
perselingkuhan Suamiku
Part 12
Sebelum adzan magrib berkumandang mereka sudah sampai di rumah sang kakek, mereka membersihkan diri lalu sholat magrib berjamaah, setelah itu mereka berkumpul di meja makan, makan malam sudah tersedia ada mie goreng, telur, ayam bakar juga urap-urap dan sambal goreng kentang.
Hening
Hanya terdengar suara sendok dan piring, mereka menikamati makanan yang ada didepan mereka hingga habis tak tersisa, Mitha membantu membersihkan sisa makanan, hingga meja kembali rapi, Mitha mendekati sang ayah, dan Sang ayah bertanya.
Kapan baliknya nak? Apa sebaiknya disini saja, temani bapakmu juga Masmu?" tanya sang ayah pada putrinya.
"Raka harus sekolah Ayah, kan Mitha kemarin sudah cerita sama ayah." jawab Mitha pada Ayahnya.
"Yakin ndak takut kalau digangguin atau mungkin sama Siska." ucap sang Ayah cemas.
"Ayah Mitha hanya takut sama Allah, sudahlah ayah Mitha punya do'anya Ayah, jadi kenapa harus takut." ucap Mitha sambil memeluk ayahnya.
"Nak Fiko ayah nitip Mitha ya? Tolong Jagain dia dari Siska." tanya Ayahnya Mitha pada Fiko.
"Insya'Allah Pak, Fiko bakal jagain Mbakyu dengan baik." jawab Fiko.
"Makasih ya Nak Fiko untuk kebaikannya, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan." ucap pak Ferdi pada Fiko.
"Aamiin makasih pak buat do'anya." jawab Fiko lagi.
"Iya sama-sama, kapan jadinya rencana baliknya?" tanya Ayahnya.
"Besuk pagi ayah," jawab Mitha.
Malam semakin larut, hanya terdengar suara hembusan angin kencang, Mitha beranjak masuk ke dalam kamar, dipandanginya foto sang ibu yang meninggal waktu Mitha kelas 6 SD, beliau sakit dan akhirnya meninggal dunia, ia merindukan pelukan sang Mama yang telah tiada.
Wajah cantik itu, membuat Mitha rindu, didalam foto itu ada sang Ayah, Mama, Mas Pram, Mitha juga Siska, Mitha merindukan Siska yang dulu baik dan pengertian sekarang ia berubah, teropsesi dengan dendamnya yang sebenarnya belum ia ketahui.
Sang ayah memberikan sebuah koran 25 tahun yang lalu dimana ayah Siska, meninggal karena jadi tersangka buronan,
Mitha akan menjaga dan menyimpan baik-baik koran itu agar jadi bukti ketika Siska berbuat macam-macam padanya, Mitha perlahan-lahan tidur dalam keheningan malam.
Matahari sudah menampakkan wajahnya Mitha dan yang lain bersiap untuk kembali pulang, mereka berpamitan dengan sang ayah juga kakaknya Pram.
"Jaga diri baik-baik nduk? Inget pesen ayah."
"Injih Ayah,," sambil memeluk sang Ayah.
"Hati-hati Tha, Mas hanya bisa bilang tetep waspada jangan sampai lengah," pesen kakak pada adiknya.
"Injih Mas," ucap Mitha sambil memeluk kakaknya.
Mitha menagis sambil mencium takzim tangan sang Ayah juga Masnya, ia harus berjuang sendirian disana, mereka masuk kedalam mobil, ada mang kardi, simbok, Fiko, Raka, Rania juga Mitha.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, mereka mengambil jalur Tol agar cepat sampai, beberapa jam kemudian mereka sudah memasuki kota surabaya dan sampailah dirumah sang Mama, yang telah melahirkan Fiko kedunia ini. Mitha juga anak-anak turun dari mobil, mereka masuk dan sang Mama menyambut menantu juga cucu-cucunya. Sang mama memeluk Raka juga Rania.
"Gimana sayang kabarnya baik?" tanya sang mama pada Mitha.
"Alhamdulillah Mama, Mitha baik." jawab Mitha pada mamanya.
"Syukurlah,,kalau baik-baik saja? Lo Fiko ikut satu mobil juga sama Mitha?" tanya sang mama heran.
