
Anita dan keluarga kini sedang asyik menonton TV, Nara yang sedang memandangi gemas adik bayi nya membuat Anita sedikit lupa akan apa yang sedang ia jalani sekarang.
Tiba-tiba suara bel rumah nya berbunyi.
"Biar Ayah yang buka. " Ujar Ayah Anita karna ia yang lebih dekat posisi nya dengan pintu itu.
Anita tak penasaran dengan siapa yang datang, karna ia sedang tidak menunggu kedatangan siapa pun.
Namun setelah mendengar suara keras dan kesal ayah nya, setelah tahu siapa yang datang Anita membulatkan mata nya dan penasaran siapa yang datang.
"Mau apa kamu kesini ? " Tanya Ayah Anita rasa nya ingin sekali menutup pintu itu kembali dengan keras.
"Tolong Pah, ijinkan aku menemui Anita dan anak ku. Bagaimana pun mereka masih istri dan anak ku. " Ujar Mahesa memohon pada Ayah mertua nya.
Anita menghampiri Ayah nya dan mencoba melihat siapa yang datang.
"Mas Mahes. " Ujar Anita saat melihat siapa yang datang.
Mahesa hanya menatap wajah Anita, banyak rasa yang tersirat di wajah Mahesa. Rasa rindu dan penyesalan tentu nya.
"Sudah lah Nak untuk apa kamu berbicara lagi dengan dia, Ayah sudah muak melihat wajah nya. " Hardik Ayah Anita.
"Yah biarkan saja Mas Mahes masuk, lagian dia datang untuk melihat anak nya, biarkan lah. " Bela Anita ada rasa kasihan pada Mahesa.
"Baik lah, jangan macam-macam dan jangan sesekali kamu meracuni pikiran anak saya. Andai kesalahan kamu bukan lah perselingkuhan mungkin saya akan membantu kamu untuk rujuk dengan anak saya, tapi jika ini perselingkuhan saya akan mendukung anak saya untuk pisah dengan kamu. Karna kamu sudah berani menginjak-injak harga diri anak saya. Itu sama saja kamu sudah menginjak harga diri saya. " Dengus Ayah Anita geram menatap Mahesa yang masih berdiri di luar.
__ADS_1
"Ayah sudah-sudah, biar Mas Mahesa masuk dulu. Ayah jangan khawatir karna aku tidak akan berubah pikiran sedikit pun. " Sambung Anita pada Ayah nya.
Namun saat Mahesa mendengar ucapan Anita bahwa diri nya tidak akan berubah pikiran, wajah Mahesa berubah mendung dan mata nya memerah karna menahan tangis dari kekesewaan dan rasa sakit di hati nya.
Anita mempersilahkan Mahesa untuk masuk dan di persilahkan duduk di ruang tamu.
Setelah Mahesa duduk, suasana menjadi canggung dan hening.
Di hati kedua nya merasakan rasa sakit hati yang sama, namun di sebab kan oleh hal yang berbeda.
Mahesa yang merasa sakit karna penyesalan nya, sedang kan Anita merasa sakit atas pengkhianatan yang di lakukan oleh Mahesa suami nya sendiri.
"Sebentar saya buatkan minum dulu Mas. " Ucap Anita ingin pergi dari keheningan itu.
"Sayang ..... " Mahesa mengentikan langkah Anita dan memanggil Anita dengan sebutan Sayang sama seperti saat mereka masih bersama.
"Jangan buatkan aku minum, bawa anak ku ke sini aku ingin melihat dan menggendongnya. " Pinta Mahesa merasa sangat terpukul.
Anita tidak menoleh sedikitpun, ia hanya menganggukan kepala nya saja.
Beberapa detik Anita pun kembali ke ruang tamu membawa anak nya.
"Sini Sayang ini Papah Nak. " Ucal Mahesa merentangkan kedua tangan nya untuk menggendong anak pertama nya itu.
Mau tidak mau Anita memberikan anak nya untuk di Gendong oleh Ayah nya walaupun hanya sebentar.
__ADS_1
"Deran. " Itu kan nama yang Papah berikan untuk anak ini.
"Iya . Papah Rama memberikan nama itu pada nya. " Jawab Anita datar.
"Untuk memberi nama nya pun aku tidak di beri kesempatan padahal aku adalah Ayah kandung nya. " Ucap Mahesa menatap wajah tampan yang di miliki oleh bayi laki-laki nya itu.
"Wajar ... karna di saat dimana masa sulit itu tiba, dimana antara hidup dan mati itu tiba. Kamu sebagai Ayah nya tidak ada dan tidak mengetahui nya. " Ujar Anita mulai buka mulut.
"An, apahkah tidak ada kesempatan untuk ku sekali saja. Aku tidak akan melakukan nya lagi An, apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan ku ini. " Ujar Mahesa tak berhenti berusaha.
"Mas, sudah lah sidang perceraian kita sudah berjalan. Jangan minta kesempatan untuk itu Mas, seharusnya kamu memikirkan apa yang akan terjadi sebelum kamu melakukan hal menjijikan seperti itu. Sekarang aku mau bertanya bagaimana jika aku yang selingkuh, di saat masa sulit kamu, Bagaimana ? Apa yang akan kamu lakukan ? " Jawab Anita tak kalah dalam berbicara.
Seperti mengerti dengan yang orang tua nya sedang bicarakan, seketika bayi mungil yang di beri nama Deran itu menangis di pangkuan Ayah nya sendiri.
Anita membiarkan nya, dan Mahesa berusaha menenangkan nya. Setelah Anita merasa cukup untuk anak nya menangis, Anita mengambil alih untuk menggendong anak nya itu.
Seketika tangisan itu berhenti tidak terdengar lagi.
"Kamu lihat Mas, anak yang kamu anggap sebagai anak kamu sendiri pun tidak mau kamu tenang kan. Sudah lah Mas terima semua nya. " Anita sudah enggan membahas semua nya.
"Tapi aku tidak akan terima jika ada Gilang dalam hal ini. " Seketika ucapan keras terdengar dari mulut Mahesa.
Dan saat itu pun Anita tersenyum, namun senyuman Anita di penuhi dengan emosi dan amarah.
"Gilang ? Gilang kamu bilang ? seharusnya kamu berterima kasih pada nya, karna dia yang mau mengurusi dan membantu aku di masa sulit itu. Di saat kamu tidak ada karna sibuk dengan wanita ****** itu. Ketika orang tua ku terjebak macet. Siapa yang menolongku Hah ? Gilang ... kamu jangan berpikir aku merasa beruntung di tolong oleh Gilang, justru aku malu Mas, aku malu karna dia harus melihat dan dia harus tahu Laki-laki yang dia anggap baik untuk ku, ternyata Laki-laki itu sama busuk nya dengan laki-laki yang sudah menyakiti ku. " Jelas Anita dengan tatapan bulat penuh kekecewaan.
__ADS_1
Seketika Mahesa bungkam dengan ucapan yang di lontarkan oleh Anita itu.