Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Pernikahan


__ADS_3

Akhirnya hari itu pun tiba. Hari di mana Alvin akan menjadikan wanita bernama Alena sebagai istrinya. Hari di mana dia akan mengakhiri masa lajangnya. Hari yang sangat di nantikan kedatangannya baik oleh dirinya maupun oleh Alena.


Acara pernikahan pun di gelar di hotel berbintang 5. Meskipun ini bukan pernikahan pertama untuk Alena, tapi pernikahan ini adalah pernikahan pertama bagi Alvin. Dia berharap bahwa pernikahan ini adalah pernikahan terakhirnya dan dia ingin mengadakan pernikahan mewah yang tidak terlupakan baik olehnya sendiri maupun oleh sang istri.


Alvin mengucapkan ijab qobul dengan begitu lancar tanpa cela sedikit pun, hanya dengan satu tarikan napas saja, wanita bernama lengkap Alena Dwi Pratiwi itu pun telah sah menjadi istrinya kini. Raut bahagia terlihat dari kedua keluarga mempelai tidak terkecuali sepasang pengantin itu sendiri. Alena yang saat ini berbalut kebaya modern berwarna putih pun seketika menitikkan air mata tidak kuasa menahan rasa harunya. Akhirnya, dia mengakhiri masa sendirinya tidak perlu menunggu terlalu lama. Kedua putra-putrinya pun terlihat sangat bahagia.


Sepasang pengantin itu pun duduk di kursi pelaminan layaknya raja dan ratu terlihat begitu serasi. Lebih dari 1000 undangan nampak menghadiri acara sakral tersebut. Alena yang saat ini duduk bersama suaminya pun seketika menyipitkan kedua matanya saat melihat seseorang yang dia kenal berada di antara mereka yang datang.


"Alviano?" gumam Alena membuat Alvin seketika menoleh dan menatap wajah sang istri.


"Kamu bilang apa, sayang?" tanya Alvin mengerutkan kening.


"Hah? Eu ... Tidak, ko. Aku seperti melihat orang yang mirip dengan ayah kandungnya anak-anak, tapi sepertinya aku salah. Mana mungkin dia berada di sini, Mas Vian 'kan masih berada di dalam penjara," jawab Alena mencoba untuk menghibur diri sendiri, selain itu dia pun berharap bahwa dirinya salah dalam melihat.


'Mudah-mudahan itu bukan benar-benar dia, tapi kenapa perasaan aku mendadak tidak enak?' batin Alena tiba-tiba saja dilanda rasa gelisah.


"Tidak mungkin, sayang. Tidak sembarangan orang bisa masuk ke sini. Hanya yang memiliki undangan saja yang bisa menghadiri acara kita ini," ujar Alvin mengusap punggung istrinya lembut dan penuh kasih sayang.


"Iya juga. Sepertinya aku memang salah, Mas."


Alvin tersenyum menatap wajah Alena yang terlihat cantik luar biasa dengan mahkota kecil di atas kepalanya kini.


"Anak-anak mana ya? Ko saya tidak melihat mereka?" tanya Alvin menatap sekeliling.


"Tadi anak-anak sama Abang, eu ... Tapi ko Abang cuma sendirian ya?" tanya Alena seketika merasa khawatir saat melihat sang kakak tidak bersama putra-putrinya saat ini. Fazril nampak sedang duduk bersama para tamu undangan tanpa Lani maupun Lian.

__ADS_1


"Mommy!"


Tiba-tiba saja mereka mendengar teriakan Lani yang saat ini berlari menghampiri mereka berdua di atas punggung pelaminan. Wajah gadis kecil itu nampak pucat pasi, bola mata Lani pun memerah terlihat ketakutan membuat Alena dan Alvin seketika merasa heran.


"Kamu kenapa, sayang? Adik kamu mana?" tanya Alena mengerutkan kening.


"Anu, Mom. I-itu!" Lani terbata-bata dengan tubuh yang gemetar.


"Anu apa? Lian di mana, sayang?"


"Da-ddy, Lian sama Daddy. Aku takut, aku gak mau ikut sama Daddy!"


"Apa?" Alena dan juga Alvin secara bersamaan.


