Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Calon Istri


__ADS_3

Tanpa sadar, Alena dan juga Alvin masuk ke dalam ruangan kelas masih dengan tangan yang saling ditautkan. Hal itu tentu saja membuat semua mahasiswa maupun mahasiswi yang sudah duduk manis di kursi masing-masing seketika riuh menatap ke arah mereka kini. Tidak sedikit dari mereka menebak dan menerka bahwa sang Dosen dan mahasiswi yang menyandang status janda itu sedang menjalin kasih.


"Cie-cie, gandengan tangan nieh!" Teriak salah satu mahasiswi yang duduk di barisan paling belakang.


Alena merasa terkejut tentu saja. Dia pun berusaha untuk melepaskan tautan tangannya, tapi yang terjadi malah sebaliknya, telapak tangannya semakin di genggam erat oleh sang Dosen membuat Alena merasa heran tentu saja.


"Lepasin tangan aku, Pak!" Pinta Alena menggerakkan pergelangan tangannya sedemikian rupa.


"Tidak."


"Hah?"


Alvin berjalan dan berdiri tepat di tengah-tengah, berada di hadapan mereka semua. Dia pun melayangkan senyuman manis lalu melirik ke arah Alena kini.


"Saya akan membuat pengumuman untuk kalian semua," ujar Alvin dengan nada suara lantang.


"Pengumuman apa, Pak Alvin?" Tanya salah satu mahasiswi.


"Wanita yang berada di sebelah saya adalah calon istri saya, jadi jangan ada yang berani mendekati dia. Kalau ada yang berani melakukan hal itu, maka akan berurusan langsung dengan saya, paham?"


Alena seketika menundukkan kepalanya merasa malu. Suara riuh pun semakin nyaring terdengar. Sebagian dari mereka bahkan bertepuk tangan merasa senang dengan kabar tersebut. Namun, tidak sedikit juga yang mencibir dan mengerutkan kening merasa tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh sang Dosen yang terlalu kekanak-kanakan menurut mereka.


"Silahkan duduk, Lena," pinta Alvin seketika melepaskan tautan tangannya.


Alena pun segera berjalan dengan tergesa-gesa untuk duduk di salah satu kursi kosong. Kepalanya nampak menunduk menahan rasa malu. Apakah ini semacam mengumumkan hubungan mereka? Rasanya Alvin tidak perlu sampai mengumumkan hal itu dia rasa. Namun, apalah daya semuanya sudah terjadi dan seisi kampus sudah mengetahui perihal hubungan mereka.


"Hebat ya kamu, baru masuk udah pacaran sama Dosen, kamu benar-benar luar biasa, Alena," ujar salah satu mahasiswi yang saat ini duduk tepat di sampingnya.


Alena hanya menanggapinya dingin. Dia pun mengeluarkan buku catatan juga laptop yang akan menemaninya belajar untuk hari ini.


.


Sementara itu di tempat lain. Lian lebih rewel dari biasanya entah mengapa. Mungkin karena anak itu baru saja sembuh dari sakitnya, tubuhnya pun masih merasakan berbagai hal yang tidak bisa dia ungkapkan selain dengan tangisan yang kini semakin lantang terdengar.

__ADS_1


"Dede kenapa nangis terus sih? Mau main sama kaka?" tanya Lani, menatap wajah sang adik yang saat ini di gendong oleh neneknya.


"Aku mau sama Mommy, hiks hiks hiks!" teriak Lian seraya menangis sesenggukan.


"Mommy lagi sekolah, Dek. Nanti juga pulang ko. Dede main sama kaka yu, mau main kuda-kudaan?"


"Nggak mau, aku mau Mommy, huaaaaa!"


Tangis Lian semakin menggelegar, suaranya terdengar memantul di udara juga memekikkan telinga. Nyonya Inggrid yang saat menggendong sang cucu pun merasa kewalahan tentu saja, karena anak itu menggerakkan tubuhnya sedemikian rupa.


"Cup! Cup! Cup! Sayang, sebentar lagi Mommy pulang, kamu sama Eyang dulu ya," ucap sang Nenek lembut dan penuh kasih sayang.


"Gak mau, aku maunya sama Mommy. Aku ingin Mommy, hiks hiks hiks!"


"Lian kenapa, Bu?" tanya Fazril yang baru saja memasuki rumah tersebut.


"Lian rewel, Zril. Katanya dia ingin sama Mommy-nya," jawab sang ibu mencoba memeluk sang cucu.


"Alena belum pulang?"


"Om, bagaimana kalau kita nyusulin ke sekolahnya Mommy? Kasihan Adek, dari tadi nangis terus," usul Lani seraya mendongakkan kepalanya menatap wajah Fazril kini.


Fazril sempat diam sejenak seolah sedang berpikir. Sepertinya usulan Lani boleh juga, kasian sang ibu jika beliau sampai kerepotan karena menghadapai Lian yang saat ini sedang tantrum.


"Boleh juga. Eu ... Lian sayang, mau ketemu sama Mommy?"


Lian menganggukkan kepalanya dengan dada yang terlihat naik turun. Dia pun menghentikan suara tangisnya. Namun, suara isakan itu masih sedikit terdengar.


"Ma-mau, Om," jawabnya kemudian.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita ke sekolah Mommy?"


"Ma-mau."

__ADS_1


"Baiklah, kita ke sana sekarang, oke? Tapi kamu jangan nangis lagi ya."


Lian kembali menganggukkan kepalanya. Wajahnya pun sudah terlihat tenang. Suara isakan itu pun benar-benar tidak lagi terdengar lagi kini. Fazril meraih tubuh mungilnya dari gendongan sang ibu.


"Aku ikut ya Om," pinta Lani.


"Tentu saja, sayang. Kita ke sana sama-sama."


"Yeeeey!"


"Kamu hati-hati di jalan, Zril. Lian sayang, jangan rewel lagi ya," pinta sang nenek, beliau mengusap lembut wajah cucu kesayangannya mencoba untuk membersihkan buliran air mata yang hampir memenuhi wajah mungilnya.


.


Sesampainya di kampus.


Ckiiit!


Fazril menghentikan mobilnya di area parkir. Dia pun menatap sekeliling sebelum akhirnya keluar dari dalam mobil bersama kedua keponakannya. Laki-laki berusia 32 tahun itu merogoh saku celana dan hendak menelpon Alena sang adik.


"Om, Mommy mana? Ko gak ada?" tanya Lian berdiri tepat di samping kiri sedangkan Lani di sisi kanan laki-laki itu.


"Sebentar Om telpon Mommy kamu dulu ya," jawab Alvin hendak menekan tombol dial.


Akan tetapi, dia pun seketika mengurungkan niatnya saat melihat sang adik sedang berjalan ke arahnya bersama Alvin tentu saja.


"Kalian? Astaga, kenapa kalian bisa ada di sini?" Tanya Alena berjalan menghampiri seraya tersenyum senang.


"Dede nangis terus, Mom. Makannya Om fazril membawa kami ke sini," jawab Lani mewakili Fazril menjawab pertanyaan sang ibu.


"Hmm! Kasihan sekali kamu, Lian. Sini di gendong sama om," lembut Alvin hendak meraih tubuh Lian, tapi telapak tangannya seketika di tepis kasar oleh anak itu membuat Alvin merasa terkejut tentu saja.


"Gak mau, jangan deket-deket sama aku. Aku gak mau sama Om!" teriak Lian menatap wajah laki-laki itu dengan tatapan mata tajam.

__ADS_1


BERSAMBUNG


...****************...


__ADS_2