
BaB 96.
Anita dengan cepat mendapat kan Taksi Online, sehingga kini Anita bisa bernafas dengan Lega, karna sudah menjauh dari Rumah sakit.
"Bagaimana besok, ketika aku harus bertemu dengan Tuan Mahesa !! Aduh ... Mudah-mudahan Tuan Mahesa tidak sadar, dengan sikap ku barusan !! Kalau sadar, Mampus ... aku !! " Umpat Anita pada diri nya sendiri.
Sesampai nya Anita di rumah, Tidak banyak yang Anita lakukan, hanya beristirahat dan menemani Nara tidur.
Tuan Mahesa mulai tersadar bahwa diri nya sempat ketiduran, saat menjaga Anita yang sedang pemulihan.
Mahesa langsung melihat ke arah Anita, namun terkejut lah Mahesa, karna tidak mendapati Sosok Anita di Atas tempat tidur itu.
Mahesa berdiri dengan cepat, namun saat Mahesa ingin melangkahkan kaki nya, Mahesa melihat ke arah meja ada tulisan, tulisan yang tidak asing dia lihat, tentu saja Mahesa mengetahui itu tulisan siapa, secara Anita kan Sekertaris nya.
Mahesa meraih selembar kertas yang ada di atas meja itu. Mahesa membaca nya dengan menggelengkan kepala, "Dasar wanita ceroboh !! Gak bisa apa, tunggu sampai besok pagi !! " Umpat Mahesa pada Anita.
Karna kini Anita sudah tidak ada di Rumah sakit, Mahesa pun mulai melangkahkan kaki nya, untuk segera pulang ke Rumah nya.
Saat Tuan Mahesa sudah dekat pada Pintu, entah kenapa pandangan Tuan Mahesa tertuju pada sebuh cermin, Mahesa sekilas memandangi wajah nya.
Namun saat Mahesa berpikir ada yang aneh pada wajah nya, Mahesa menutup kembali pintu itu, dan mundur beberapa langkah dari pintu itu, dan mendekat pada cermin.
Mahesa menahan tawa nya. " Apa ini ?? Tanda merah di kening ku, Hahaha ... Anita !! Apa dia yang mencium ku ?? Pasti dia, Terus siapa lagi !! Nyamuk ?? Gak mungkin, mana mungkin nyamuk mempunyai ukuran bibir seperti ini !! Curang kau, coba saja kalau aku tidak tidur. Sudah ku lahap habis. " Umpat Mahesa sambil memandangi kening nya, dan Mahesa kembali tersenyum sendiri.
Mahesa sebenar nya tidak ingin menghapus jejak kecupan bibir Anita, namun Mahesa merasa malu, apa kata orang nanti.
Mahesa menghapus noda cinta di kening nya, dengn senyuman yang tak pernah habis, merekah di bibir Tuan Mahesa.
Malam pun berganti menjadi Suasana Pagi, dimana Semua Orang akan memulai aktivitas nya.
Anita masih memprioritaskan kebutuhan Nara terlebih dahulu.
Setelah Anita rasa Nara sudah mempunyai Stock Asi yang cukup, Anita pun mulai mempersiapkan diri nya sendiri.
__ADS_1
Saat Anita berada di depan cermin, Anita seketika mendapat kan bayangan Mahesa.
"Ya ampun, bagai mana ini ?? Apa aku bolos kerja aja ya ?? Lagian aku masih lemes dan juga pusing, aku belum siap untuk bertemu dengan Tuan Mahesa, bagaimana jika dia sadar kalau aku sudah lancang mencium nya kemarin !! Haduh ... Anita ... Bodoh ... Bodoh !! " Dengus Anita terus menggerutuki kebodohan nya.
"Tapi bagaimana aku bicara terhadap Tuan Mahesa nya ya ?? Ahaaa ... minta bantuan Mamah saja !! Biar Mamah yang Tlp. " Anita bangkit dan tidak jadi meriah wajah nya, Anita berlari kecil menghampiri Ibu nya.
Dengan cepat Anita pun mendapatkan bantuan !! dari Ibu nya, Dengan Sopan Ibu Anita berbicara pada Tuan Mahesa. Sehingga sambungan Tlp nya pun sudah terputus. Anita sangat merasa lega, tanpa berpikir bahwa hari esok pun Anita pasti akan bertemu dengan Tuan Mahesa.
Mahesa percaya kalau Anita kini masih pusing atau lemas, Mahesa memang sedikit kecewa karna Tujuan dia ke kantor kali ini untuk bertemu dengan Anita, namun saat Maheaa menerima panggilan dari Rumah Anita, Maheaa menerima kabar kalau Anita tidak akan pergi ke kantor.
"Ayo lah Bung, Kau kan bisa menemui Anita di Rumah nya !! " Ucap Tuan Rama seketika dari balik pintu.
Mahesa terkejut, dan seketika Mahesa berpura-pura menyibukkan diri nya sendiri, Saat Ayah nya berdiri tegap di hadapan nya.
"Apa yang kalian lakukan di dalam Lift selama itu, Hah ?? Ingat ya, kau boleh bermain Wanita Tapi ingat, jangan kau Nodai mereka. Jika kau bersungguh-sungguh, nanti pun akan ada waktu nya !! " Ucap Tuan Rama pada Anak kesayangan nya.
"Papah ... Ayo lah, Mahes sudah besar !! Mahes sudah tau mana, yang boleh di lakukan dan Mana yang tidak boleh di lakukan ( Walau pun Mahes hampir saja khilaf ) " Jawab Mahesa.
