Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Pusara Sang Ayah


__ADS_3

Lani sontak mendongakkan kepalanya menatap laki-laki yang saat ini berdiri tepat di sampingnya kini. Dia pun berdiri tegak seraya mengusap wajahnya kasar, mencoba untuk membersihkan buliran air mata yang membanjiri hampir seluruh wajahnya kini. Laki-laki paruh baya itu terlihat heran karena baru kali ini ada seseorang yang mengunjungi makam dengan batu nisan bertuliskan nama Alviano.


"Bapak siapa ya?" tanya Lani kemudian.


"Saya penjaga kuburan di sini, Neng. Eneng siapanya mendiang? Baru kali ini saya melihat seorang wanita mengunjungi makam ini," tanya orang tersebut.


"Saya putrinya, Pak. Eu ... Apa selain saya ada orang lain yang mengunjungi makan ayah saya?"


"Hmm! Saya pernah bertemu beberapa kali dengan seorang pemuda yang datang ke sini. Dia juga yang suka membersihkan rerumputan di sini, terkadang dia hanya duduk seharian seperti yang eneng lakukan saat ini, tapi sudah lama sekali saya tidak melihat dia lagi."


"Apa pemuda itu berusia 18 tahunan?"


"Sepertinya begitu, dia seperti berandalan, tapi sepertinya dia anak yang baik karena saya sering melihat dia merawat makam ini, bahkan saya pernah melihat dia menangis sesenggukan di sini."


"Lian?" gumam Lani seketika memejamkan kedua matanya, dia yakin betul bahwa yang sedang dibicarakan oleh laki-laki ini adalah Lian adiknya.


"Terima kasih atas informasinya, Pak."

__ADS_1


Bapak tersebut menganggukkan kepalanya, dia pun berbalik lalu meninggalkan Lani sendirian di tempat itu. Lani kembali menatap batu nisan seolah dia sedang benar-benar menatap wajah sang ayah.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Dad? Kenapa Daddy bisa berakhir seperti ini? Kenapa nenek begitu membenci Dede Lian? Apa yang sudah dia lakukan, Dad? Aku kangen sekali sama Dede, tapi aku gak tahu dia ada di mana sekarang? 15 tahun telah berlalu, tapi aku tidak pernah sekali pun melupakan adikku. Setiap detik, setiap menit, setiap jam bahkan setiap hari aku selalu merindukan dia dan rasanya sangat menyiksa," lirih Lani mengusap batu nisan sang ayah menahan rasa sesak di dadanya.


.


Hampir 1 jam dia berada di tempat itu. Sepi dan hening, tidak ada seorang pun di sana. Hanya semilir angin dan juga suara kicauan burung yang terdengar saling bersahutan. Lani seketika berdiri tegak, tatapan matanya masih menatap lekat gunukkan tanah makam berbalut rerumputan hijau terlihat bersih dan terawat. Kedua matanya nampak memerah, hatinya masih merasakan rasa sakit yang terasa begitu menyiksa.


"Aku pamit, Dad. Aku berharap bisa bertemu dengan Lian di sini, tapi nyatanya dia tidak datang sama sekali. Aku berjanji akal sering datang kemari untuk mengunjungi Daddy. Semoga Daddy tenang di alam sana, aku sayang Daddy," ucapan terakhir Lani sebelum akhirnya berbalik dan melangkah meninggalkan area pemakaman.


Gadis itu berjalan dengan langkah kaki gontai. Semilir angin terasa dingin membasuh wajahnya juga menyapu rambut panjang Lani yang kini di gerai hampir memenuhi punggung. Dia menatap sekeliling dan berjanji akan kembali lagi ke tempat itu suatu saat nanti.


Sampai akhirnya, motor tersebut berhenti tidak jauh dari pusara sang ayah. Sang pengendara membuka helm yang dia kenakan lalu turun dari atas motor. Sementara Lani masih menatap lekat dari kejauhan, tubuhnya diam mematung, bola matanya yang memang sudah memerah sejak awal kini kembali berair. Bibirnya seketika bergumam menyebutkan satu nama dengan nada suara pelan.


"Dede? Dede Lian?" gumam Lani menutup mulutnya menggunakan telapak tangan merasa tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat saat ini. Adiknya benar-benar berada di depan sana.


Kedua kakinya seketika bergerak dan berlari kencang menghampiri adik yang sangat dia rindukan. Perasaanya sulit di ungkapkan dengan kata-kata, akhirnya dia bisa bertemu dengan Lian adalah hal yang sangat Lani impikan selama ini.

__ADS_1


"Lian? Dede Lian?" lirih Lani dengan napas yang tersengal-sengal berdiri tepat di belakang Lian kini.


Pemuda itu sontak menoleh dan menatap wajah Lani dengan kening yang di kerutkan. Sepertinya dia mengenali Lani karena bibirnya seketika tersenyum ramah meskipun hatinya diliputi berbagai tanda tanya akan ekspresi wajah Lani saat gadis ini menatap wajahnya kini.


"Kamu? Kamu yang kemarin ketemu dengan saya 'kan? Kamu kakaknya anak itu? Sedang apa kamu di sini, Mbak?" tanya Lian ramah dan sopan.


Grep!


Lani tidak mengatakan apapun lagi. Dia segera memeluk tubuh Lian erat seraya terisak. Lian tentu saja di buat heran karenanya. Dia pun seketika mengurai pelukan dengan perasaan heran tentu saja.


"Tunggu! Ada apa ini? Kamu siapa sebenarnya?" tanya Lian memundurkan langkah kakinya kemudian.


"Ini kaka Lani, Dek. Apa kamu sudah melupakan kaka, heuh? Apa kamu gak kangen sama kaka, sama Mommy juga?"


Wajah Lian seketika memerah begitupun dengan kedua matanya. Pemuda itu menundukkan kepala mencoba untuk menahan rasa terkejutnya. Lian seperti sedang menahan tangisan di bibirnya itu.


"Maaf, saya tidak punya seorang kaka, apa lagi seorang ibu seperti yang kamu katakan tadi. Sepertinya kamu salah orang. Saya yatim piatu."

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2