
"Jangan sembarangan kamu Putra. Meskipun aku janda, tapi aku bukan wanita murahan. Memangnya kenapa kalau aku janda? Apa kamu pikir karena aku janda, aku tidak boleh jual mahal?" tegas Alena merasa tidak terima.
"Alah, jangan so kamu, Alena! Aku tahu wanita seperti apa kamu ini. Masa usia 23 tahun udah jadi janda, palingan kamu nabung duluan, iya 'kan?"
Alena melayangkan telapak tangannya ke udara hendak menampar laki-laki bernama Putra, tapi wanita itu seketika menghentikan gerakan tangannya saat mendengar suara laki-laki yang sangat dia kenal. Suaranya menggelegar juga terdengar menahan rasa geram.
"Mas Alvin?" gumam Alena.
Laki-laki itu berjalan menghampiri mereka berdua. Wajahnya terlihat lebih tampan dari biasanya tanpa mengenakan kaca mata yang selalu dia pakai selama ini. Wajah Alvin bahkan terlihat bercahaya, sinar matahari seakan memancar begitu menyilaukan dari belakang tubuhnya kini.
Alena membuka kedua matanya lebar. Dia seperti sedang melihat seorang pangeran dari kerajaan. Hatinya pun benar-benar merasa senang bukan kepalang, dia sudah sangat merindukan laki-laki ini.
"Kata siapa kamu boleh menghina seorang janda? Jaga mulut kamu, Putra. Kalau tidak, saya akan memperpanjang masa kuliah kamu dari yang seharusnya," tegas Alvin penuh penekanan.
"Maafkan saya, Pak. Saya tidak bermaksud untuk menghina seorang janda," jawab Putra seketika menundukkan kepalanya, tapi diam-diam kedua tangannya mengepal sempurna menahan rasa geram.
"Kalau sekali lagi kamu mengatakan hal seperti itu, saya akan menghukum kamu, paham?"
__ADS_1
Putra menganggukkan kepalanya penuh keterpaksaan. Dia pun sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat sebelum akhirnya berbalik dan berjalan meninggalkan mereka berdua dengan langkah kaki yang tergesa-gesa.
'Awas kamu, Alena. Aku pastikan akan membuat kamu bertekuk lutut kepadaku. Tidak ada yang pernah menolak aku selama ini,' batin Putra diam-diam menyimpan rasa dendam.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Alvin mengusap bahu Alena lembut.
Plak!
Bukannya mendapatkan jawaban, Alvin malah mendapatkan pukulan di pergelangan tangannya kini. Hal itu membuat Alvin seketika tertawa nyaring juga meringis secara bersamaan.
"Argh! Sakit, Lena. Hahahaha! Kamu kenapa?" Tanya Alvin merasa gemas melihat ekspresi wajah Alena yang saat ini mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa.
"Kamu merindukan saya?"
"Tidak."
"Bohong."
__ADS_1
Alena diam seribu bahasa. Dia masih memalingkan wajahnya ke arah samping, sampai akhirnya laki-laki itu tiba-tiba saja memeluk dirinya erat membuat Alena merasa terkejut.
"Kamu apa-apaan, Pak Alvin? Malu di lihatin mahasiswa lain," tanya Alena mencoba untuk melepaskan diri.
"Gak apa-apa, biar mereka semua tahu bahwa kamu milik saya. Dengan begitu, tidak akan ada yang berani mengganggu kamu lagi seperti yang dilakukan oleh si Putra tadi. Maaf karena saya tidak sempat menghubungi kamu, Lena. Saya hanya ingin menikmati kebersamaan saya dengan ibu," jelas Alvin panjang lebar.
Alena melingkarkan kedua tangannya di punggung Alvin mesra. Keduanya benar-benar sedang dimabuk asmara. Baik Alvin maupun Alena bahkan mengabaikan para mahasiswa dan mahasiswi yang menatap keduanya dengan tatapan mata iri.
"I love janda kesayangan," bisik Alvin.
"I love you too, pak Dosen kesayangan," jawab Alena perlahan melepaskan lingkaran tangannya.
"Kita masuk kelas sekarang? Sudah waktunya jam pelajaran saya," pinta Alvin dan di jawab dengan anggukan oleh Alena sang kekasih tercinta. Keduanya pun berjalan menuju kelas dengan bergandengan tangan.
Diam-diam, laki-laki bernama Putra memperhatikan mereka berdua. Rasa cemburu pun memenuhi hatinya ini. Sebagai putra dari salah satu orang berpengaruh di negeri ini, dia tentu saja merasa tidak terima di tolak oleh wanita seperti Alena.
"Lihat saja, Alena. Aku akan melakukan segala cara agar kamu bisa tunduk dan takluk kepadaku, aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama, itu artinya kamu harus menjadi milikku," gumamnya penuh penekanan.
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...