
Lani seketika merasa terhenyak. Apa adiknya ini benar-benar telah melupakan dirinya dan juga sang Ibu? Jika Lian melupakan dia dan Alena Ibu mereka, hal itu wajar saja dia rasa, karena 15 tahun telah berlalu Lian masih sangat kecil kala itu. Namun, dia yakin bahwa perasaannya tidak dapat berbohong. Ikatan batin mereka tidak akan pernah berdusta. Setidaknya, Lian masih bisa merasakan bahwa dia adalah kakak kandungnya.
"Ini kakak, Dek. Kaka Lani, kakak kamu satu-satunya. Kaka yakin kamu masih mengingat kenangan kita barang sedikit saja, heuh?" lirih Lani, buliran air mata itu benar-benar tidak dapat lagi dia tahan.
"Saya sudah bilang tadi, saya tidak punya kaka apalagi seorang Ibu. Saya yatim piatu," jawab Lian, bibirnya memang mengatakan demikian, tapi tidak depan tatapan matanya.
Lian menatap sayu wajah sang kaka. Sedikit pun dirinya tidak pernah melupakan Lani apalagi sang Ibu, tapi dirinya merasa terkurung dalam penyesalan yang tidak berkesudahan. Dia pun merasa bersalah atas meninggalnya sang ayah.
"Tidak! Kamu masih punya Kaka sama Mommy. Mommy sangat merindukan kamu, Dek. Kenapa--" Lani tidak mampu untuk melanjutkan ucapannya. Dada gadis itu terasa begitu sesak kini.
"Lebih baik Mbak pergi dari sini. Maaf, sepertinya Anda salah orang, saya bukan adik Anda," pinta Lian berbalik lalu berdiri tepat di depan pusara sang Ayah.
"Lalu sedang apa kamu di sini? Kamu tau, ini adalah makam Daddy kita. Kamu benar-benar Lian adik Kaka!"
Lian seketika memejamkan kedua matanya. Dia tidak dapat lagi mengelak ataupun menyangkal. Pusara sang ayah jelas-jelas berada di hadapannya kini. Apa yang akan dia katakan sekarang? Sementara dirinya ingin sekali meluapkan rasa rindu kepada sang kaka.
"Bersumpahlah di depan pusara Daddy kalau kamu memang benar-benar tidak mengingat kaka?" tegas Lani menatap nanar batu nisan bertuliskan nama sang Ayah.
Lian hanya diam membisu. Dia menundukkan kepalanya dengan bahu yang sedikit berguncang. Akhirnya dia tidak dapat lagi menahannya. Kakak satu-satunya yang dia miliki berada di belakangnya kini, Kaka yang sangat dia rindukan selama ini ada di sini.
Lian seketika memutar tubuhnya dengan kepala yang masih tertunduk terlihat begitu terpuruk. Kedua matanya benar-benar membanjir, suara isakan pun mulai terdengar pelan. Bahu pemuda berusia 18 tahun itu pun terlihat berguncang menahan sesuatu yang terasa menyesakkan dada.
"Maafkan aku, Kak. Aku benar-benar minta maaf, hiks hiks hiks!" lirih Lian tangisnya benar-benar pecah terdengar pilu.
__ADS_1
Lani seketika berjalan mendekat hingga mereka berdiri saling berhadapan kini. Kedua telapak tangannya seketika bergerak mengusap kedua sisi wajah Lian hingga adiknya itu sontak mengangkat kepala menatap wajah sang kaka dengan tatapan sayu juga bola mata memerah.
"Kamu sudah besar, Dek. Kamu sudah dewasa. Astaga! Waktu telah lama berlalu ternyata, adik Kaka yang lucu sudah besar sekarang," lirih Lani dengan nada suara gemetar juga tidak kuasa menahan rasa harunya.
Grep!
Kakak beradik itu pun seketika berpelukan. Lian bahkan tidak dapat lagi membendung kesedihannya, dia menangis sesenggukan layaknya seorang anak kecil yang baru saja bertemu dengan kaka yang sudah lama sekali dia rindukan. Hal yang sama pun dirasakan oleh Lani, dia mendekap erat tubuh adik kesayangannya juga tidak kuasa untuk menahan tangisnya. Keduanya benar-benar menangis sesenggukan di depan pusara sang Ayah.
Semua ini masih seperti mimpi bagi keduanya. Mereka pikir mereka tidak akan pernah bertemu lagi selamanya. Lian benar-benar merasa lega dan bahagia begitupun sebaliknya.
