki mereka sedang berada di dalam kamar yang sama seperti ini, maka sudah dapat di pastikan bahwa pekerjaannya akan hilang. Dirinya pasti akan di pecat saat itu juga. Nuri memejamkan kedua matanya, dengan hanya membayangkannya saja membuat perasaanya merasa tidak karuan.


Sementara itu di luar sana. Nyonya Inggrid hendak kembali mengetuk pintu kamar di mana Nuri dan juga Fazril berada saat ini, tapi dia segera mengurungkan niatnya saat melihat Bibi keluar dari dalam kamar yang berada tepat di sebelah kamar gadis itu.


"Nyonya? Sedang apa Nyonya malam-malam begini di sini? Apa ada yang harus saya kerjakan?" tanya Bibi membungkuk sopan.


"Apa Nuri sudah tidur, Bi?" tanya Nyonya Inggrid masih berdiri di tempat yang sama.


"Nuri sepertinya sudah tidur, Nyonya. Tadi dia mengatakan kepada saya, katanya dia sedang kurang enak badan, Nyonya," jawab Bibi melirik sejenak ke arah pintu kamar, lalu kembali mengalihkan padangan matanya kepada sang Nyonya besar.


"Hmm! Begitu rupanya. Ya sudah, tolong buatkan saya mie rebus ya, Bi. Pakai irisan cabe rabe rawit yang banyak. Gara-gara si Fazril, saya jadi tidak bisa makan dengan tenang di Restoran. Masa dia pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada calon besan saya. Kesel deh rasanya, heuuh! Sebenarnya dia mau cari perempuan yang seperti apa lagi sih? Masa si April yang sempurna itu aja dia tetap gak mau, kesel deh!" gerutu Nyonya Inggrid terlihat kesal, wanita paruh baya itu pun pergi begitu saja dengan wajah masam.


"Ba-baik, Nyonya. Akan saya buatkan," jawab Bibi, kembali melirik ke arah pintu kamar seraya menggelengkan kepalanya.


.


Di dalam kamar.


"Ded Azril pergi begitu saja dari Restoran?" tanya Nuri setelah mendengar apa yang baru saja di ucapan oleh majikannya di luar kamar.


"Betul!" jawab Fazril singkat.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena hanya kamu wanita yang saya cintai, Nuri. Saya memang terlambat menolak perjodohan ini, tapi saya akan segera mengatakan kepada ayah dan ibu bahwa saya tidak tertarik dengan wanita itu. Yang saya inginkan hanya kamu."


Nuri diam seraya menundukkan kepalanya. Dia mengigit bibir bawahnya keras, jika Fazril masih bersikap seperti ini bisa-bisa dirinya luluh juga nanti. Nuri bahkan tidak tahu apakah dia harus merasa senang atau malah sebaliknya saat mendengar bahwa laki-laki ini menolak perjodohan itu.


"Kenapa diam saja? Apa ini masih belum cukup untuk membuktikan perasaan saya kepada kamu?"


"Den, aku--"


"Tunggu, pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan ejaan, saya tidak mau mendengar kamu berbicara menggunakan bahasa Jawa karena saya tidak mengerti, oke?" sela Fazril membuat Nuri diam-diam menahan senyuman di bibirnya.


"Malah senyum-senyum kayak gitu lagi. Memangnya saya lucu apa? Saya benar-benar serius, Nuri. Jika kamu meminta saya untuk menyelami lautan hanya untuk membuktikan perasaan saya kepada kamu, akan saya lakukan," ucap Fazril terlihat meyakinkan.


"Ya sudah lakukan sekarang?"


"Yang Den Fazril katakan tadi."


"Menyelami lautan?"


Nuri menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.


"Ya ... Nggak sekarang juga kali, ini 'kan udah malam. Lagian lautnya juga jauh ko, hehehe!"


"Ya sudah, lebih baik Anda keluar dari kamar aku sebelum Nyonya melihat kita. Aku ndak mau di pecat, aku masih ingin bekerja di sini."

__ADS_1


"Tidak, saya tidak akan keluar dari sini sebelum kamu menerima cinta saya," jawab Fazril perlahan berjalan semakin mendekat membuat Nuri sontak memundurkan langkah kakinya hingga punggungnya bersandar tembok kini.


"Ko Den Fazril maksa gitu? Terserah aku dong mau menerima atau mau menolak cintanya Aden, itu 'kan hak saya? Gimana sih?" jawab Nuri, menatap wajah sang majikan yang kini berada sangat dekat dengannya. Gadis itu bahkan terpaksa menahan napasnya saat wajah laki-laki itu kian mendekati wajahnya kini.


"Ya, saya memang pemaksa. Kamu harus menerima cinta saya, titik!"


"Kalau saya menerima cinta Den Azril, bagaimana dengan Nyonya dan--"


"Azril lagi," decak Fazril tersenyum kecil.


"Maaf, maksud saya Den Fazril."


"Tidak masalah, terserah kamu saja mau memanggil saya dengan sebutan apapun. Teruskan apa yang ingin kamu katakan tadi."


"Eu ... Apa ya? Saya lupa," ucap Nuri menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali. Dia benar-benar merasa gugup, jantungnya bahkan terasa akan meledak karena laki-laki ini kian lekat menatap wajahnya dalam posisi yang sangat dekat.


"Kamu terlalu bertele-tele, Nuri. Kamu cukup mengatakan iya saja ko susah banget," ujar Fazril, seketika itu juga dia meletakan kedua telapak tangannya di kedua sisi pipi gadis itu lalu mendaratkan bibinya tanpa izin.


Nuri membulatkan bola matanya. Hatinya menolak, tapi tubuhnya diam membeku dan menerima begitu saja saat bibir laki-laki itu terasa hangat menyentuh bibirnya kini. Gadis itu bahkan memejamkan kedua matanya tanpa sadar merasa bahagia.


"I love you," bisik Fazril melepaskan tautan bibirnya, tapi wajahnya masih berada sangat dekat dengan gadis itu.


"I love you too," jawab Nuri, antara sadar dan tidak sadar, sepertinya dia tidak mampu lagi menahan gejolak di dalam jiwanya kini.


Fazril kembali mendaratkan bibirnya membuat Nuri secara refleks melingkarkan kedua tangannya di leher laki-laki itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2