Pertahanan Seorang Wanita..

Pertahanan Seorang Wanita..
BAB 172


__ADS_3

Mahesa masih terdiam, menunggu Anita terbangun dari tidur nya. Di samping itu Mahesa sadar jika Anita terbangun ia pun harus siap menghadapi semua nya, menghadapi pertanyaan dari kedua orang tua nya.


Dan Mahesa harus menerima jika ia harus menelan kecaman atau cacian dari siapa pun atas tingkah laku nya.


Mahesa memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan Anita, sementara Gilang memutuskan untu pulang terlebih dahulu.


Saat di dalam ruangan ternyata Anita masih terlelap tidur, Mahesa memutuskan untuk melihat anak nya terlebih dahulu.


Dan Mahesa ingat jika anak yang baru lahir harus segera di adzani, Mahes tersenyum saat akan melakukan nya, Mahesa mendekat ke tempat tidur bayi nya.


Saat sudah dekat, Mahesa bersiap mengendong anak nya itu.


"Stooopppppp ... " Suara itu sangat kuat terdengar di telinga Mahesa dan kedua telinga orang tua Anita.


Mahesa membalikan badan nya, sehingga dia tidak sempat menggendong anak nya itu.


"Anita. " Ucap Mahes dan berjalan mendekati Anita.


"Stooooop di situ Mas. " Teriak Anita kembali pada Mahesa.


Kedua orang tua Anita semakin tak mengerti.


"Sayang jangan begitu, ingat luka jahitan mu masih basah. " Ucap Ibu nya Anita khawatir.

__ADS_1


"An aku suami mu, tolong jangan begini ! beri aku kesempatan yang terakhir. Tolong .... " Mahesa memohon pada Anita.


"Anita ... Ayah tidak suka kamu bersikap seperti ini pada suami mu. " Ucap tegas Ayah Anita mengingatkan Anita.


"Ayah berkata seperti itu karna Ayah tidak tahu, apa yang sudah ia lakukan di ..... " Anita ingin menjelaskan nya namun, ucapan Anita terhenti saat seseorang datang ke ruangan nya.


Tuan Rama dengan dua ajudan nya datang di tanah air dan kini ia sedang berada di ruangan Anita.


"Papah ! " Ucap Mahesa gemetar ketakutan.


Anita menundukan kepala nya dan menangis, saat tahu ayah mertua nya yang sangat baik itu sudah ada di hadapan nya.


Tuan Rama hanya terdiam, dan memperhatikan setiap muka yang ada di ruangan itu.


Tapi Tuan Rama hanya tersenyum simpul menanggapi nya.


Tuan Rama bukan tidak melihat air mata yang keluar dari pelupuk mata Anita, Tuan Rama melihat nya sangat jelas.


Mahesa mengira Ayah nya bersikap seperti itu karna ia belum mengetahui apa yang sudah terjadi.


"Jika saja Papah tahu, aku tidak tahu apa yang akan Papah lakukan pada ku. " Batin Mahesa tertunduk lesu.


"Nak dengar, untuk apa kamu menangis untuk hal seperti ini, kamu wanita kuat untuk melahirkan saja kamu bisa melalui nya, kenapa untuk hal seperti ini kamu harus menangis. " Bisik kecil Tuan Rama.

__ADS_1


Seketika mata Anita membulat sempurna, "Apa ? Papah ta-tahu dengan apa yang terjadi ? " Batin Anita menatap wajah ayah mertua nya itu.


Tuan Rama seketika menatap wajah Anita dan menganggukan kepala nya perlahan, seperti sudah mengerti apa yang di katakan oleh Anita dalam hati nya.


"Pah ... " Ujar Anita pada Ayah mertua nya.


"Sudah, akan Papah bereskan. " Jawab perlahan Tuan Rama.


Tuan Rama menyapa kedua besan nya dengan baik, Tuan Rama memang sangat ramah dan baik pada siapa pun.


"Sekarang Oppah mau gendong cucu Oppah. " Ucap ceria Tuan Rama di hadapan semua orang, ia berjalan menuju cucu nya melewati Mahesa yang masih mematung.


Mahesa tidak di sapa sama sekali oleh Ayah nya.


"Uhhhh ... Sayang Oppah selamat datang Nak. " Ucap Tuan Rama mendekatkan wajah nya pada wajah bayi munggil yang ia panggil dengan cucu kesayangan.


Anita masih menitikkan air mata, seraya tersenyum saat melihat tinggah lucu Ayah mertua nya.


Tuan Rama beberapa saat mengatakan hal yang sangat lucu pada bayi tersebut, walaupun sebenar nya Tuan Rama tahu jika bayi yang baru lahir tidak akan mengerti dengan apa yang dia kata kan.


Mahesa mendekat pada Ayah dan bayi nya.


"Pah ... anak ku tampan ya Pah. " Ucap Mahesa ingin membuka pembicaraan pada Ayah nya.

__ADS_1


"Iya ia tampan seperti mu Nak, tapi sayang ia lahir di saat Ayah nya sudah melakukan hal yang bodoh dan menjijikan. " Jawab Tuan Rama perlahan, yang hanya bisa di dengar oelh Mahesa saja.


"Duaaaarrrrrr .... " Bak di sambar petir di siang hari.


__ADS_2