Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Marah-marah Tidak Jelas


__ADS_3

Nuri berjalan dengan langkah kaki gontai. Jujur, dia merasa bingung dengan sikap Tuannya. Sebenarnya apa kesalahan dia sampai laki-laki bernama lengkap Fazril Faisal ini bersikap seperti itu kepadanya? Jangankan Nuri, Fazril sendiri merasa bingung dengan sikapnya sendiri.


Fazril Faisal telah menanamkan di dalam jiwanya, bahwa dia harus memiliki istri yang sempurna. Dia yang telah menyaksikan dengan kedua matanya sendiri kehancuran rumah tangga sang adik, hingga adiknya itu menemukan pasangan yang tepat dan hidup bahagia sekarang, membuat laki-laki berusia 33 tahun itu sangat berhati-hati dalam memilih calon istri.


Fazril bahkan memiliki standar yang sangat tinggi bagi perempuan yang akan menjadi istrinya kelak. Dia ingin istri yang sempurna dalam segala hal. Agar dia tidak tergoda dengan wanita lain lagi seperti yang telah dilakukan oleh mantan suami Alena. Ya ... Seperti itulah kira-kira yang terjadi saat ini.


Hati seorang Fazril merasa bergetar saat pertama kali bertemu dengan Nuri, tapi otaknya menolak kenyataan bahwa sebenarnya dia telah jatuh cinta pada pertama kepada gadis itu yang menurutnya sangat jauh dari kriteria yang selama ini dia idam-idamkan.


Akibatnya, terjadilah gejolak batin. Hatinya merasakan cinta, tapi otaknya menolak. Alhasil sikapnya seolah dia membenci gadis itu tanpa sebab. Jujur, Fazril sendiri merasa tersiksa dengan apa yang dia rasakan saat ini. Hati dan otak kecilnya seolah tidak berjalan seirama.


"Astaga, apa yang saya lakukan? Kenapa saya harus semarah ini sama dia? Salah Nuri apa?" decak Fazri mengusap wajahnya kasar. Dia pun meletakan keranjang berisi pakaian dalam miliknya begitu saja di atas lantai.


Fazril berjalan keluar dari dalam kamar untuk mengejar asisten rumah tangganya itu, dia akan meminta maaf atas sikap ketusnya. Walau bagaimana pun Fazril adalah laki-laki yang berpendidikan tinggi. Dirinya tidak akan sungkan untuk meminta maaf jika memang dia bersalah.


"Tunggu, Nuri!" teriak Fazril memanggil sang asisten rumah tangga.


Nuri sontak menghentikan langkah kakinya. Dia pun memutar badan lalu sedikit membungkukkan tubuhnya seraya menunduk.


'Semoga saja dia tidak marah-marah lagi,' batin Nuri memejamkan kedua matanya kini.


"A-ada apa, Tuan?" tanya Nuri singkat.


"Eu ... A-anu--"


'Ya Tuhan kenapa sulit sekali meminta maaf sama dia? Ada apa dengan saya?' batin Fazril tidak meneruskan ucapannya.


"Anu kenapa? Tuan jangan khawatir, mulai sekarang semua pakaian Tuan akan di urus sama Bibi. Biar nanti saya yang bilang sama beliau. Saya juga tidak akan pernah masuk lagi ke kamar, Tuan," ucap Nuri dengan logat khasnya seperti biasa.


"Bu-bukan itu."

__ADS_1


Nuri mengerutkan kening merasa bingung.


Fazril seketika memejamkan kedua matanya. Dia pun menarik napas berat lalu menghembuskannya secara kasar. Entah mengapa kata maaf itu begitu sulit dia ucapkan.


"Lupakan!" ketus Fazril berjalan melewati Nuri begitu saja.


'Dih, Tuan apaan sih? Gak jelas banget jadi orang,' batin Nuri semakin merasa kesal saja kini.


'Tuhan, ada apa dengan saya?' batin Fazril benar-benar bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.


.


Nuri kembali ke belakang di mana dia melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga. Wajahnya terlihat kesal, bibirnya pun dia kerucutkan sedemikian rupa. Gadis itu merasa tidak habis pikir dengan sikap sang majikan.


"Kamu kenapa? Datang-datang ko mukanya masam gitu?" tanya Bibi yang saat ini sedang duduk di kursi dapur.


"Tuan Muda? Eu ... Maksudnya Den Fazril?"


"Siapa namanya? Azril?"


"Jangan panggil dia dengan sebutan Tuan Muda segala, panggil saja dengan sebutan Den Fazril, tapi ngomong-ngomong kenapa kamu mendadak nanyain dia?"


"Nggak ko, aku cuma penasaran saja. Sebenarnya dia itu orangnya seperti apa? Apa dia suka marah-marah tidak jelas?"


"Kata siapa? Selama Bibi bekerja di sini, Den Fazril tidak pernah marah-marah. Dia itu baik lho orangnya. Malahan Bibi sering di ajak jalan-jalan sama anak-anak."


"Hmm! Begitu rupanya. Lalu, kenapa sama aku dia marah-marah tidak jelas. Heran deh," gumam Nuri dengan nada suara pelan.


"Hah? Kamu bilang apa tadi?"

__ADS_1


"Tidak ko, Bi. Gak apa-apa, hehehehe!" Nuri seketika tersenyum cengengesan.


"Nyonya muji terus masakan kamu lho, katanya kamu punya bakat menjadi Chef."


"O ya? Nyonya terlalu berlebihan menilai aku, Bi. Eu ... O iya, ada pesan dari Tuan Muda, eh ... Maksudnya Den Azril!"


"Pesan?" Bibi mengerutkan kening.


"Kata Den Azril, pakaiannya dia harus di urus sama Bibi. Aku bahkan tidak boleh masuk ke dalam kamarnya. Den Azril itu sepertinya ndak suka sama aku, Bi."


"Lho! Ko bisa begitu? Memangnya kamu melakukan kesalahan apa?"


"Aku juga ndak tahu, Bi. Wong aku tidak melakukan kesalahan apa-apa. Den Azril tiba-tiba saja marah sama aku."


"Kalian lagi ngomongin saya ya?" Tiba-tiba saja terdengar suara Fazril berdiri tepat di depan pintu dapur membuat Nuri merasa terkejut.


Gadis itu sontak berdiri seraya menundukkan kepalanya. Tubuh sang asisten rumah tangga itu pun terasa gemetar. Dia tidak berani menatap wajah sang majikan.


'Aduh! Bagaimana ini? Saya bisa di pecat karena ketauan membicarakan Den Azril,' batin Nuri merasa khawatir.


"Kamu!" tunjuk Fazril menggunakan satu jarinya.


Nuri sontak mengangkat kepala menatap wajah Fazri dengan bola mata memerah terlihat ketakutan.


"Den Azril memanggil saya?" tanyanya kemudian.


"Iya, kamu. Ikut dengan saya sekarang. Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu!"


Tubuh Nuri seketika semakin merasa gemetar.

__ADS_1


__ADS_2