
Entah sadar atau tidak, Alena membalas ciuman Alvin seraya memejamkan kedua matanya kini. Dia bahkan melingkarkan kedua tangannya di leher laki-laki itu. Jiwanya benar-benar bergejolak, batinnya merasa bahagia. Dirinya serasa mendapatkan siraman air hujan setelah berada di gurun tandus dan gersang.
Alena menyandarkan punggungnya di tembok. Lingkaran tangannya pun kian erat kini, begitu pun dengan bibirnya yang kian dalam mengeksplor bagian salam bibir Alvin. Sampai akhirnya keduanya pun perlahan mulai melepaskan tautan bibir masing-masing dengan ujung kepala yang saling menempel juga wajah yang sangat dekat.
"Maaf karena sudah lancang melakukan hal ini," lirih Alvin, napasnya tersengal-sengal menatap bibir Alena yang sedikit membengkak.
"Jangan pernah melakukan hal ini lagi. Jangan pernah mencium ku tanpa izin lagi," jawab Alena, kembali mendaratkan bibirnya di bibir Alvin. Ciuman panas pun mereka lanjutkan sampai keduanya benar-benar merasa puas.
* * *
Di perjalanan, baik Alena maupun Alvin tidak mengatakan sepatah kata pun, keduanya benar-benar merasa canggung. Alena menoleh ke arah samping, menatap keluar jendela mobil di mana pepohonan besar terlihat silih bergantian. Sementara Alvin menatap lurus ke depan seolah fokus menyetir, tapi nyatanya pikirannya melayang memikirkan wanita yang saat ini tengah duduk tepat di sampingnya.
"Len!"
"Mas!"
Keduanya secara bersamaan. Lalu seketika tersenyum malu-malu dan saling menoleh sekejap lalu kembali menatap ke arah lain. Keduanya pun mencoba untuk menahan senyuman di bibir masing-masing.
"Kamu duluan, Len. Kamu mau mengatakan apa?" tanya Alvin.
"Nggak, Mas yang duluan aja."
"Tidak, ladies first. Perempuan nomor satu."
__ADS_1
Alena tersenyum kecil lalu menoleh dan menatap wajah Alvin kini.
"Eu ... Bukannya hari ini Mas ada jadwal ngajar? Kelas Mas gimana dong? Sekarang saja kita masih di jalan lho," tanya Alena kemudian.
"Gak apa-apa, saya sudah meminta sama Dosen pengganti untuk menggantikan saya hari ini. Kamu tak usah khawatir," jawab Alvin melirik ke arah Alena sekejap.
"Oh begitu rupanya. Syukurlah, aku takut waktu ngajar Mas Alvin terganggu karena aku. Eu ... Tadi Mas mau bilang apa?"
"Kejadian yang tadi hotel itu--"
"Gak usah di bahas, Mas."
"Saya minta maaf, saya tidak bermaksud untuk melecehkan kamu, Len. Saya hanya--" Lagi-lagi Alvin tidak meneruskan ucapannya. Rasanya canggung sekali untuk membahas kejadian yang tidak terduga itu.
Keheningan pun kembali tercipta, baik Alena maupun Alvin kembali membayangkan kejadian itu. Alena bahkan tanpa sadar mengusap bibirnya, seolah masih bisa merasakan setiap ******* yang dilayangkan oleh laki-laki bernama Alvin ini.
Jujur, dia begitu menikmatinya tadi. Jiwanya terasa melayang padahal mereka tidak lebih dari hanya sekedar berciuman. Sebagai seorang janda, diam-diam Alena begitu mendambakan sentuhan dan jamahan oleh seorang laki-laki.
"Ko jadi melamun gitu? Kamu lagi membayangkan kejadian tadi ya?" celetuk Alvin membuat Alena seketika menyudahi lamunan panjangnya.
"Hah? Ng-nggak ko, siapa bilang?" jawab Alena terbata-bata semakin merasa gugup saja.
"Kata saya 'lah, 'kan saya sendiri yang bilang barusan."
__ADS_1
"Dih, apaan sih? Emangnya Mas Alvin paranormal apa?" Alena menahan senyuman di bibirnya.
"Jadi bener 'kan?"
"Apa?"
"Kamu lagi ngebayangin kejadian tadi?"
"Ti-tidak."
"Hahahaha! Kamu semakin menggemaskan kalau lagi gugup kayak gitu, saya semakin sayang sama kamu, Len."
Lagi-lagi Alena mencoba untuk menahan senyuman di bibirnya. Dia memalingkan wajahnya tidak ingin kalau sampai Alvin melihat kedua sisi pipinya yang kian merah merona kini. Hati Alena benar-benar merasa berbunga-bunga. Untuk beberapa saat dia seperti melupakan masalah besar yang sedang menimpanya saat ini.
Alvin seperti sebuah harapan baru baginya. Laki-laki ini bak sebuah pelangi setelah hujan badai. Dosen yang dia juluki dengan sebutan Dosen killer pada awalnya, kini menjelma bak matahari yang terasa hangat di pagi hari, terasa panas bagai sebuah kekuatan di siang hari, dan begitu indah di sore hari ketika sang matahari mulai memasuki peraduannya di ufuk barat.
Tanpa sadar, rasa cinta itu sudah benar-benar tumbuh dan menjalar di dalam jiwa seorang Alena.
"I love you, Alena."
"I love you too, Mas Alvin," jawab Alena yang saat ini masih larutan dalam lamunannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...