"Ya sudah kalau begitu, Mahes ada Urusan sebentar di Luar, Mahes janji akan kembali secepat nya !! " Ucap Mahesa pada Ayah nya, dan Mahesa menyambar kunci mobil dan pergi dari hadapan Ayah nya.
"Maaf Pah, ini Urgent !! " Jawab Mahesa kembali berteriak.
"Apa dia bilang ?? Urgent ?? Urusan hati yang dia anggap Urgent ?? Dasar Bucin !! " Umpat Tuan Rama pada Anak nya, sambil menggelengkan kepala nya.
"Eh ... sebentar !! Bucin ?? Apa itu Bucin ?? Kaya nya saya harus tanyakan itu pada Antoni, dia pasti tau arti dari kata Bucin !! Dasar mulut, mengucapkan kata Bucin, tapi tidak tau arti nya apa !! " Umpat Tuan Rama, sambil memeriksa berkas.
Mahesa terdiam sejenak saat sudah berada di dalam mobil, Mahesa pasti nya hanya memikirkan satu Tujuan ya itu Rumah Anita, namun yang Mahesa pikir kan kali ini, dia harus membawa apa, untuk berkunjung ke rumah Anita.
Pikir Mahesa, Wanita biasa nya suka pada Bunga, Dan Mahesa memutuskan untuk membeli Bunga hidup, yang masih segar. Mahesa menancap Gas nya menuju Toko bunga, dan setelah itu pergi ke Rumah Anita.
Sementara Gilang hanya bisa Pasrah saat Orang-orang si sekitar nya, sedang sibuk tentang persiapan pernikahan diri nya dan Glenka.
Gilang tak pernah lupa akan kekasih hati nya Anita, namun apalah daya Gilang harus tetap berada di mana tempat dia berada saat ini.
__ADS_1
Akses diri nya untuk menghubungi Anita tidak ada sama sekali, dan Juga Gilang harus menjaga perasaan Glenka saat ini.
Dan Glenka pun kini hanya mampu terdiam, seperti orang bodoh yang menuruti perkataan dari siap pun, terutama tentang pesta pernikahan nya.
Glenka menatap kaca kamar yang ada di lantai dua Rumah nya, Glenka tetap memang tidak mau melanjutkan semua ini, jika saja Glenka berhasil pergi saat itu, Pasti Gilang tidak akan mungkin tersiksa seperti ini.
"Maaf kan aku Lang !! sungguh maaf kan aku, Aku pun masih tidak sanggup jika aku harus menjalani Rumah tangga bersama Orang yang tidak mencintai ku sama sekali. " Ucap Glenka pada diri nya sendiri.
Glenka melihat ada kotak obat di meja dekat tempat tidur nya, Entah kenapa Glenka memikirkan Hal yang buruk saat itu.
Glenka menghampiri Kotak Obat itu, dan meletakan nya beberapa butir di telapak tangan nya, Glenka terduduk di samping Tempang tidur nya, sambil menatap Obat yang sedang ia genggam.
Air mata Glenka menetes dengan sendiri nya, "Akan kah !! aku bisa melakukan ini, Lang !! apa ini yang harus aku lakukan. Agar kamu bisa terbebas dari beban hidup ini. sungguh aku tidak mau membuat mu tersiksa. "
Glenka terus mengurung diri di dalam kamar nya, Sudah beberapa kali pintu kamar di ketuk. namun tidak ada sahutan apapun dari dalam kamar Anita, dengan tangan gematar Glenka terus memandangi butiran obat yang ada di telapak tangan nya.
Dengn Waktu yang sama Gilang kini sudah berada di depan Rumah Glenka, karna Di suruh oleh Ibu nya untuk mengantarkan sesuatu untuk Pernikahan nya nanti.
Gilang menanyakan keberadaan Glenka, namun Ibu nya mengatakan Glenka sedang mengurung diri di kamar, namun kedua Orang Tua Glenka berpikir mungkin Glenka sedang tertidur.
Namun Gilang tetap harus bertemu dengan Glenka, karna ada sesuatu yang harus di pertanyakan, itu pun pesan dari Ibu nya.
Sudah beberapa kali Glenka tidak membuka pintu, Gilang berinisiatif untuk membuka pintu kamar Anita menggunakan kunci cadangan, yang di berikan Oleh Asisten rumah tangga Glenka.
Gilang membuka nya, namun nihil Gilang tidak mendapat kan Glenka di atas tempat tidur nya, Gilang mengerutkan kedua alis nya.
"Dimana dia ?? " Tatapan Gilang mengarah pada pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar Glenka.
Di kamar mandi pun Gilang tak mendapat kan keberadaan Glenka, Gilang melihat byanan dari balik Kaca balkon. Gilang menghampiri Glenka, Glenka sengaja menjauh dari Pintu kamar nya agar diri nya tidak merasa terganggu.
Gilang terkejut saat Melihat di telapak Tangan Glenka ada butiran Obat, dan wajah Glenka di penuhi dengan deraian Air mata.
Gilang sudah mengira hal apa yang akan di lakukan oleh Glenka, andai saja Gilang tidak datang di waktu yang tepat. Gilang tidak langsung menyapa Glenka, Gilang berdiri di belakang Glenka, sungguh Glenka sudah di buta kan dan di tuli kan oleh beban pikiran yang sedang ia dapati.
__ADS_1
Gilang hanya memperhatikan Glenka .