Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Dendam


__ADS_3

"Maafkan saya, Alena. Saya lengah dalam hal menjaga Lani. Saya tidak tahu bahwa dia akan kabur seperti ini, saya benar-benar minta maaf," ujar Alviano merasakan panas di kedua sisi rahangnya kini.


"Maaf? Sudah berapa kali kamu mengatakan kata maaf, hah? Kamu tahu, jika kata maaf di ucapkan secara berulang-ulang maka kata maaf itu tidak akan ada artinya lagi, dan aku tidak akan pernah memaafkan kamu, Alviano. Aku juga tidak akan pernah sudi kembali rujuk sama kamu!" teriak Alena, bola matanya nampak memerah meskipun tidak ada lagi air mata di sana.


"Semua ini salah kamu juga, seandainya saja kamu mau kembali rujuk dengan saya, maka kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Lani pergi karena mencari kamu dan mengira bahwa kamu masih berada di kota ini. Kamu juga salah, Lena."


"Ya aku juga salah, aku salah karena tidak merebut Lani secara paksa dari kamu. Seharusnya aku bunuh saja kamu, brengsek. Laki-laki brengseeeeeek!" Alena semakin hilang kendali.


Alvin yang juga berada di sana mencoba untuk menenangkan Alena. Dia meraih pergelangan tangan wanita itu lalu mengusap punggungnya lembut dan penuh kasih sayang. Hal itu tentu saja membuat Alviano terbakar api cemburu.


"Tenang, Lena. Dari pada kita terlalu lama berada di sini, lebih baik kita mencari Lani sekarang. Hari sudah semakin sore, Lena," ujar Alvin lembut.


Alviano yang saat ini sedang terbakar api cemburu tiba-tiba saja berjalan menghampiri Alvin lalu mencengkeram kerah pakaian yang dikenakan oleh laki-laki itu. Rahangnya mengeras, bola matanya memerah penuh emosi.


Sedetik kemudian.


Buk!


Dia mendaratkan kepalan tangannya di wajah Alvin keras dan sekuat tenaga. Laki-laki itu seketika tersungkur di atas rerumputan lengkap dengan bibir yang mengeluarkan darah segar. Alena yang menyaksikan hal itu tentu saja berteriak histeris memekikkan telinga.


"Haaaa! Apa yang kamu lakukan, Alviano? Dasar laki-laki gilaaaaaa!"


Alviano sama sekali tidak mengindahkan teriakan Alena. Dia kembali menghampiri Alvin yang saat ini masih merasakan rasa sakit di wajahnya bahkan belum sempat bangkit untuk sekedar berdiri tegak.

__ADS_1


Buk!


Plak!


Bruk!


Alvin kembali menjadi bulan-bulanan Alviano. Dia melampiaskan kekesalannya kepada orang yang sebenarnya tidak memiliki kesalahan apa pun di sini. Hatinya benar-benar telah di butakan oleh rasa cemburu dan emosi, membuatnya kehilangan anak sehatnya kini.


Alvin yang sempat mendapatkan hantaman yang bertubi-tubi akhirnya melayangkan kakinya dan mendarat tepat di perut Alviano keras. Laki-laki itu terjungkal dan mendarat di atas rerumputan.


Bruk!


"HENTIKAAAAN!" Teriak Alena memekikkan telinga. Dia menghampiri Alvin dan membantunya untuk berdiri tegak. Wanita itu pun berdiri tepat di depan Alvin ketika Alviano bangkit dan kembali hendak membalas.


"Cukup, Lena. Biar saya saja yang berbicara dengan laki-laki brengsek ini," ujar Alvin berjalan mendekati Alviano tanpa rasa takut sedikitpun. Tatapan matanya nampak lekat menatap wajah laki-laki itu kini. Tapi wajahnya terlihat begitu tenang.


"Dengarkan saya Alviano. Saya akan melaporkan kejadian ini kepada pihak berwajib. Kamu tidak hanya kehilangan mantan istri, anak-anakmu, tapi juga kebebasanmu. Kamu akan segera mendekap di penjara, Alviano," tegas Alvin penuh penekanan, dia pun meraih pergelangan tangan Alena lalu membawanya pergi dari tempat itu.


Alviano hanya bisa menatap kepergian mereka dengan perasan kesal. Tanpa sadar, rasa dendam itu pun mulai menyelimuti relung hatinya kini. Laki-laki itu mengepalkan kedua tangannya kemudian.


'Kalau saya tidak bisa memiliki kamu lagi, maka orang lain pun tidak ada yang boleh memilikimu, Alena,' batin Alvin penuh dendam.


* * *

__ADS_1


Avin dan Alena berkendara tidak tentu arah mencari keberadaan Lani sang putri. Mereka belum melaporkan hal ini kepada pihak berwajib karena harus menunggu selama 2x24 jam baru polisi akan menindaklanjuti tentang laporan anak hilang.


Hari semakin gelap saja kini, malam pun mulai datang untuk menggantikan siang. Jalanan benar-benar gelap karena minimnya pencahayaan membuat Alena semakin merasa khawatir tentu saja, selain itu mereka pun semakin kesulitan dalam mencari keberadaan Lani sang putri.


"Gimana ini, Mas? Sudah malam kita masih belum menemukan Lani? Dia ada di mana sekarang? Ya Tuhan, lindungilah anakku," lirih Alena menatap sekeliling berharap bisa melihat putrinya antara kegelapan jalan.


"Semoga saja Lani bertemu dengan orang baik. Dia anak yang pintar, saya yakin Lani tidak akan kenapa-napa, dia pasti baik-baik saja. Kamu yang sabar ya, besok pagi kita laporkan kehilangan Lani kepada pihak kepolisian," jawab Alvin mencoba untuk menenangkan, dia pun menoleh dan menatap wajah Alena sekejap lalu kembali menatap jalanan.


"Semoga saja. Aku benar-benar merasa khawatir, Mas. Kemana lagi kita harus mencari dia?"


Alvin tidak mengatakan apapun lagi. Dia tidak tahu harus berkata apa, jujur dirinya pun merasa bingung harus bagaimana lagi cara menenangkan Alena. Laki-laki itu pun merasa khawatir dengan keselamatan Lani sebenarnya.


'Lani, di mana pun kamu berada saat ini, Om harap kamu baik-baik saja. Om sama Mommy akan segera menemukan kamu,' batin Alvin seketika membayangkan wajah cantik gadis kecil itu. Gadis yang selalu memanggilnya dengan sebutan Om ganteng, yang keberadaan masih belum di ketahui sampai saat ini.


* * *


Sementara itu di tempat yang berbeda. Sebuah toko kecil di pinggir jalan baru saja di tutup oleh pemiliknya. Wanita paruh baya nampak keluar dari dalam toko hendak pulang ke rumahnya. Namun, wanita itu seketika merasa terkejut karena mendapati seorang anak kecil tertidur tepat di depan toko.


"Astaga, Dek. Kamu siapa, kenapa kamu tidur di sini?"tanya ibu tersebut, menghampiri dan berjongkok tepat di depan anak itu.


"Dek! Bangun, Dek. Kamu baik-baik saja?" tanyanya lagi menggoyangkan tubuh gadis itu yang sama sekali tidak bergerak sedikit pun membuat ibu tersebut merasa panik tentu saja.


BERSAMBUNG

__ADS_1


...****************...


__ADS_2