Pertahanan Seorang Wanita..

Pertahanan Seorang Wanita..
BAB 197


__ADS_3

Langkah Anita hampa rasanya.


"Tok ... Tok ... Tok ... " Anita mengetuk pintu setelah sampai di depan ruangan nomor 132.


Pintu itu tidak terkunci rupanya.


Anita bimbang, apa dia lanjutkan saja niatnya untuk menemui Mahesa atau ia kembali saja dan tidak usah menemui Mahesa.


Sungguh Anita tak tahu, dampak apa yang akan terjadi serlah ia menemui sang mantan suaminya itu.


Langkah kaki Anita menuju ke dalam ruangan itu, nampak bersih dan rapih di dalamnya. Namun Anita belum melihat sosok Mahesa di dalam sana.


Saat matanya melihat sekeliling ruangan itu, pandangan nya terhenti saat melihat sosok yang duduk di kursi roda menghadap balkon yang lumayan luas itu.


"Ya Tuhan ! " Anita menutup mulutnya saat melihat kebenaran dari perkataan Tuan Rama tempo hari.


Anita berjalan mendekati sosok yang ingin ia temui, Anita mengetuk kembali pintu ruangan menuju balkon itu.


Mahesa hanya diam meskipun tahu ada yang datang.


Anita menundukkan tubuh nya seraya sejajar dengan Mahesa.

__ADS_1


"Mas .... apa kabar ? ini aku Anita. " Ucap lembut penuh pilu kesedihan dalam diri Anita.


Hanya bola mata Mahesa saja yang bergerak, mata itu tertuju pada sosok yang baru saja datang.


Anita melihat Mahesa hanya seorang diri, tapi keadaan ruangan sangatlah rapih, makanan sudah siap di meja Kaman. Bahkan makanan itu masih terlihat baru dan aromanya pun masih kuat.


Rasanya tidak mungkin jika Mahesa tinggal seorang diri di apartemen itu.


Anita duduk di samping Mahesa, tak kuat rasanya melihat orang yang pernah hadir di dalam hidupnya kini sedang duduk tak berdaya di atas kursi roda.


"Mas, kamu ingat anak-anak kan ? Maaf aku tidak membawa mereka, karna aku pikir ini bukanlah waktu yang pas. Tapi aku janji aku akan membawa mereka ke sini. " Ucap Anita memegang pergelangan tangan Mahesa yang kini sudah ia anggap sebagai Kaka atau pun kerabatnya.


Anita tersenyum kedatangannya di sambut baik oleh Mahesa, walaupun Mahesa belum mau banyak bicara padanya.


"Jika Mas mau bercerita, ceritalah ! Pasti banyak hal yang aku tidak tahu selama beberapa tahun ini. " Ujar Anita.


Beberapa detik keadaan menjadi hening, Mahesa hanya menatap langit yng terhampar begitu luas.


Anita berpikir, dengan cara apa agar Mahesa mau berbicara padanya.


"Mau aku bawakan makanan Mas. " Tanya Anita.

__ADS_1


Mahesa menggelengkan kepalanya.


"Lalu, apa yang ingin Mas lakukan sekarang ? Atau mau sedang inginkan apa ? " Tanya Anita tak mau menyerah. "Bicaralah Mas, jangan seperti ini. "


"Mas tidak ingin melakukan apa-apa setelah kejadian itu, Rasanya semua sudah mati saat aku tahu Ibu kandungku meninggal di tangan wanita itu. " Ucap Mahesa penuh dengan emosi saat mengingat kejadian itu.


Mahesa memang dari dulu mempunyai masalah dalam emosional di dalam dirinya, setelah kematian kekasihnya dulu.


Mehesa membaik saat menemukan Anita di dalam hidupnya, dan kini itu terulang lagi saat kematian Ibunya ia saksikan sendiri di depan matanya.


Mahesa membendung sejuta air mata di matanya, ia mengeratkan dan membulatkan sempurna tangannya.


"Aaaaaaaaahhhh ... " Teriak Mahesa, sambil memukul tembok yang ada di sampingnya.


Anita terkejut dan ia cemas akan sikap Mahesa.


"Mas-mas sudah, jangan begini ! " Anita meraih tangan Mahesa, dan kini ia duduk bersimpuh di hadapan Mahesa yang masih duduk di kursi roda.


"Mas, lupakan semuanya ! Ibu sudah tenang di sana, dan wanita itupun sedang menjalani hukuman setimpal atas kelakuannya. Jangan begini, setidaknya Mas harus ingat akan darah daging kamu Mas. Walaupun kita tak bersama tapi anak kamu masih membutuhkan kamu. " Bujuk halus Anita mengusap darah segar yang keluar dari tangan Mahesa.


Seketika Mahesa menangis dan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2