Pertahanan Seorang Wanita..

Pertahanan Seorang Wanita..
BAB 196


__ADS_3

Tuan Rama pamit dari hadapan Anita dan juga cucu-cucunya, kepergian Tuan Rama terus di amati oleh Anita. Langkah yang di jajaki Tuan Rama menyisakan luka bagi Anita.


Haripun berlalu, hari itu berhasil membuat Anita berpikir keras.


Ke esokan harinya Anita memilih untuk menemui Amel, di banding menemui Mahesa ataupun makam mantan Ibu mertuanya.


"Mau kemana Nak ? " Tanya Ayah Anita saat Anita sudah bersiap pergi dengan kendaraannya.


"Anita mau jenguk Amel dulu Pah ! " Jawab Anita mengecek isi tasnya.


"Amel ? " Tanya Ayah Anita merasa aneh dengan nama itu.


"Iya ... Nanti Anita ceritakan, waktu besuk takut keburu habis ! Anita pergi dulu Pah. " Anita pamit pada Ayahnya dan pergi.


Kenapa Anita memilih untuk menjenguk Amel terlebih dahulu, dan kenapa Anita masih mau menemui Amel.


Di perjalanan Anita berhenti sejenak untuk membeli makanan untuk ia bawa, setelah ia dapatkan apa yang ia beli. Anita melanjutkan kembali perjalanannya.


Setibanya di tempat tujuan Anita melihat beberapa orang berpakaian serupa dan bersenjata lengkap di depan dan di beberapa tempat itu.


Anita menyampaikan maksud dan tujuannya, pada salahsatu petugas yang menyambutnya.


Anita di arahkan ke satu ruangan yang redup akan pencahayaan, beberapa kursi dan meja berjejer disana.


Ia duduk menunggu orang yang ingin ia temui.


"Anita ! " Ucap kecil Amel yang memakai pakaian tahanan, rambut acak-acakan dan wajah kusam kini menjadi penampilan terbaru Amel beberapa tahun belakangan ini.

__ADS_1


Anita tersenyum dan berterimakasih pada petugas yang mengantarkan Amel, Anita tidak punya waktu banyak untuk berbicara pada Amel.


Beberapa waktu keadaan menjadi hening.


Anita melihat wajah lusuh itu menyimpan penyesalan dan kesedihan yang begitu mendalam.


"Mel ! Aku sebelumnya tidak begitu mengenalmu, bahkan kita hanya bertemu beberapa kali saja. Dan pertemuan kita selalu dalam keadaan tidak baik-baik saja. "


"Mau apa kamu kesini ? Kamu mau menertawakanku ? "


"Tidak Mel, aku hanya ingin menjenguk mu saja dan membawa beberapa makanan untuk mu. Apa yang terjadi padamu jangan libatkan aku dalam amarahmu ! Apa hukuman ini tidak cukup untuk membuat mu lebih baik lagi. "


"Hahahaha .... Apa kamu pikir apa yang sudah aku lakukan mencerminkan aku orang baik-baik ? " Jawab ketus Amel seperti orang gila.


Amel terus menatap Anita dengan mata bulatnhya, seperti harimau yang sudah siap memakan mangsanya.


Seketika petugas datang, dan membawa paksa Amel.


"Ya Tuhan, apahkah hukuman ini tidak terlalu berat untuknya ? " Gumam Anita memutuskan pergi dan menitipkan makanan itu terlebih dahulu pada petugas untuk Amel.


Saat keluar dari tempat menyeramkan itu, Anita terus berpikir.


"Rupa-rupanya Amel masih belum bisa di ajak bicara dengan baik, di matanya masih terpancar kebencian dan amarah. " Ucap Anita di dalam kendaraannya.


Anita melanjutkan kembali laju mobilnya menuju beberapa tempat usahanya.


"Pagi Bu ? " Sapa salahsatu karyawan Anita saat tahu Anita tiba.

__ADS_1


Anita tersenyum ramah, dan langsung masuk menuju ruangan yang tidak terlalu besar itu. Ruangan itu ia sulap menjadi sebuah kantor tempat ia bekerja.


"Huhh .. Entah kenapa badan ku ini sangat lemas ! " Keluh Anita menyenderkan badannya di sebuah kursi kerja.


"Tok ... Tok ... Tok ... " Suara pintu kantor Anita di ketuk oleh seseorang.


"Masuk ! " Ujar Anita.


"Bu ada kiriman bunga tapi tidak ada nama pengirimnya. " Ucap salah satu karyawan Anita.


"Ya sudah simpan saja, jika kamu mau ambil saja ! " jawab Anita tak mau perduli dengan kiriman tanpa nama pengirim itu.


Memang belakangan ini, Anita selalu mendapati kiriman makanan, barang, atupun Bunga entah dari siapa. Karna di dalamnya hanya tertulis " Pengagum rahasia. "


Anita tak perduli dan tak merasa bahagia untuk itu.


Pikiran Anita kembali pada ucapan mantan Ayah mertuanya, setiap kata terus terngiang di telinganya.


"Apa aku temui Mas Mahes ? " Tanya Anita ada dirinya sendiri.


Ada keraguan dalam dirinya.


"Jika aku temui Mas Mahes, apa akan membuat keadaan lebih baik ? " Ia bertanya lagi.


Entah siapa yang akan menjawabnya.


Beberapa hari dari hari itu, Anita memutuskan untuk menemui Mahesa namun kali itu Anita tidak membawa anak-anaknya.

__ADS_1


Anita menghela napas panjang, saat sampai di pelataran sebuah gedung tinggi yang banyak lantainya itu.


Napas Anita seketika berat, padahal Mahesa bukanlah siapa-siapa lagi baginya melainkan mantan suami yang sudah ia lupakan kisahnya beberapa tahun lalu.


__ADS_2