
BAB 133.
"Terima kasih Pah. " Ucap Mahesa semakin mengeratkan pelukan nya.
Ibu Inggrit pergi meninggalkan Suami dan Anak nya, Ibu Inggrit dengan kesal pergi ke kamar nya dan menutup pintu kamar nya dengan kuat. Ibu Inggrit hendak pergi ke luar negri kembali tanpa sepengetahuan Anak dan Suami nya.
Ibu Inggrit merasa takut jika kedok nya terbongkar, Ibu Inggrit memang memberikan penjelasan palsu pada Anita perihal perjodohan itu. Ibu Inggrit sudah tau bagaimana jika Suami nya sampai tau, untuk itu dia akan segera pergi dan akan kembali saat semua nya sudah membaik.
Di sore itu Tuan Rama menghubungi Antoni yang merupakan tangan kanan nya, "Tuan Rama menyuruh Antoni untuk mengawasi Istri nya jika hendak berbuat yang tidak-tidak Antoni harus mencegah nya, Tapi Tuan Rama menyuruh nya untuk Diam-diam agar Istri nya tidak tahu bahwa dia sedang di awasi oleh Antoni.
Setelah selesai berbicara dengan Antoni, Tuan Rama dan Mahesa hendak pergi ke rumah Anita, dengan pakaian setelan ber jas Tuan Rama dan Mahesa terlihat sangat tampan dan Gagah.
Tuan Rama akan melamar Anita untuk Anak nya, laku setelah itu membicarakan soal pernikahan dengan keluarga Anita.
"Pah, apa sebaik nya kita bawa beberapa anak buah Papah saja ? " Usul Mahesa khawatir jika seandai nya Ayah Anita masih emosi.
Tuan Rama menyunggingkan senyuman nya.
" Lah ..... untuk apa ? " Tanya Tuan Rama balik pada Mahesa.
"Untuk jaga-jaga Pah, takut jika calon mertua ku masih emosi, Mahes sih tidak Papa jika pukulan nya kena Mahes, tapi kalau kena Papah Mahes tidak bisa tinggal diam pah. " Ucap Tuan Mahesa sudah siap untuk pergi.
Tuan Rama tersenyum simpul. " Tenang, jika itu terjadi, Papah yang akan buat calon mertua mu itu diam. Jangan takut Nak kita ke sana bukan membawa niat buruk tapi kita kesana dengan niat baik, Orang bodoh yang menyambut tamu nya kasar, sementara Tamu itu membawa buah tangan yang baik. " Ucap datar Tuan Rama, sambil melihat sekitar nya.
"Mom .... Mom ... apa sudah siap ? " Teriak Tuan Rama, berharap Istri nya ikut serta ke rumah Anita.
__ADS_1
"Jika mau pergi, pergi saja !! jangan tanya diri ku. " Jawaban teriak Ibu Inggrit .
Mahesa menatap Tuan Rama sendu. " Jangan khawatir Nak, yang akan menikahkan mu Papah bukan Mommy. " Ucap Tuan Rama merangkul Tuan Mahesa untuk segera keluar dari rumah nya.
Tuan Rama dan Mahesa kini sedang dalam perjalanan menuju rumah Anita, Mahesa tidak memberikan kabar terlebih dahulu pada Anita perihal Kedatangan nya.
"Pah Mahes ingin membawa Anita bersama Mahes setelah menikah nanti. " Ucap Mahesa tenang.
"Tenang saja Nak, itu masalah gampang. Terus bagaimana dengan cucu Papah, apa dia juga kan ikut ? " Tanya Tuan Rama pada Mahesa.
Tuan Mahesa sedikit bingung atas pertanyaan Ayah nya.
"Maksud Papah Anak nya Anita, apahkah dia akan ikut bersama mu ? " Sambung Tuan Rama membuyarkan lamunan Mahesa.
"Oh ... Nara maksud Papah ? Tentu saja Pah, dia juga kan anak Mahes, jadi Mahes tidak mungkin membiarkan Nara berpisah dengan Ibu nya. " Jawab Mahesa sumringah.
"Sama-sama Mahes, selama itu baik untuk mu Papah akan dukung. Anak itu titipan Tuhan yang tidak boleh di sia-siakan. Semoga kamu dan keluarga kecil mu kelak bahagia ya Nak, dan Papah panjang umur sampai pada akhir nya Papah bisa menemani di masa-masa ketakutan mu saat Anita melahirkan nanti, dan Papah akan segera menimang cucu ke dua Papah. " Jelas Tuan Rama menepuk bangga pundak Mahesa.
