
"Maafkan aku, Mom. Daddy meninggal gara-gara aku, Daddy tertabrak mobil karena aku. Tubuh Daddy hancur, beliau meninggal di tempat kejadian. Aku benar-benar menyesal, maafkan aku, Mom. Hiks hiks hiks!" lirih Lian menundukkan kepala, wajahnya terlihat begitu terpuruk.
"Sayang ... Putranya Mommy, apa yang menimpa Daddy bukan karena kesalahan kamu, sayang. Semua itu sudah di gariskan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Kamu tahu, jodoh, umur, kesehatan dan musibah yang menimpa manusia di dunia ini sudah di gariskan oleh yang Di Atas. Termasuk kecelakaan yang menimpa ayah kamu," lirih Alena mencoba untuk menenangkan sang putra, dia pun mengusap punggung tangannya lembut dan penuh kasih sayang.
"Tapi Daddy tertabrak karena mengejar aku, Mom. Jika saja aku menuruti apa yang Daddy katakan, mungkin Daddy masih hidup sampai sekarang! Hiks hiks hiks!" tangis Lian seketika pecah. Sepertinya dia benar-benar merasa trauma.
Bagaimana tidak, dia menyaksikan dengan kedua matanya sendiri sang ayah tertabrak hingga meregang nyawa dengan tubuh yang penuh dengan darah. Jika saja dirinya lebih bersabar waktu itu, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Mungkin ayahnya masih hidup sampai saat ini.
Belum lagi dia harus menerima kebencian dari sang nenek. Sampai saat ini, neneknya masih saja menyalahkan Lian atas meninggalnya Alviano putra satu-satunya yang dia miliki. Hal itu tentu saja membuat Lian hidup dalam penyesalan yang tidak berkesudahan.
Grep!
Alena segera memeluk tubuh putra kesayangannya. Dia paham betul apa yang saat ini sedang dirasakan oleh putranya ini. Alena akan berusaha mengobati rasa trauma dan akan terus memberinya pengertian bahwa apa yang menimpa mantan suaminya itu adalah takdir yang tidak bisa di kompromi. Hidup dan mati manusia telah di tentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
"Kamu tidak salah, Nak. Daddy kamu memang kecelakaan saat beliau sedang mengejarmu, tapi semua itu takdir, Nak. Tidak ada yang bisa melawan takdir, dan kematian setiap manusia di dunia ini sudah di tentukan oleh sang Maha Pencipta. Jadi, berhenti menyalahkan diri sendiri dan bebaskanlah rasa bersalahmu selama ini. Ada Mommy, Nak. Mommy gak akan pernah meninggalkan kamu, sayang," lirih Alena mengusap punggung sang putra lembut dan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Maafkan aku, Dad. Aku benar-benar minta maaf. Semoga Daddy tenang di alam sana, hiks hiks hiks!" ucap Lian dengan nasa suara bergetar.
.
Setelah menghabiskan waktu selama 2 hari di kediaman Nenek Anisa, akhirnya mereka pun kembali ke kota bersama Lian tentu saja. Mobil yang di kendarai oleh Alvin sekeluarga mulai melipir dan memasuki halaman luas rumah Nyonya Inggrid. Alena memang memutuskan untuk tinggal di rumah sang Ibu karena dia ingin menemani dan mengurus Ibundanya yang semakin tua renta saja setiap harinya. Sementara sang Ayah sudah menghadap ilahi terlebih dahulu.
Ckiiit!
Mobil pun berhenti tepat di halaman. Mereka semua turun dari dalam mobil secara bersamaan. Lian menatap rumah sang Nenek yang terlihat masih sama, hanya warna catnya saja yang terlihat sudah berbeda. Lani menggandeng pergelangan tangan sang Adik seraya tersenyum lebar.
"Hmm! Entahlah, ingatanku sudah sedikit memudar, Kak."
"Tak apa, lagian kamu masih terlalu kecil saat meninggalkan rumah ini dulu," jawab Lani hendak melangkah.
"Kaka!" rengek Naila menyusul kedua kakaknya.
__ADS_1
"Astaga! Sampai lupa sama si bungsu. Sini, Nai sama Kaka Lian," jawab Lian mengulurkan telapak tangannya dan segera di raih lalu di genggam oleh oleh Naila.
Mereka bertiga berjalan secara bergandengan. Sementara Alena dan suaminya berjalan di belakang mereka. Alvin melingkarkan pergelangan tangannya di pinggang sang istri mesra.
"Mas senang sekali karena akhirnya Lian bisa berkumpul bersama kita lagi. Kamu pasti bahagia sekali, Lena," ucap Alvin menoleh dan menatap istrinya dari arah samping.
"Apa lagi aku, Mas. Aku benar-benar bersyukur karena Lian sudah pulang sekarang. Semua ini berkat Lani, aku gak nyangka kalau ternyata dia mencari adiknya selama ini."
"Eu ... Walau bagaimana pun Mas turut berduka cita atas apa yang menimpa Alviano."
"Aku juga gak nyangka kalau Mas Vian gak berumur panjang. Semoga dia bisa beristirahat dengan tenang," jawab Alena tersenyum simpul.
Keduanya pun sampai di depan pintu. Alvin menggenggam erat telapak tangan Alena begitu pun sebaliknya. Keduanya hendak masuk ke dalam rumah seraya tersenyum lebar, tapi baik Alena maupun suaminya sontak memperlambat langkah kaki masing-masing ketika melihat sebuah pemandangan yang sangat mengharukan dalam sana. Nyonya Inggrid nampak sedang memeluk tubuh Lian, cucu kesayangan yang baru saja kembali setelah 15 tahun berpisah.
"Kamu benar-benar Lian? Lian cucu Eyang? Ya Tuhan, hiks hiks hiks!"
__ADS_1
BERSAMBUNG