Pertahanan Seorang Wanita..

Pertahanan Seorang Wanita..
Harmonis


__ADS_3

BAB 104.


Anita semakin salah tingkah, saat Tuan Mahesa memanggil nya dengan sebutan Sayang, dan itu untuk pertama kali nya. "Kalau begini, kapan pekerjaan kita akan selesai Mas. Apa kita akan lembur hari ini ?? "


"Boleh, kita lembur hari ini ya ?? " Ajak Mahesa pada Anita.


"Mas, kita bisa mengerjakan pekerjaan nya sekarang !! Ngapain harus lembur !! mau mengerjakan apa, memang ?? Kalau aku lembur, Nara kasihan Mas !! " Ujar Anita, bisa membuat Mahesa paham.


Mahesa tau kalau Nara lebih membutuhkan Anita. Mahesa harus menerima jika diri nya sudah mencintai Wanita yang berstatus sebagai Seorang janda anak satu.


"Iya sudah, sekarang kita bereskan dulu pekerjaan nya, agar kamu bisa pulang cepat dan kamu bisa menemari Nara !! " Ucap Tuan Mahesa, sambil berdiri dan merapihkan Jas nya.


"Ta-tapi Tuan, Eh ... Mas !! istirahat saja dulu !! biar saya yang bereskan, bisa ko !! " Jawab Anita, sangat khawatir pada ke adaan Tuan Mahesa.


Mahesa senang saat melihat Anita, sangat mengkhawatir kan nya. Tuan Mahesa menangkup kedua pipi Anita. " Sayang !! Sesuatu itu, jika di kerjakan bersama, akan terasa ringan dan juga akan cepat selesai, setelah itu aku akan mengantar mu, dan bertemu dengan Anak kita Nara !! " Ucap Mahesa, sudah mulai ingin belajar menerima bahwa Nara adalah Anak nya juga.


Hati Anita senang, sangat senang sekali saat mendengar ucapan Tuan Mahesa, bahagia nya Lebih-lebih dari, saat bahagia mendapat kan hadiah istimewah bahkan mahal sekali pun. Bahagia yang tidak bisa hanya di ungkapkan dengan Kata-kata.


"Terima kasih Mas !! " Ucap Anita, memeluk tubuh Tuan Mahesa, dan menjadikan dada bidang Mahesa, sebagai senderan kepala nya.


Mahesa mengelus rambut Anita, " Jangan khawatir Sayang, apa yang kamu lihat dan rasakan itu tidak akan pernah berubah, sampai kapan pun. "


Anita menganggukan kepala nya perlahan, dan Anita mendapatkan suntikan kekuatan dari Tuan Mahesa, kini Anita memiliki Mood Booster yang sangat luar biasa, sehingga semangat nya bisa kembali hadir walaupun belum pulih, seperti semula.


Anita berharap dengan adanya Tuan Mahesa di dekat nya. Anita bisa melupakan Gilang secara perlahan.


Anita dan Mahesa kini dengan semangat dan Fokus, mengerjakan semua kerjaan yang harus selesai hari itu juga, agar Anita dan Mahesa bisa segera pulang.


Di Kota Bandung, antara kedua keluarga Gilang mau pun Glen, kini sedang mempersiapkan persiapan pesta pernikahan Antara Gilang dan Glen. Persiapan yang hampir rampung itu di selenggarakan di hotel mewah di Bandung.

__ADS_1


Gilang tidak pernah sedikitpun mengeluarkan ide nya untuk acara pernikahan nya, begitu pun Glen. Mereka berdua hanya nurut saja apa yang di sukai dan di perintahkan oleh kedua Orang tua nya.


Glen selalu bilang setuju, apa yang di sarankan oleh orang tuanya begitu sama hal nya dengan Gilang.


Gilang menikmati sisa waktu dengan status nya sebagai lajang, dan waktu itu yang tinggal beberapa hari itu menuju status sebagai seorang suami.


"Ann, Apa kabar kamu di sana ?? Apa kau masih mengingat ku ?? Kenapa kau tidak berusaha untuk menghubungi ku ?? aku Rindu Ann !! aku Rindu semua yang ada pada diri mu, akan kah aku bisa bertemu dengan mu !! walau untuk yang terakhir kali nya ?? " Ucap Gilang, sambil membayangkan Anita bisa mendengar ucapan nya.


"Kamu berharap aku bahagia !! Tapi sampai saat ini, rasa bahagia itu belum ada Ann !! Apa malah kamu sekarang yang bahagia ?? Ann jika ada kehidupan kedua, aku berharap takdir bisa mempersatukan kita Ann, bukan malah mempermainkan kita seperti sekarang ini !! Maaf jika aku egois Ann. " Sambung Gilang kembali.


Dan Glen saat kejadian itu, diri Glen berubah menjadi pendiam, bukan Dokter cantik periang lagi. Tapi Dokter cantik pendiam, entah sampai kapan Glen akan menjadi seperti itu.


Glen masih belum bisa meyakinkan diri nya, bahwa perkataan Gilang, akan belajar untuk mencintai nya, akan benar-benar Gilang lakukan.


Glen tidak berharap akan di nikahi oleh Gilang, karna Glen tau dan sadar bahwa Gilang tidak akab bisa mencintai nya, dan akan selalu ada Anita di dalam hati dan pikiran nya.


