Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Bermain Lincah


__ADS_3

Nuri terkulai lemas di atas raga suaminya. Entah sadar atau tidak, dia benar-benar bermain lincah layaknya kuda yang sedang hilang kendali. Fazril sempat kewalahan, tapi akhirnya dia bisa mengimbangi permainan. Sampai akhirnya puncak itu benar-benar bisa mereka dapatkan secara bersamaan.


"Gimana, gak sakit 'kan?" tanya Fazril tersenyum cengengesan seraya melingkarkan kedua tangannya di punggung istrinya.


"Ndak, Mas. Rasanya anu--" jawab Nuri seketika menahan ucapannya.


"Anu kenapa? Nikmat? Enak? Pengen lagi?"


"Ish, ya ndak gitu juga kali, Mas. Anuku sakit lagi nanti, istirahat dulu sebentar baru mulai lagi."


"Hah? Hahahaha! Jadi kamu pengen lagi? Udah mulai ketagihan?" tawa Fazril terdengar nyaring.


"Hah? Eu ... Ndak ko, Mas. Bukan seperti itu maksud aku. Sekarang sudah malam, kita beristirahat dulu. Lelah banget ini," jawab Nuri berkilah dengan wajah yang memerah.


"Nuri, Nuri, kamu ini benar-benar menggemaskan lho. Kamu itu polos dan lucu. Semakin cinta saya sama kamu," decak Fazril.


Dia merasa benar-benar bahagia. Malam ini adalah malam yang tidak akan pernah dia lupakan di seumur hidupnya. Malam pertama yang benar-benar berkesan karena keduanya sama-sama masih perjaka dan perawan. Hal yang sangat jarang terjadi di era modern seperti sekarang ini. Di mana berhubungan suami-istri sebelum menikah sudah menjadi hal yang biasa bagi pasangan kekasih di luaran sana.


"Sayang! Ko diem aja? Kamu beneran lelah ya?" tanya Fazril sedikit menundukkan kepala menatap wajah istrinya yang saat ini masih berada di atas dada bidangnya.


Fazril tertawa kecil. Ternyata istrinya itu terlihat memejamkan kedua matanya. Suara dengkuran kecil pun sedikit terdengar. Dia benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa Nuri tertidur dalam posisi seperti itu? Bahkan sesuatu di bawah sana saja masih menyatu.


"Astaga, Nuri. Kamu beneran tidur?" tanya Fazril, tapi hanya helaan napas istrinya yang dia dengar. Nuri benar-benar terlelap karena merasa kelelahan usai melakukan ritual malam pertama.


.


Keesokan harinya.


Nuri mengedipkan pelupuknya matanya pelan, mencoba untuk menyesuaikan sinar matahari yang terasa hangat membasuh wajahnya kini. Dia pun merentangkan kedua tangannya dengan mulut yang di buka lebar. Sampai akhirnya, kedua matanya benar-benar terbuka sempurna dan orang pertama yang dia lihat adalah Fazril suaminya.


Nuri tertegun. Rasanya masih asing baginya karena pagi ini terasa berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Di mana biasanya dia harus bangun di saat orang-orang masih tertidur lelap dengan segudang pekerjaan rumah yang telah menantinya, tapi pagi ini dia bangun di saat matahari sudah berada di atas kepala juga dengan status yang berbeda yaitu, sebagai Nyonya Fazril dan menantu dari Nyonya Inggrid. Hal ini masih seperti mimpi baginya.


"Good morning, sayang," sapa Fazriil yang baru saja membuka kedua matanya.


"Good morning my husband," jawab Nuri tersenyum manis balas menatap wajah suaminya lekat.


"Tidur kamu nyenyak?"


"Nyenyak banget, Mas. Kasurnya nyaman, baru kali aku tidur di kamar hotel yang mewah kayak gini."

__ADS_1


"Ya jelas nyaman, orang kamu tidur di sini, di dada saya," ucap Fazril menunjuk dada bidangnya di mana Nuri tertidur semalam.


"O ya? Ko aku ndak ingat ya?"


"Ndak ingat atau pura-pura lupa?" Fazril menirukan gaya bicara istrinya.


