Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Berbohong


__ADS_3

Nuri benar-benar keluar dari dalam kamar sang majikan. Dia berdiri tepat di depan pintu yang kini telah tertutup rapat. Kedua mata gadis itu nampak terpejam sempurna. Bohong kalau dia mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki perasaan sedikitpun kepada laki-laki itu.


Perasaan itu nyata ada di dalam hatinya kini. Namun, dia berusaha untuk menekan perasaan itu sekuat yang dia bisa. Karena dirinya sadar betul siapa dia di rumah ini. Nuri hanya bekerja sebagai asisten rumah tangga. Tidak pantas baginya jika dia harus bersanding besama putra dari majikanya sendiri.


Rasanya memang sakit ketika dia harus berbohong dan mendustai hatinya sendiri, tapi Nuri terpaksa harus melakukan hal ini demi Nyonya Inggrid yang sudah bersikap baik terhadapnya selama ini.


'Maafkan saya, Den. Sampai kapan pun saya tidak akan pernah menerima cinta Den Azril. Saya hanya ingin bekerja dengan tenang di sini,' batin Nuri seketika membuka kedua matanya. Dia pun mulai beranjak meninggalkan tempat itu dengan langkah kaki gontai.


.


Satu minggu kemudian.


Akhirnya Alena dan Alvin pergi berbulan madu. Mereka akan menghabiskan waktu selama 2 minggu di pulau Lombok yang menjadi tempat tujuan mereka berdua. Sepasang suami-istri itu pergi tanpa Lani, dan gadis kecil itu sama sekali tidak merasa keberatan dengan hal itu karena dirinya memang sudah terbiasa di tinggalkan.


Seluruh anggota keluarga nampak berdiri di depan mobil taksi yang akan mengantarkan kepergian mereka berdua ke bandara. Lani memeluk tubuh sang ibu terlihat sedih.


"Kamu baik-baik di rumah ya, nurut sama Eyang sama Om Fazril. Jangan nakal, Mommy sayang sama kamu, Nak," lirih Alena mengusap punggung putri kesayangannya lembut dan penuh kasih sayang.


"Iya, Mom. Mommy sama Daddy hati-hati di jalan. Jangan lupa bawa oleh-oleh adik bayi untuk aku," jawab Lani dengan begitu polosnya.


"Hah? Hahaha! Dasar anak pintar." Alena seketika tertawa nyaring seraya mengurai pelukan.


"Gak usah mengkhawatirkan Lani, kami akan menjaganya di sini. Kalian nikmati saja waktu liburan kalian. Jangan lupa bawa pesanan Lani, bawa adik bayi untuk dia," ucap Fazril sedikit bercanda.


"Hmm! Makasih, Bang. Aku doakan semoga pertemuan Abang sama calon istri Abang itu sukses, dan Abang bisa segera menikah."

__ADS_1


Fazril seketika menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal tanpa sebab, seraya tersenyum cengengesan.


"Lani sayang. Daddy berangkat dulu ya. Daddy akan berusaha membawa pesanan kamu, semoga saja Mommy bisa cepat memberikan kamu adik bayi, hmm! Rasanya sedih sekali meninggalkan kamu di sini. Daddy janji deh, lain kali kita pergi bertiga, oke?" ucap Alvin, memeluk tubuh kecil Lani merasa berat harus meninggalkan gadis itu sebenarnya.


"Janji ya, nanti kapan-kapan kita pergi bertiga?"


"Iya, Daddy janji sayang. Kamu baik-baik di rumah ya."


Lani menganggukkan kepalanya seraya mengurai pelukan. Mereka berdua pun berpamitan kepala sang ibu, memeluk tubuh Nyonya Inggrid secara bergantian. Setelah itu, keduanya pun mulai masuk ke dalam taksi.


"Dadah, Mommy, Daddy. Hati-hati di jalan ya. Aku sayang kalian berdua," teriak Lani, saat taksi yang ditumpangi oleh kedua orang tuanya mulai dinyalakan sampai akhirnya melesat meninggalkan halaman.


"Fazril, jangan lupa nanti malam kita akan makan malam dengan keluarga calon istri kamu," ujar sang ibu mengingatkan.


'Astaga! Kenapa saya sampai lupa akan hal ini? Saya terlalu fokus mengejar Nuri sampai-sampai saya lupa dengan perjodohan yang telah diaturkan oleh ibu dan ayah. Sialnya, saya malah mengatakan bahwa saya akan menerima perjodohan ini. Nuri, apa yang harus saya lakukan sekarang?' batin Fazril seketika menyebutkan nama gadis itu di dalam hatinya.


Fazril hanya tersenyum cengengesan.


"Astaga, malah senyum-senyum seperti itu. Kamu dengar tidak apa yang ibu katakan?" tanya sang ibu penuh penekanan.


"Iya, Bu. Saya dengar ko."


"Bagus, jam 7 malam. Jangan sampai lupa, oke?"


Fazril hanya menganggukkan kepalanya samar.

__ADS_1


.


Malam hari di Restoran.


Fazril duduk dengan perasaan gelisah menunggu kedatangan keluarga gadis yang konon katanya bernama Aprilia. Nama yang sama dengan wanita yang telah menghancurkan keluarga kecil Alena kala itu. Raga seorang Fazril memang berada di sana, tapi tidak dengan hatinya.


Hati laki-laki bernama lengkap Fazril Faisal itu seperti tertinggal di kediamannya. Pikirannya pun melayang memikirkan sang asisten rumah tangga bernama Nuri yang telah mengungkung rasa cintanya dengan sebuah penolakan. Penolakan yang membuat Fazril merasa terkurung dalam rasa cinta dan tidak rela untuk melepaskannya, dan rasanya sangat menyiksa tentu saja.


"Akhirnya meraka datang juga," ucap sang ibu saat melihat keluarga calon besannya dari kejauhan.


Sementara Fazril masih larut dalam lamunannya. Dia menatap ke arah lain sama sekali tidak mendengar apa yang saat ini diucapkan oleh sang ibu. Dia bahkan tetap duduk dengan posisi yang sama saat kedua orang tuanya berdiri menyambut kedatangan keluarga April.


"Selamat datang, senang sekali akhirnya kita bisa bertemu seperti ini," ucap Nyonya Inggid menyalami kawan dari suaminya tersebut.


Mereka pun saling menyapa ramah dan sopan. Sementara Fazril sama sekali bergeming. Lagi-lagi dia masih larut dalam memikirkan gadis bernama Nuri.


"Hey, Zril. Astaga, anak ini. Malah melamun lagi. Fazril!" decak sang ayah memanggil namanya membuat Fazril akhirnya tersadar dan menyudahi lamunan panjangnya itu.


"Hah? I-iya, Yah. Maaf, saya melamun tadi," jawab Fazril sontak berdiri tegak lalu menatap mereka yang saat ini sedang berdiri bersama ayah dan ibu.


"Kamu?"


"Kamu?"


Fazril dan juga wanita bernama Aprilia secara bersamaan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2