"Apa kamu gak ingin ketemu sama Mommy? Beliau ada di kota ini juga sekarang," tanya Lani kembali mengurai pelukan.
"Apa Mommy akan memaafkan aku? Kaka juga, apa kaka akan memaafkan perbuatan yang telah aku lakukan kepada Daddy? Gara-gara aku Daddy kita--"
"Sttt! Semua ini takdir, Dek. Kehidupan manusia sudah di atur sama Yang Maha Kuasa. Perpisahan orang tua, meninggalnya Daddy dan pertemuan kita kemarin dan hari ini adalah takdir. Apa pun penyebab meninggalnya Daddy semua itu adalah takdir Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada gunanya menyesal, yang harus kamu lakukan adalah memperbaiki diri kamu, Dek."
"Selama ini aku mencari uang sendiri, untuk memenuhi kehidupan sehari-hari saja aku sulit, mana bisa aku membeli pakaian bagus segala," ucap Lian balas memeluk tubuh Lani sang kakak.
"Maka dari itu pulanglah, Dek. Mommy kita sudah menjadi seorang Dokter yang hebat seperti yang kamu inginkan," lirih Lani kembali mengurai pelukan.
"Bawa aku kepada Mommy, Kak. Aku kangen sekali sama Mommy."
"Kaka akan membawa kamu untuk ketemu sama Mommy, Dek, tapi sebelumnya kita berpamitan dulu sama Daddy ya."
__ADS_1
Lian menganggukkan kepalanya. Keduanya pun berdiri saling berdampingan di depan makam sang Ayah. Lian menatap batu nisan bertuliskan nama Alviano dengan tatapan mata sayu penuh kesedihan.
"Maaf aku baru datang ke sini lagi, Dad. Akhir-akhir ini aku sibuk bekerja. Sekarang sudah waktunya aku pulang ke rumah Mommy dan berkumpul kembali bersama Kaka. Mungkin aku akan semakin jarang saja datang kemari, aku harap Daddy gak marah," ucap Lian seolah sedang benar-benar berbicara di hadapan sang Ayah.
"Beristirahatlah dengan tenang, Dad. Aku sudah memaafkan semua kesalahan Daddy di masa lalu, aku yakin Mommy juga begitu. Mommy sudah hidup bahagia dengan suaminya. Aku bawa Dede pulang sekarang. Kami janji akan kembali lagi ke sini untuk mengunjungi Daddy. Kami pamit, Dad," ucap Lani.
Keduanya pun berbalik dan benar-benar meninggalkan pusara Ayah dengan perasaan lega. Setelah sekian lama, akhirnya Lani bisa melepaskan rasa bencinya kepada Alviano Ayah kandungnya yang saat sudah pergi menghadap Ilahi.
.
Sementara itu di kediaman sang Ibu mertua. Alena nampak sedang menyisir rambut Naila, putri bungsunya buah dari pernikahannya dengan Alvin. Dengan begitu telatennya Alena mengepang rambut panjang sang putri hingga rambutnya benar-benar tertata rapi kini.
Ckiiit!
Terdengar suara mobil berhenti di halaman. Alena sontak berdiri tegak lalu berjalan keluar dari dalam rumah bersama Naila. Wanita itu berdecak seraya menggelengkan kepalanya karena seharian ini putri sulungnya itu pergi tanpa memberitahukan ke mana.
"Ck! Ck! Ck! Anak gadisnya Mommy akhirnya pulang juga," decak Alena berdiri tepat di depan pintu.
Dia pun hendak berjalan menghampiri, tapi Alena seketika menghentikan langkah kakinya ketika melihat motor yang berhenti tepat di belakang mobil sang putri. Alena menatap dengan seksama seorang pemuda yang saat ini mulai turun dari atas motornya. Helm yang dia kenakan pun di buka setelah dia benar-benar berdiri tegak tepat di samping motor tersebut.
Alena terhenyak. Entah mengapa hatinya merasakan sesuatu yang aneh. Dia menatap wajah pemuda tersebut dengan kening yang dikerutkan. Sampai akhirnya, dia di kejutkan saat Naila tiba-tiba saja menyebutkan nama seseorang.
"Kaka Lian?" lirih Naila dengan nada suara pelan.
__ADS_1
"Apa? Kamu bilang apa tadi? Dia siapa?" tanya Alena tubuhnya tiba-tiba saja terasa gemetar.
BERSAMBUNG