Keduanya berlari turun dari pelaminan secara tergesa-gesa ingin segera mencari keberadaan Lian yang konon katanya sedang bersama sang ayah. Apa yang dilakukan oleh sepasang pengantin itu tentu saja mengundang perhatian tamu yang datang, termasuk Fazril dan kedua orang tuanya yang segera mengikuti mereka dari arah belakang.


Alena dan juga Alvin akhirnya tiba di luar gedung dengan napas yang tersengal-sengal. Keduanya mengedarkan pandangan matanya menatap sekeliling mencari keberadaan Lian. Sampai akhirnya mereka pun menemukan apa yang mereka cari.


Lian nampak sedang bercengkrama dengan ayah kandungnya,wajah anak itu terlihat begitu ceria. Senyuman pun mengembang begitu sempurna dari kedua sisi bibirnya kini. Anak itu terlihat begitu senang karena akhirnya bisa bertemu dengan ayahnya setelah sekian lama berpisah.


"Lian!" Alena berteriak memanggil nama sang putra.


Lian sontak menoleh, begitu pun dengan Alviano yang saat mengenakan jaket kulit berwana hitam juga topi dengan warna yang sama.


"Mommy." Lian melambaikan tangannya lalu berlari menghampiri sang ibu sementara Alviano hanya diam membeku.

__ADS_1


Dia menatap wajah Alena yang terlihat begitu cantik mempesona. Wanita ini bahkan terlihat lebih cantik dibandingkan saat dia bersanding bersamanya di pelaminan sekitar 6 tahun yang lalu. Dada Alviano seketika merasa sesak, mantan istrinya ini telah menjadi milik laki-laki lain sekarang.


"Kamu sedang apa di situ, Nak?" tanya Alena berusaha untuk berjongkok agar bisa sejajar dengan sang putra, meskipun dia merasa kesulitan melakukan hal itu akibat kebaya yang dia kenakan.


"Mom, aku mau jalan-jalan sama Daddy ya. Aku seneng deh karena akhirnya aku bisa ketemu sama Daddy. Mommy tahu 'kan aku kangen banget sama beliau," ucap Lian dengan begitu polosnya.


"Tidak, Nak. Mommy gak akan mengizinkan kamu untuk pergi bersama Daddy," jawab Alena bola matanya seketika memerah. Kenapa laki-laki itu harus datang di hari pernikahannya?


"Jangan egois, Alena. Saya ayahnya, masa saya tidak diperbolehkan untuk jalan dengan anak saya sendiri. Kami hanya akan makan, jalan-jalan, setelah itu Lian akan saya pulangkan kembali ke mari," ujar Alviano penuh penekanan.


"Aku tidak percaya sama kamu Alviano. Kamu akan membawa Lian seperti waktu itu kamu membawa Lani!"


"Tidak akan, Mom. Aku berjanji akan kembali lagi ke sini. Aku benar-benar merindukan Daddy." Lian kian merengek.


"Tidak, sekali tidak tetap tidak. Titik!"


"Mommy jahat! Aku benci sama Mommy, aku gak mau ikut sama Mommy, aku maunya ikut sama Daddy!"


Lian seketika berlari menghampiri ayahnya. Anak itu bahkan segera memeluk tubuh sang ayah erat. Alena tidak bisa berbuat apapun lagi kini, dia lebih tahu dari siapapun betapa anak itu sangat merindukan ayahnya.


"Baiklah, Mommy akan mengizinkan kamu pergi sama Daddy, tapi kamu harus janji akan segera pulang setelah kamu puas jalan-jalan sama Daddy kamu ini ya!" jawab Alena akhirnya mengizinkan dengan perasaan berat hati.


"Kamu jangan khawatir, saya ayahnya. Saya tidak akan menyakiti Lian, saya sayang sama dia," ujar Alviano menggendong tubuh putranya lalu berbalik dan meninggalkan mereka.


"Dede! Kaka mohon jangan pergi!" Lani tiba-tiba saja berteriak dan berusaha untuk mengejar, tapi tubuh kecilnya di tahan oleh Fazril sang Om.

__ADS_1


"Lepaskan aku, Om. Daddy itu orang jahat, aku takut Dede Lian di apa-apain sama Daddy! Dede ... Jangan pergi! Hiks hiks hiks!"


BERSAMBUNG


__ADS_2