__ADS_1
"Iya Mama, Fiko terakir bertanding di solo pulangnya dianterin sama para kru nya jadi ya sudah Fiko mampir saja kerumah Pak Ferdi." Jawab Fiko santai.
"Oh begitu, Mitha kamu sana Mandi dulu, Ada yang mau Mama bicarakan nanti." ucap sang mama.
"Injih Ma," ucap Mitha dan berlalu pergi.
Mitha beranjak pergi menuju kamar untuk mandi begitu juga dengan Raka dan Rania. Mereka sudah rapi dan wangi lagi, Mitha menatap lekat wajahnya didepan cermin, ia memandangi wajahnya yang terlihat kurus,
Berapa hari ini pikirannya terlalu berat membuatnya begitu pucat. Jika ini memang ujianmu kuatkan aku yaa Robb, kuatkan aku untuk menjalani takdirku ini.
"Fiko gimana pak Ferdi sama Mas nya Mitha marah ndak?" Tanya sang mama pada Fiko.
"Marah sin ndak Mama, lebih ke kecewa, tapi sama Fiko baik ko Ma, Ayah juga kakaknya Ramah sama Fiko." jawab Fiko sebenarnya.
"Alhamdulillah deh Fiko, Mama takut saja mereka benci sama kita," ucap mamanya.
"Tuh kan Mama suka aneh-aneh mikirnya nanti sakit saja gimana? Makanya Fiko nyusul kesana Ma, agar Fiko tahu keluarganya Gimana, ternyata ya welcome sama Fiko."
Jawab Fiko pada mamanya yang cemas.
"Ya sudah mama ikut lega Fiko," ucap sang mama sambil tersenyum.
Sang Mama menceritakan tentang rencana Bram yang akan menggugat cerai Mitha, dan Bram membelikan rumah untuk Mitha, tapi Mama harus berbohong jika yang membelikan rumah adalah mamanya.
Fiko setuju karena Fiko tau pasti Mbak Mitha tidak akan mau tinggal disini.
Mitha berjalan menuju sang Mama, ia tahu apa yang akan disampaikan sang mama, pasti mama menyuruhnya tinggal disini, apa kata tetangga jika ia tetap tinggal disini. Ia duduk disamping Mama mertuanya.
"Ada Apa Mama?" tanya Mitha pada mamanya.
"Kemarin Bram sudah mengajukan gugatanya ke pengadilan Tha!" jawab mamanya.
Diam
Hening
Mitha berusaha membendung air matanya yang mau keluar.
"Tha, kamu baik-baik saja?" tanya sang mama cemas karena Mitha hanya Diam.
"Mitha baik Mama, apa ini berarti selesai Mama?" jawab Mitha pada mamanya.
"Sini Mama peluk, Mama tau ini menyakitkan Mitha tapi cobalah untuk mengingat keselamatan anak-anakmu." ucap mamanya pada Mitha.
"Mama, Dalam Mimpipun Mitha tidak pernah ingin menjadi janda Ma? Tapi, kenyataanya berbeda Sebentar lagi Mitha akan jadi janda Mama, Apa salah Mitha Ma? Hingga Mitha menderita seperti ini Mama." ucap Mitha sambil menagis dipelukan sang Mama.
"Sabar sayang sabar, Mama tahu apa yang Mitha Rasakan, percayalah sayang semua akan baik-baik saja." mama Wulan menengkan Mitha.
"pernikahan Mitha yang sudah 8 tahun hancur dalam hitungan Minggu Ma!" Mitha frustasi memeluk mamanya.
Bram yang mendengar dari balik pintu badanya lunglai jatuh ke lantai sambil mengusap rambutnya kasar, sungguh ia yang bersalah atas semua ini, ia tak tega mendengar tangis sang istri, ingin ia berlari dan memeluk sang istri, Tapi, apa dayanya istrinya sekarang begitu membencinya.
Bram berlalu pergi meninggalkan rumah sang Mama, ia tak kuat menahan perih didalam hatinya, ia melajukan Mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia membanting setir mobilnya, dan berhenti di jembatan,
Aahhhhhhhhhhhhh, aku benci diriku sendiri
Wahai hembusan angin sampaikan pada Mitha bahwa aku Bramantyo begitu mencintai Shelomitha Sandara,,,
__ADS_1
Lalu lalang mobil, mereka memperhatikan jeritan sang pemuda yang ada ditepi jembatan, Bram terjatuh di pinggir jembatan, jika ia menginggat kenangan bersama shelomitha ia sungguh tak bisa berkutik dalam perasaan bersalahnya.
