
Dret!
Satu pesan kembali masuk, Alvin segera meraih ponsel milik sang istri yang saat ini tergeletak di atas lantai. Pesan pun di buka, sebuah pesan gambar di mana poto Lian sedang duduk manis di kursi di dalam pesawat. Wajah anak itu terlihat begitu ceria. Dua jari dia letakan di pipinya berpose begitu manisnya.
"Lian ..." Gumam Alena, air mata itu seketika mengalir tidak dapat lagi dia tahan, jarinya bergerak mengusap wajah sang putra merasa begitu terluka.
"Kita harus ke bandara, Mas. Siapa tahu pesawatnya belum lepas landas," ujar Alena seketika bangkit dan hendak pergi.
"Tunggu, sayang! Kamu tenang dulu." Cegah Alvin meraih telapak tangan istrinya mencegah kepergiannya.
"Tenang? Bagaimana aku bisa tenang? Si brengsek itu membawa Lian jauh, bahkan sampai ke negeri. Dia sengaja melakukan ini untuk memisahkan aku dengan putraku, Mas. Pokoknya kita ke bandara sekarang juga!"
"Percuma, sayang. Percuma, kamu gak liat mereka sudah berada di dalam pesawat. Mereka mungkin sudah terbang sekarang. Lagi pula jarak dari sini ke bandara itu tidak dekat, Lena."
"Lalu aku harus bagaimana, Mas? Aku gak mau dia membawa Lian. Apa yang akan terjadi dengan aku nantinya, Mas? Aku gak bisa hidup tanpa anak-anakku, hiks hiks hiks!"
Grep!
Alvin seketika memeluk tubuh Alena erat. Hari pernikahan yang semula berlangsung bahagia kini berakhir nestapa. Alviano telah berhasil menghancurkan hari bahagia mereka. Balas dendam yang dilakukan oleh laki-laki itu pun sukses dia lakukan. Membawa salah satu putranya adalah hal yang paling menyakitkan bagi Alena tentu saja.
"Lian putraku, hiks hiks hiks!" Tangis Alena semakin terdengar menggelegar. Suaranya terdengar pilu seraya mendekap erat tubuh suaminya.
__ADS_1
Alvin tidak bisa melakukan ataupun mengatakan apapun. Dia bingung harus berbuat apa sekarang. Berbeda dengan kasus Lani kala itu, di mana anak itu hilang dan mereka masih bisa mencari juga melaporkanya kepada pihak kepolisian. Lian berbeda, dia ikut bersama sang ayah dengan suka rela. Kepergiannya pun tidak dipaksa.
"Kamu yang sabar, sayang. Kita berdoa saja semoga Lian baik-baik saja, semoga saja ayahnya bisa menjaga dia dengan baik. Ingat, dia ayah kandung Lian, Alviano tidak mungkin menyakiti Lian karena dia juga sayang sama putra kamu. Maaf, karena saya tidak bisa melakukan apapun sebagai suami dan ayah sambung Lian, saya benar-benar menyesal, Lena." Lirih Alvin panjang lebar.
"Tidak, kamu tak salah, Mas. Dia yang salah, si Alviano sengaja memisahkan aku dengan salah satu putraku. Dia tahu betul bahwa ku tidak bisa hidup tanpa salah satu dari mereka. Meskipun rasanya sakit sekali, perasaan aku juga hancur saat ini, tapi aku akan mencoba untuk percaya dengan apa yang baru saja kamu katakan bahwa, Lian akan baik-baik saja dengan ayah kandungnya. Aku pun sadar, dia bukan hanya putraku, Alviano juga berhak atas anak itu. Aku akan mencoba untuk ikhlas karena aku juga tak mungkin mengejar dan mencari dia seperti aku mencari Lani dulu, hiks hiks hiks!" ucap Alena panjang lebar.
"Kamu benar-benar wanita yang hebat, sayang. Saya bangga sama kamu, saya beruntung memiliki istri seperti kamu, Lena."
"Aku minta maaf, Mas."
"Minta maaf untuk apa?" tanya Alvin seketika mengurai pelukan lalu menatap wajah istrinya lekat.
"Malam pertama?"
Alena menganggukkan kepalanya seraya menunduk penuh penyesalan.
"Astaga, sayang. Saya tidak apa-apa, sungguh. Kamu dalam keadaan seperti ini, mana mungkin kita melakukan malam pertama? Kita masih memiliki banyak waktu. Kita bisa melakukan hal itu kapan pun sayang," jawab Alvin tersenyum kecil.
"Terima kasih Karena kamu mau mengerti, Mas?"
Alena kembali memeluk tubuh suaminya erat.
__ADS_1
.
Hari berganti dan waktu berlalu. Seminggu sudah Alena menyandang status sebagai seorang istri dari laki-laki bernama Alvin. Satu minggu sudah mereka menunda malam pertama mereka. Ada beberapa faktor yang memaksa mereka menahan hasrat masing-masing, Lani tiba-tiba saja demam tinggi. Sepertinya dia terlalu merasa kehilangan setelah ditinggalkan sang adik.
Meskipun anak itu tidak terlalu banyak bertanya prihal keberadaan Lian, tapi hal itu justru membuat seluruh keluarga besar merasa khawatir karena Lani jadi lebih pendiam. Alvin memutuskan untuk lebih memperhatikan putri sambungnya, menekan egonya dalam-dalam juga menahan keinginannya untuk melakukan ritual malam pertama yang biasa dilakukan oleh pasangan pengantin baru pada umumnya.
Alvin masih tinggal di rumah orang tua Alena. Hal itu pun demi kesehatan Lani, baik kesehatan fisik maupun mentalnya, karena dia yakin betul bahwa kesehatan fisik Lani terganggu karena mentalnya yang juga tidak baik-baik saja.
"Lani makan dulu ya, Mommy suapin, mau?" tanya Alena, duduk tepat di samping Lani yang saat ini sedang duduk sendirian di depan televisi yang sedang menyala.
"Aku gak lapar, Mom," jawab Lani dengan nada suara datar, kedua matanya seolah sedang menatap televisi berukuran besar itu, tapi sebenarnya dia melayangkan tatapan kosong.
"Dari pagi kamu belum makan lho, Nak."
Lani diam seribu bahasa dengan wajah datar.
"Sayang, kalau Daddy yang suapin, mau? Gimana kalau makannya sambil menghirup udara segar di taman? Kamu baru saja sembuh kalau nanti sakit lagi, gimana? Daddy sedih lho melihat kamu sakit seperti ini," lirih Alvin berjalan menghampiri lalu duduk tepat di samping sang istri.
"Aku kangen sama Dede, Mom, Dad. Dia di mana sekarang? Kenapa Dede gak pulang-pulang? Sudah lama sekali lho Daddy Alviano membawa Lian. Kata aku juga apa, Daddy Alviano itu jahat. Kenapa kalian tidak percaya sama aku? Kenapa juga Mommy sama Daddy tidak mencari Dede Lian seperti kalian mencari aku waktu itu? Kalian sama saja seperti Daddy Alviano, kalian tidak sayang sama Dede Lian! Aku benci semuanya, aku benciiii!" Lani tiba-tiba saja berteriak histeris lalu berlari meninggalkan ibu dan juga ayah sambungnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1