Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Meninggal Dunia


__ADS_3

Alvin yang mendengar suara tangisan istrinya segera berlari memasuki kamar di mana Alena sedang berada saat ini. Istrinya itu nampak sedang menangis sesenggukan seraya memeriksa denyut jantung Nyonya Inggrid. Alena bahkan melakukan metode pompa jantung untuk mengembalikan denyut jantung Ibu yang telah berhenti.


"Cukup, sayang. Kasian Ibu," pinta Alvin segera meraih tubuh Alena dan memeluknya erat.


"Ibu, Mas. Ibu ... Hiks hiks hiks!" lirih Alena tangisnya semakin lirih terdengar.


"Iya, sayang. Kamu yang sabar ya. Ibu--" Alvin tidak kuasa untuk meneruskan ucapannya. Dadanya terasa sesak, Alvin tidak bertanya apapun karena dia sudah dapat menebak bahwa sang Ibu telah tiada.


"Ibu sudah tidak ada, Mas. Kenapa Ibu pergi tanpa pamit? Kalau saja aku tahu Ibu akan pergi, mungkin aku akan menemani Ibu semalam. Kenapa Ibu harus menghadapi Malaikat maut sendirian, hiks hiks hiks!"


Alvin tidak mengatakan apapun lagi. Jujur, dia benar-benar syok atas meninggalnya sang Ibu mertua. Baginya, Nyonya Inggrid bukan hanya seorang mertua, tapi juga Ibu kedua baginya. Dia lebih dekat dengannya dari pada dengan Ibu tirinya sendiri. Seperti diketahui bahwa Alvin memiliki Ibu tiri, tapi dia tidak terlalu dekat dengan wanita bernama Rieta, Istri dari sang Ayah.


Meninggalnya Nyonya Inggrid tentu saja menorehkan luka yang teramat dalam di hati seorang Alvin. Dia telah kehilangan Ibu mertua yang telah dia anggap seperti Ibu kandungnya sendiri. Alena perlahan mulai mengurai pelukan, perasaanya sudah sedikit tenang meskipun suara isakan itu masih lirih terdengar. Dia menutup seluruh tubuh Ibu dengan selimut tebal.


"Beristirahatlah dengan tenang, Bu. Semoga Ibu bisa berkumpul dengan ayah di surga," lirih Alena, menatap lekat wajah sang Ibu lalu mendaratkan bibirnya di kening Ibu sebelum akhirnya benar-benar menutup wajahnya dengan kain.


Alena kembali memeluk tubuh suaminya lalu benar-benar memuntahkan kesedihannya dan menangis di dalam dekapan Alvin. Tidak lama kemudian, Lani dan kedua adiknya pun masuk ke dalam kamar. Lani berjalan dengan langkah kaki gontai, kedua matanya menatap sayu tubuh sang Nenek yang saat ini tertutup rapat. Bibir gadis itu nampak gemetar menyebut nama sang Nenek lengkap dengan buliran air mata yang membanjiri kelopaknya kini.


"Eyang? Eyang kenapa, Mom? Kenapa wajah Eyang di tutup kain? Kasihan Eyang pasti merasa sesak nanti," lirih Lani dengan tubuh yang gemetar.


Grep!


Alena mengurai pelukan suaminya lalu memeluk tubuh sang putri. Sama halnya seperti Alena, putrinya itu begitu terpuruk atas meninggalnya Nyonya Inggrid. Tangis Lani benar-benar pecah di dalam dekapan sang Ibu. Bukan hanya Lani saja, baik Lian maupun Naila si bungsu pun nampak menangis sesenggukan setelah mengetahui bahwa Nenek kesayangan mereka telah tiada.


.


Sementara itu di kediaman Fazril.

__ADS_1


Prank.


Gelas yang sedang di genggam oleh Fazril tiba-tiba lolos dari telapak tangannya dan mendarat di atas lantai. Kopi hangat yang semula hendak dia minum pun seketika tumpah dengan gelasnya yang kini pecah berserakan di atas lantai. Nuri yang menyaksikan hal tentu saja merasa terkejut, dia segera menghampiri suaminya yang saat ini nampak tertegun dengan dada yang tiba-tiba saja terasa sesak tanpa sebab.


