
"Maaf, Anda yang tadi saya telpon?" tanya Alvin, sementara Lani terlihat ketakutan usai mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh laki-laki yang di duga adalah putra dari orang yang dia tabrak.
"Betul, saya adalah orang yang Anda telpon. Saya putra dari korban tabrak lari ini," jawab laki-laki tersebut ketus.
"Maaf, tapi saya tidak melakukan tabrak lari, saya segera membawa Bapak ini ke sini setelah saya menabraknya secara tidak sengaja. Sungguh, saya tidak melakukan tabrak lari!" ujar Lani dengan bola mata memerah juga dengan nada suara bergetar.
"Jadi kamu yang telah menabrak Ayah saya?"
"Maaf, saya benar-benar minta maaf. Semua ini terjadi begitu saja. Saya janji akan bertanggung jawab, saya akan membiayai Ayah Anda sampai beliau sembuh."
"Mana mungkin menabrak seseorang karena tidak sengaja? Kamu pasti mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Merasa hebat, merasa telah menguasai jalanan sampai-sampai kamu membahayakan keselamatan orang! Dasar orang kaya arogan!"
"Cukup, Mas. Saya tahu Mas merasa sedih dan marah atas apa yang menimpa Ayah Anda, tapi putri saya tidak melakukan tabrak lari seperti yang Anda tuduhkan. Dia bertanggung jawab, buktinya Ayah Anda berada di sini sekarang. Kata Dokter juga keadaan dia sudah baik-baik saja. Jadi, tahan emosi Anda, Mas," tegas Alena merasa tidak terima karena putrinya disudutkan sedemikian rupa.
"Baik-baik saja gimana? Apa Anda tidak lihat Ayah saya belum siuman?"
__ADS_1
"Cukup, Rendi. Ayah baik-baik saja." Tiba-tiba terdengar suara orang lain yang tidak lain dan tidak bukan adalah sang korban.
Laki-laki paruh baya itu ternyata sudah siuman. Dia menatap sayu wajah laki-laki bernama Rendi. Suaranya terdengar lemah, menahan rasa sakit.
"Ayah! Ayah sudah siuman. Syukurlah! Saya benar-benar merasa khawatir sekali," ujar Rendi menghampiri sang Ayah dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Jangan menyalahkan mereka. Ayah yang salah karena menyebrang jalan sembarangan, seharunya--"
"Sudah cukup, Yah. Jangan bicara lagi, Ayah masih lemas. Katakan, bagian mana yang sakit, heuh?" sela Rendi mengusap wajah sang Ayah lembut dan penuh kasih sayang.
"Tidak ada yang sakit, Ayah baik-baik saja."
"Harus! Anda harus bertanggung jawab. Ayah saya sehat dan harus kembali sehat lagi seperti sedia kala," sela Rendi lagi-lagi dengan nada ketus.
"Saya orang tua Lani memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan yang telah dia lakukan. Musibah datangnya tidak terduga dan tidak dapat di prediksiksi, tapi seperti yang dikatakan oleh putri saya ini, bahwa kami akan bertanggung jawab. Bapak tidak usah khawatir masalah biaya pengobatan, kebetulan saya salah satu Dokter yang bekerja di sini, saya pastikan Anda akan mendapatkan pengobatan terbaik dan perawatan terbaik di Rumah Sakit ini sampai Anda benar-benar sembuh seperti sedia kala," ujar Alena meminta maaf dengan tulus.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, namanya juga musibah. Saya juga yang salah karena tidak berhati-hati saat menyebrang jalan. Tidak usah terlalu dipikirkan, Nak Lani juga sudah bertanggung jawab dengan langsung membawa saya kemari. Kalau tidak, mungkin saya sudah benar-benar wafat sekarang."
"Ayah, kenapa Ayah bicara seperti itu? Astaga, Ayah! Mereka--"
"Cukup, Nak. Jangan terlalu memojokkan mereka, Nak Lani sudah bertanggung jawab dengan membawa Ayah ke sini dan akan membiayai seluruh pengobatan Ayah, kamu tidak boleh dendam lagi kepada mereka."
Rendi menoleh dan menatap wajah Lani yang saat ini terlihat pucat pasi. Raut wajah gadis itu terlihat penuh penyesalan. Ada rasa sesal yang kini terselip di dalam lubuk hati seorang Rendi, kenapa dirinya bersikap terlalu keras kepada gadis ini.
"Eu ... Mohon maaf, Pak. Nak Rendi, saya masih harus bertugas. Sudah terlalu lama saya meninggalkan pekerjaan saya. Saya dan suami saya mohon pamit, sekali lagi mohon maafkan atas kesalahan yang tidak di sengaja yang telah dilakukan oleh putri saya," ucap Alena berpamitan.
"Iya, Bu Dokter. Maafkan putra saya juga karena telah bersikap seperti itu tadi. Terima kasih kepada Nak Lani karena telah bertanggung jawab dan membawa saya ke sini," jawab Bapak tersebut ramah dan sopan.
"Sama-sama, Pak. Saya janji tidak akan lari dari tanggung jawab. Saya juga akan sering berkunjung kemari untuk melihat keadaan Bapak. Saya permisi," lirih Lani yang juga berpamitan. Mereka bertiga pun berbalik dan hendak keluar dari dalam ruangan.
"Tunggu, La-ni" pinta Rendi dengan nada suara terbata-bata membuat mereka bertiga sontak menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Eu ... Maafkan saya karena telah bersikap ketus tadi. Terima kasih karena telah membawa Ayah saya ke Rumah Sakit," ucapnya lagi penuh penyesalan.
BERSAMBUNG