Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Liburan


__ADS_3

Nuri tersenyum menatap wajah Fazril. Dia berjalan bersama Alena menuju area kolam renang. Gadis itu sudah berganti pakaian. Dress sederhana berwarna merah muda nampak membalut tubuh langsingnya kini.


"Kamu tidak ikut berenang bersama kami?" tanya Alena mencoba untuk menghilangkan batasan di antara mereka. Mengingat status mereka adalah pembantu dan majikan.


"Ndak usah, Non. Saya ndak bisa berenang," jawab Nuri masih merasa segan.


"Jangan panggil aku dengan sebutan Nona lagi. Panggil saja Alena, Mbak 'kan calon kakak ipar saya."


Nuri hanya tersenyum menanggapi dengan wajah memerah merasa malu dan juga canggung tentu saja.


"Walau bagaimana pun aku kagum sama Mbak Nuri. Mbak benar-benar wanita yang luar biasa, Mbak telah menaklukan hati Abang Fazril. Semoga hubungan kalian bisa berjalan lancar sampai ke jenjang pernikahan."


"Amin, Non. Eu ... Maksud saya, A-alena, hehehehe!" jawab Nuri tersenyum cengengesan seraya menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal.


Walau bagaimana pun rasanya masih canggung jika harus memanggil Alena yang notabenenya adalah majikannya sendiri. Meskipun wanita ini adalah calon adik iparnya, tapi dia belum benar-benar menjadi Kaka ipar karena hubungannya dengan laki-laki bernama Fazril belum terikat dengan tali pernikahan.


Nuri tersenyum kecil saat melihat Fazril melambaikan tangannya seraya tersenyum manis menatap wajahnya kini. Sementara Alena mulai berjalan masuk ke dalam kolam, Fazril nampak mulai naik ke permukaan menghampiri kekasihnya. Nuri menatap tubuh setengah polos laki-laki itu, dia pun meraih kimono handuk lalu memberikannya kepada sang kekasih.


"Terima kasih, sayang," ucap Fazril meraih kimono tersebut lalu memakainya kemudian.


"Ish, jangan panggil aku dengan sebutan sayang, malu tau," decak Nuri duduk di kursi kayu, hal yang sama pun dilakukan oleh Fazril kemudian.


"Duduknya jangan terlalu dekat kayak gini, Mas. Malu."


"Astaga! Malu sama siapa sih? Adik saya sudah tahu hubungan kita, suaminya juga. Jadi, gak usah malu-malu lagi ya."


"Tapi tetap saja, malu kalau terlalu dekat kayak gini, Mas," ucap Nuri sedikit memundurkan posisi duduknya.


"Hmm! Baiklah, jika kamu maunya seperti itu," jawab Fazril yang juga mengurai jarak di antara mereka.


"Apa yang di katakan sama Non Alena? Dia pasti terkejut setelah tahu hubungan kita," tanya Nuri menatap Alena dan juga suaminya yang terlihat sedang bermesraan di dalam kolam.


"Jangan panggil dia dengan sebutan Non lagi, dia calon adik ipar kamu lho."


"Non Alena juga meminta aku untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Nona, tapi rasanya canggung sekali, Mas. Aku masih belum terbiasa memanggil Nona Alena dengan sebutan nama saja."


"Gak apa-apa, pelan-pelan saja. Nanti lama-lama juga kamu akan terbiasa."

__ADS_1


"Eu ... Mas Fazril belum menjawab pertanyaan aku lho. Apa yang dikatakan sama Alena setelah tahu tentang hubungan kita?"


"Hmm! Adik saya itu wanita yang baik, dia tidak mengatakan apapun selain mendoakan yang terbaik untuk hubungan kita. Kamu tahu, Alena itu wanita yang kuat. Dia masih tetap berdiri tegak setelah menghadapi berbagai masalah berat di dalam hidupnya."


Nuri tersenyum kecil. Jelas sekali terlihat bahwa kekasihnya ini begitu menyayangi Alena sang adik. Beruntung sekali dia memiliki kaka seperti laki-laki ini dan beruntungnya juga dia karena memiliki kekasih sebaik Fazril Faisal yang tidak lain dan tidak bukan adalah majikannya sendiri.


"Ko malah melamun gitu? Ngelamunin apaan sih? Pengen berbulan madu seperti mereka juga?" tanya Fazril seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Nuri.