"Lupa, hehehehe!" jawab Nuri tersenyum cengengesan seraya menggaruk kepalanya yang terasa gatal entah mengapa.


"Hmm! Dasar, saya masih ngantuk, sayang. Gimana kalau kita tidur lagi?"


"Aku juga masih ngantuk ini. Yo wis, kita tidur lagi sampai puas," jawab Nuri seketika memeluk tubuh suaminya. Keduanya pun kembali memejamkan kedua mata lalu terlelap saat itu juga.


.


15 tahun kemudian.


"Huaaaa! Jam berapa ini?" gumam Lani seketika merentangkan kedua tangannya dengan mulut yang di buka lebar sementara kedua matanya masih terpejam sempurna.


Gadis yang tahun ini berusia genap 20 tahun itu seketika bangkit lalu duduk di atas ranjang dengan kepala yang menunduk menahan rasa kantuk. Rambutnya pun nampak berantakan, telapak tangannya seketika bergerak mengusap ujung bibirnya yang basah karena air liur.


Ceklek!


"Astaga, anak perawan. Jam segini baru bangun aja, gak baik lho anak gadis bangun tengah hari kayak gini," decak Alena.


"Sekarang jam berapa?" tanya Lani mengusap kedua matanya pelan.


"Jam 9 pagi."


"Mommy gak ke Rumah Sakit?"


"Hari ini Mommy libur, sekarang 'kan hari minggu."


Bruk!


Lani kembali menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Kedua tangannya seketika bergerak meraih bantal guling lalu memeluknya erat. Gadis itu menatap wajah sang ibu yang masih terlihat cantik meskipun usianya sudah menginjak kepala empat.


"Sebentar lagi ya, Mom. Aku masih ngantuk, lagian ini 'kan hari minggu," rengek Lani dengan nada suara manja.


"Ish! Apa kamu lupa hari ini kita mau ke mana?"

__ADS_1


"Ke mana memangnya?"


"Kita mau ke luar kota, mau berlibur ke rumahnya nenek Anisa."


"O iya, aku mandi dulu. Kenapa Mommy gak bilang dari tadi sih?" jawab Lani seketika bangkit lalu turun dari atas ranjang, gadis itu pun berlari menuju kamar mandi, membuka pintunya lalu masuk ke dalamnya kemudian.


"Mommy tunggu di bawah!" teriak Alena.


"Iya, Mom. Gak akan lama ko," jawab Lani dari dalam kamar mandi.


.


Sesampainya di kediaman sang nenek.


"Akhirnya kalian datang juga," ucap sang nenek menyambut kedatangan sang putra bersama keluarga kecilnya.


"Ibu apa kabar? Hmm! Maaf karena kami baru sempat berkunjung kemari," jawab Alvin menghampiri sang ibu lalu memeluknya erat.


"Tak apa, kalian pasti sibuk."


Keduanya pun saling berpelukan untuk melepaskan rasa rindu, sampai akhirnya kembali mengurai pelukan. Alena melakukan hal yang sama, begitu pun dengan si cantik Lani yang terlihat ceria seperti biasanya. Mereka berdua memeluk nenek Anisa secara bergantian.


"Dad, aku pinjam mobil Daddy sebentar ya," pinta Lani secara tiba-tiba.


"Kamu mau ke mana? Baru juga sampai," jawab Alvin mengerutkan kening.


"Aku mau jalan-jalan sebentar, Dad. Udaranya segar banget, hehehehe!" Lani tersenyum cengengesan.


"Memangnya gak lelah? Istirahat dulu, sayang," timpal Alena sang ibu.


"Bentaran doang ko, Mom. Boleh ya, please!"


"Hmm! Dasar anak ini. Ya sudah, jangan lama-lama dan hati-hati bawa mobilnya," decak Alvin seraya menyerahkan kunci mobil yang semula dia genggam.


"Siap, Dad. Aku janji gak akan lama."


'Aku hanya ingin mendatangi rumah Daddy Alviano. Mudah-mudahan kali ini aku bisa bertemu dengan Dede Lian, semoga saja dia sudah kembali dari luar negeri,' batin Lani penuh harap.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2