Tiba-tiba kepala Glen sangat sakit, Glen tau itu akibat dari pola makan, dan tidur Glen yang belakangan tidak ter atur. Seharus nya Glen tau dan sadar di saat usia kandungan nya yang sekarang, Glen tidak boleh Stress.


Walau pun Glen seorang Dokter, tapi tetap saat masalah besar melanda diri nya, Glen lupa bahwa diri nya adalah seorang Dokter.


Glen bangkit dari duduk nya, Glen yang sedang duduk di halaman rumah nya, berniat untuk masuk ke dalam kamar nya untuk beristirahat dan meminum Vitamin, namun tubuh Glen terjatuh, beruntunglah ada tempok yang menahan nya, Glen sangat pusing dan ada rasa mual pada ulu hati nya.


Gwen berusaha menahan badan nya, agar tidak terjatuh keras pada lantai rumah nya, Glen memanggil Orang tua nya, dengan cepat Orang tua Glen datang, dan Kaget. Ayah Gwen langsung mengangkat tubuh Glen untuk di baringkan di kamar nya, karna Glen meminta untuk di bawa ke dalam kamar nya.


Sementara, Ibu Glen langsung menghubungi Ibu Gilang untuk memberitahukan keadaan Glen, dan Ibu Glen meminta pada Ibu Gilang untuk menyuruh Gilang, mengantar Glen ke Dokter kandungan, untuk memeriksakan keadaan nya.


Ibu Gilang dengan cepat memanggil Gilang, Gilang yang ketakutan akan kondisi Anak yang sedang Glen kandung, langsung berlari menghampiri kendaraan nya untuk menuju rumah Glen.


"Kenapa lagi sih Glen ?? " Gerutu Gilang dalam langkah nya.

__ADS_1


Setiba nya di rumah Glen, Gilang langsung memasuki kamar Glenka, dan Gilang mendapati Glenka sedang memijat-mijat kening nya, Gilang menghampiri Glenka.


"Kenapa Glen ?? " Tanya Gilang pada Glen.


Glen tidak tau bahwa Gilang akan datang, pikir Glen pasti Ibu nya yang memberitahukan Gilang, maka dari itu Gilang ada di kamar Glenka saat itu.


Glenka bangkit dari tidur nya, karna tidak enak berbaring di hadapan Gilang. " Tidak Lang, aku hanya sedikit pusing saja !! Tidak Apa-apa ko, ini biasa di usia kandungan ini pasti banyak pusing dan mual nya Lang !! " Jelas Glenka sambil meringis.


Gilang sangat tersentuh hati nya saat melihat Glenka berusaha Baik-baik saja, namun rintihan nya tak tahan menahan rasa sakit di dalam tubuh nya, Gilang selalu ingat kata Teman-teman nya, bahwa Wanita hamil muda butuh seorang suami di samping nya, untuk memberikan kasih sayang, dengan begitu rasa sakit nya akan berkurang.


Gilang naik pada tempat tidur Glenka, Glenka yang melihat Gilang mendekat pada diri nya, langsung gugup. Gilang mengelus perut Glenka.


"Nak, jangan nakal ya !! Kasian Bunda nya, Baik-baik ya Nak, Papah janji akan selalu ada untuk diri mu, dan juga Bunda. " Bisik Gilang pada perut Glenka.


Benar saja rasa sakit itu hilang, Glenka sangat senang mendengar perkataan Gilang saat mengelus perut nya, tapi Glenka tidak bisa melihat Gilang terlalu memaksakan diri dan perasaan nya. "Tidak usah seperti ini Lang, aku bisa ko mengatasi nya. Aku ini kan Dokter. " Ujar Glenka tenang.


"Iya memang, aku tau kau Dokter. Tapi kau jangan lupa juga ya, Aku ini Ayah dari Anak yang sedang kau kandung ini. " Jawab Gilang, masih mengelus perut Glenka. " Glen ?? Jangan terlalu banyak pikiran, percaya lah keadaan dan berjalan nya waktu, akan mampu merubah segala nya !! Aku tidak akan kabur dari tanggung jawab ku, bantu aku untuk menjalani ini dengan Baik-baik saja. " Sambung Gilang berusaha lembut, Agar Glen bisa lebih tenang.


Gilang duduk di samping Glen, dan memeluk pinggang Glenka. hingga Glenka bisa menyenderkan kepala nya di pundak Gilang yang sama-sama sedang terduduk di atas tempat tidur.


"Lang, Maaf kan aku telah hadir di antara kalian berdua, seharus nya aku bisa menghindar pada malam itu, jika aku bisa. Mungkin sekarang kalian sudah hidup bahagia bersama. " Ucap Glenka terus merasa bersalah.


"Jangan terlalu di pikirkan, Maaf kan aku jika aku tidak ada banyak waktu untuk menemani mu, di Saat-saat seperti ini. " Ucap Gilang, mengelus lengan Glenka.


Glenka pun sedikit tenang, hingga Gilang pun pamit untuk pulang, dengan alasan masih ada yang perlu di urus. Gilang pun pergi dari rumah Glenka.


Dan Mahesa kini sudah selesai membereskan pekerjaan nya, namun Anita masih sibuk menata semua laporan. Mahesa menghampiri Anita, untuk segera mengajak nya pulang.


Sungguh suasana kantor yang sangat harmonis, sehingga untuk menyelesaikan pekerjaan kantor yang menumpuk pun, terasa ringan bagi Anita atau bahkan Tuan Mahesa.

__ADS_1


__ADS_2