"Hah? Hahahaha! Ndak ko, Mas. Aku tidak melamunin apa-apa."


"Saya sudah izin cuti selama 4 hari sama atasan saya di kantor. Saya harap kita bisa menikmati kebersamaan kita di sini."


Nuri mengangguk-angguk kepalanya seraya tersenyum kecil.


.


Keesokan harinya.


"Selamat pagi, Non, Den," sapa Nuri berdiri ruang makan baru saja selesai menyiapkan makanan di atas meja.


"Mbak Nuri masak? Ya ampun, seharusnya Mbak gak usah repot-repot memasak segala? Kita bisa pesan makanan nanti," ucap Alena berjalan menghampiri bersama Lani di dalam gendongannya, juga bersama Alvin sang suami.


"Aku percaya dengan masakan, Mbak Nuri. Selama ini gak pernah mengecewakan kami dalam urusan makanan."


"Mom, aku mau turun," rengek Lani seketika meringsut lalu turun dari dalam gendongan sang ibu.


"Boleh, tapi jangan main jauh-jauh ya."


Lani menganggukkan kepalanya lalu segera berlari menuju area belakang Vila.


"Non, Den. Saya permisi mau mengajak main Non Lani dulu," pamit Nuri berbalik dan hendak pergi.


"Tunggu, Mbak."


Nuri sontak menghentikan langkah kakinya.


"Iya, Non."

__ADS_1


"Jangan panggil aku dengan sebutan Nona. Panggil saja nama aku, Alena," pinta Alena tersenyum ramah.


"Ba-baik, Non. Eh ... Maksud saya A-alena, hehehehe!" jawab Nuri tersenyum cengengesan. Dia pun melanjutkan langkah kakinya. Mengejar Lani yang saat ini berlarian ke sana ke mari.


"Ish, ish, ish! Apa Nuri masak pagi ini?" tanya Fazril berjalan menuju meja makan menatap berbagai makanan yang telah tertata rapi di atas meja.


"Aku juga gak tahu, makanan ini udah tersaji aja di atas meja. Sepertinya juga enak lho, aku makan dulu ya," jawab Alena duduk di kursi meja makan bersama Alvin suaminya.


"Hmm! Padahal saya berharap dia beristirahat dari pekerjaan rumah tangga," decak Fazril berjalan menuju tempat di mana Nuri berada saat ini.


"Ck! Ck! Ck! Dasar bucin tingkat akut," decak Alvin menggelengkan kepalanya menatap kepergian sang kakak ipar.


.


Grep!


Fazril memeluk Nuri dari arah belakang membuat Nuri yang saat ini sedang menjaga Lani merasa terkejut tentu saja. Dia menoleh dan menatap wajah Fazril yang saat ini meletakan kepalanya di bahu Alena mesra.


"Mas Fazril, jangan kayak gini. Malu di lihat Lani nanti," pinta Nuri.


"Gak bakalan, Lani lagi anteng ko. Sayang, saya minta selama kamu di sini, kamu gak usah melakukan pekerjaan rumah. Jangan memasak atau melakukan pekerjaan yang melelahkan itu. Saya ingin kamu menikmati liburan kita di sini."


"Ya ndak bisa, Mas. Aku 'kan di tugaskan sama Nyonya besar untuk menjaga Lani."


"Ya saya juga akan membantu kamu menjaga Lani, kita jaga dia sama-sama, tapi bukan dia saja yang harus kamu jaga, Nuri."


Nuri seketika mengerutkan kening.


"Maksudnya Mas?"


"Saya juga harus kamu jaga lho."


"Hah? Hahahaha! Mas apaan sih? Memangnya Mas ini anak kecil apa? Ngaco!" Tawa Nuri terdengar nyaring.


"Om Fazril sama Mbak cantik pacaran ya?" celetuk Lani tersenyum cengengesan menatap wajah Fazril juga Nuri dengan wajah ceria.


"Apa? Siapa yang pacaran?" Tiba-tiba saja terdengar suara sang ibu berdiri depan pintu.

__ADS_1


"I-ibu? Ka-kapan i-bu da-tang?" tanya Fazril terbata-bata merasa terkejut tentu saja.


BERSAMBUNG


__ADS_2