"Kang Mas? Astaga, kamu kenapa, Mas?" tanya Nuri berjongkok lalu meraih satu-persatu pecahan beling yang berserakan dari atas lantai dengan jarinya.


Fazril masih diam membeku. Dia mengusap dada sebelah kiri di mana jantungnya berada di dalam sana terasa berdetak tidak karuan. Tatapan matanya nampak kosong menatap ke depan.


"I-ibu!" gumamnya secara tiba-tiba mengingat sang Ibu.


"Argh!" Nuri tiba-tiba saja meringis kesakitan saat serpihan tajam tiba-tiba menggores jari telunjuknya.


Seketika itu juga Fazril seketika tersadar dari lamunan panjangnya. Dia menunduk menatap tubuh sang istri lalu berjongkok tepat di depannya kini.


"Sayang! Maafkan Mas, saya gak sengaja menjatuhkan gelas ini tadi. Saya sudah memegangnya kuat padahal. Eu ... Sepertinya kamu tergores, sayang. Sudah, biar saya saja membereskan ini nanti. Lebih baik kita obat luka kamu dulu ya. Pasti rasanya sakit sekali," ucap Fazril menatap darah segar yang menetes di lantai, keningnya nampak dikerutkan seolah bisa merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh istrinya.


"Meksipun hanya luka biasa, harus tetap di obati lho. Kamu tunggu sebentar di sini ya. Saya ambilkan obat luka dulu. Ingat, serpihan beling ini biar saya saja yang membersihkan, oke?"


Nuri menganggukkan kepalanya seraya meringis menahan rasa perih. Dia pun duduk di kursi, sementara Fazril berjalan ke arah belakang untuk mengambil obat yang di butuhkan.


Dret! Dret! Dret!


Ponsel Fazril yang tergeletak di atas kursi seketika bergetar, Nuri segera meraihnya dan menatap layarnya sejenak. Nama Alena nampak tertera di layar ponsel tersebut, dia pun mengangkat telpon kemudian.


📞 "Halo, Lena. Ini Mbak," sapa Nuri mengangkat telpon.


📞 "Eu ... Abang mana, Mbak? Ibu, Mbak. Ibu, hiks hiks hiks!"

__ADS_1


📞 "Tenang Lena, ada apa sama Ibu? Bicara pelan-pelan, kenapa kamu menangis seperti ini?"


📞 "Ibu, Mbak. Ibu udah gak ada, hiks hiks hiks!"


Nuri seketika menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. Bola matanya membulat sempurna juga memerah merasa terkejut tentu saja. Semalam Ibu mertuanya itu masih baik-baik saja, bahkan terlihat bahagia pasca bertemu kembali dengan cucu kesayangannya.


📞 "A-apa? Ibu kenapa? Jangan bercanda, Lena. Semalam Ibu baik-baik saja," tanya Nuri kemudian.


📞 "Mana mungkin aku bercanda, Mbak. Ibu meninggal, cepat beri tahu Abang sekarang juga. Dia belum berangkat ke kantor 'kan?"


📞 "Ya Tuhan, Ibu! Gak mungkin Ibu meninggalkan kami semua, hiks hiks hiks!"


"Apa maksud kamu, Nuri? Ibu kenapa? Ada apa dengan Ibu?" tanya Fazril yang baru saja kembali usai mengambil obat luka untuk istrinya.


"Ibu, Mas. Ibu--" ucap Nuri menahan ucapannya, dia berdiri lalu memeluk tubuh suaminya erat.


"Ada apa sama Ibu, Nuri. Cepat katakan, jangan membuat saya bingung!"


"Alena baru saja nelpon, katanya Ibu meninggal pagi ini."


Bruk!


Tubuh Fazril tiba-tiba saja ambruk di atas lantai. Kedua kakinya terasa sangat lemas. Kedua mata laki-laki itu seketika membanjir. Bibir Fazril bahkan tidak mampu dia gerakkan karena terlalu terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Tidak! Ibu tidak mungkin pergi untuk selamanya. Ibu gak mungkin meninggal, Ibu masih baik-baik saja semalam," gumam Fazril, hatinya masih enggan untuk mempercayai bahwa sang Ibu telah tiada.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2