"Papah terbaik untuk Mahes, Papah harus sehat sampai Mahes menjadi Ayah atau pun kake, Mahes tidak mau jika harus kehilangan sosok Ayah seperti Ayah sekarang, itu sangat jarang yah !! " Jawab sendu Mahesa.
"Kemi ini, di hadapan wanita saja tetap, gagah, berwibawa, kenapa sekarang lembek begini sih !! ah Payah, belum Apa-apa sudah lembek. " Umpat Tuan Rama sambil tertawa.
Mahesa menegak kan tubuh nya, agar tidak di katakan Lembek oleh Ayah nya.
"Nah gitu dong, Laki-Laki itu harus kuat. Harus ada persiapan senjata saat sebemum musuh akan menyerang mu, sama hal nya dalam hidup Nak, persiapkan hati dan diri mu untuk menerima kenyataan, seandai nya keinginan terbesar mu belum kamu dapatkan. Tuhan itu memberikan apa yang kita butuhkan Nak, bukan apa yang kita ingin kan. " Jelas Tuan Rama, menasehati Anak kesayangan nya.
__ADS_1
Tuan Mahesa mengangguk paham. "Mahes akan lakukan apa yang Papah katakan, apa yang Papah lakukan dari dulu sampai sekarang itu Mahes jadikan cermin untuk hidup Mahes kedepan nya. Papah adalah sosok Insfirasi buat hidup Mahes "
Tuan Rama menganggukan kepala nya paham, dan Tuan Rama sangat bangga pada Anak nya, Sifat Mahesa sama Percis dengan nya, dan Sifat yang di miliki oleh Ibu nya tidak turun sedikitpun pada diri Mahesa, Untuk itulah Tuan Rama tidak ingin meninggalkan jauh Mahesa sedikit pun, padahal kesempatan Tuan Rama untuk meraih ke suksesan di Negri orang masih terbuka luas, namun Tuan Rama tidak ingin mengambil kesempatan itu, beda hal nya dengan Ibu Inggrit.
Mereka pun tiba di halaman rumah Anita, dengan gagah nya kedua Laki-Laki hebat itu turun dari dalam mobil, dengan berjalan ber iringan Tuan Rama dan Tuan Mahesa tidak terlihat beda nya, hanya Usia yang bisa membedakan mereka.
Tuan Rama berjalan di samping Mahesa, Mahesa menekan bell rumah Anita, beberapa saat Tuan Rama dan Tuan Mahesa menunggu.
Anita yang sedang menyisir rambut Nara langsung menggereyitkan dahi nya, bertanya-tanya siapa yang datang.
Namun Ibu nya Anita lebih cepat mengambil langkah nya untuk membukakan pintu di banding dengan Anita, yang hanya duduk sambil mengepang rambut Nara yang baru saja selesai mandi.
Ibu nya Anita langsung membukakan pintu, dan Ibu nya Anita terlihat syok namun berusaha untuk tetap tenang, Ibu nya Anita menyambut hangat kedatangan Tuan Mahesa dan Tuan Rama.
"Nak !! Silahkan masuk. " Ucap Ibu Anita menyapa kedua Laki-Laki itu.
Mahesa dan Tuan Rama masuk dan duduk di ruang tamu. " Sebentar, saya bikinkan minum dan panggilkan Suami saya terlebih dahulu. " Ucap sopan Ibu Anita.
Degggg !!!! jantung Mahesa Tiba-Tiba berdegup kencang, saat mendengar kata Suami, tak lain dialah Orang yang telah membuat nya babak belur, sayang dia adalah calon Ayah mertua nya
Ibu Anita berjalan tergesa-gesa, dan menghampiri Anita.
"Nak, di depan ada Nak Mahes dan Ayah nya. Mamah mau beritahu Ayah mu dulu, dan kamu bersiaplah. " Perintah Ibu Anita cukup membuat Anita gugup.
"Tu-tuan Rama ? bagaimana ini ? mau di taruh dimana muka ku ini ? bukan soal kehamilan ku, tapi perihal sikap Ayah pada Tuan Mahesa pun cukup membuat ku sangat malu untuk menemui Tuan Rama. " Gumam Anita masih terpaku dan enggan melangkahkan kaki nya.
__ADS_1
...----------------...
Hy Kak,. Alhamdulilah terima kasih atas dukungan nya Kakak semua, Up nya nanti di sambung malam ya kak Insyaalloh. Semoga semua nya sehat, dan mohon maaf jika ada salah-salah kata Author hanya Wanita biasa ðŸ¤ðŸ¤ðŸ’•💕💕🤗🤗🤗