Bram melajukan mobilnya dengan perasaan yang entah sulit untuk diungkapakan, hati dan cintanya telah hancur bersama hembusan angin, ia hidup tapi jiwanya telah mati sejak gugatan itu di ajukan dipengadilan.
Mitha hanya memandangi ikan-ikan milik Fiko yang sedang berenang bebas, air matanya tumpah, sang Mama dan Fiko takut akan keadakan sang menantu, bagaimana cara membuat menantunya tidak bersedih lagi,
"Fiko, Mama ndak tega lihat Mbakyu mu? Gimana cara Mama hibur dia." tanya mamanya pada Fiko.
"Fiko juga Ndak tau Mama, biasanya mama yang banyak akal juga?" jawab Fiko oada mamanya.
"Apa ya Mama ndak bisa mikir Fiko." ucap mamanya begitu cemas melihat Mitha.
"Ma-Mama tau lah Fiko mau tidur dulu, pusing Fiko mikirinnya," ucap Fiko pada mamanya.
"Dasar tidak kasian apa sama Mitha?" tanya mamanya gelisah.
"Sudah ah Ma Fiko kekamar," ucapnya sambil melangkah pergi.
"Hmmmm dasar," ucap mama Wulan kesal.
Fiko berjalan memasuki kamar, sebenernya ia ndak tega melihat mbakyu nya tapi sudahlah mungkin mbakyu nya butuh sendiri. Sang Mama menghampiri Mitha, mama Wulan menyuruh mitha untuk istirahat dikamar, Mitha pun berjalan memasuki kamarnya.
Direbahkannya tubuh di atas ranjang, Mitha menatap jendela yang masih terbuka, ia lalu berjalan dan menutupnya, Mitha duduk dikursi balkon atas sambil melihat bintang yang bersinar, ponselnya bergetar, Mitha masuk mengambil ponsel miliknya ada pesan dari Fiko satu menit yang lalu.
[Mbakyu, maaf kalau Fiko lancang, bukan karena Fiko pintar, atau menggurui Mbak Mitha, Tapi inggatlah ayat ini;
Bismillahirrahmanirrahim
“Dan sungguh kami akan mengujimu dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan dalam hal harta, jiwa, dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira terhadap orang-orang yang bersabar.”
(QS. al Baqarah : 155).
Apapun ujian mu, yakinlah, Allah tahu yg terbaik untukmu....
Semangat mbakyu ku Mitha, Fiko tahu pasti bisa lewati ini semua,]
Mitha tersenyum, adik iparnya mengigatkannya akan satu hal, Allah selalu ada disisinya, Mitha pun tertidur hingga malampun berganti pagi.
Suara adzan membangunkan Mitha, ia lalu bergegas menjalankan kewajibannya, Mitha membantu simbok didapur untuk menyiapkan sarapan, semua makanan sudah tersedia di meja makan, semua berkumpul dan sarapan bersama-sama.
"Bunda, Raka siapa yang mengantar kesekolah?" tanya raka pada sang Bunda.
"Sama Bunda sayang," jawab Mitha.
"Eyang ikut boleh sayang, biar nanti dianter sama Om Fiko." ucap Eyang pada Raka.
"Boleh Eyang," ucap Raka senang.
"Rania sama simbok ya dirumah?" kata sang bunda pada Rania.
"Baik Bunda," jawab Rania nurut sama Bundanya.
Tok tok tok Assalamu'alaekum
Waalekum'salam ucap semuanya, Ada pak pos datang mencari Mitha, Mitha lalu keluar, dan menemui pak pos. Ia tanda tangan sebagai bukti kalau surat sudah sampai, lalu pak pos pergi. dibukakanya isi amplop dan ternyata Dari pengadilan agama, Gugatan dari suaminya Brammantiyo, panggilan sidang perceraian.
Next....
__ADS_1
Terimakasih buat dukungannya, tinggalkan like serta koment🌹🙏