
Kedatangan Mahesa hari itu membuat Anita merasa bersalah, penampilan Mahesa cara bicara Mahesa tidak mencerminkan Mahesa yang tegas, Mahesa yang dulu penuh dengan kewibawaan.
Perpisahan antara mereka sangat berpengaruh dengan kehidupan Mahesa rupanya.
"Kenapa Perselingkuhan yang selalu mengakibatkan perceraian selalu saja melekat dalam hidupku ? Apa aku tidak berhak bahagia ? " Batin Anita lagi-lagi mengeluhkan dan menyalakan nasib hidupnya.
"Kenapa Nak ? " Tanya Ibu Anita.
Anita tersenyum, " Tidak Mah ! "
"Sudah jangan di pikirkan, Kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, kemana langkah kaki kita akan membawa kita pergi, kita memang tidak pernah tahu. Tapi yakinlah selama kita melakukannya dengan benar dan yakin, maka yakinlah kebahagiaan cepat atau lambat akan menghampiri hidup kita. " Jelas sang Ibu.
"Entahlah Bu, aku merasa hidupku memang di takdirkan untuk sendiri tanpa pasangan. Apah aku boleh berpikir jika aku memutuskan untuk hidup dengan anak-anak ku saja ? " Tanya Anita pada Ibunya.
Senyum seorang Ibu menyiratkan doa untuk anaknya. " Nak, ada pasangan ataupun tidak ada pasangan itu sama saja ! Yang menjalani diri kamu sendiri, ketahuilah kegagalan atas hal apapun yang kita alami berulang kali bukan berarti kita tidak berhak lagi atas hal itu. "
Anita seketika memeluk sang Ibu, rangkulan tangan sang Ibu membuat Anita merasa yakin jika ia tidak sendiri, beruntunglah bagi siapa pun yang masih mempunyai orang tua di dunia ini.
Karna sejauh apapun kita melangkah, tetap saja kita akan kembali dan membutuhkan rangkulan kasih sayang dari orang tua kita.
Hari ke hari, Minggu ke Minggu, dan bulan ke bulan bahkan tahun ke tahun ia jalani, seraya memantapkan hati nya dan mengobati hati nya untuk memulihkan kepercayaan dirinya kembali.
Beberapa tahun ia terpuruk, hingga pada akhirnya ia bangkit untuk memperjuangkan kehidupan anak-anaknya.
Anita melanjutkan karirnya demi masa depan dirinya dan juga anak-anaknya, tapi kali ini Anita tak mau menjadi wanita kantoran seperti sebelumnya. Ia lebih memilih untuk berbisnis dan berdiri di kakinya sendiri, tanpa bantuan dari orang lain.
Ia tinggalkan sejenak pikiran tentang Mahesa, Gilang ataupun masa lalunya yang lain. Berbekal tabungan yang ia punya Anita membuka bisnis makanan dan fashion.
Kini kesibukan bisnis lah yang membuat Anita bangkit, dan melupakan semuanya.
Beberapa tahun kemudian.
Di pagi hari ...
Anita sudah rapih dengan dandanan yang tipis dan pakaian yang begitu cocok di tubuhnya.
Hari itu Anita berniat untuk membawa kedua anaknya ke sebuah butik miliknya, kini hidup Anita lebih maju rupanya.
Kebersamaan antara Ibu dan Anak sangat terlihat harmonis dan bahagia, canda tawa selalu menghiasi keseharian mereka.
Setelah dari Butik, Anita membawa kedua anak nya ke tempat bermain di salah satu pusat perbelanjaan di kotanya.
Nampak bahagia kedua anak Anita.
Di tengah-tengah kebahagiaannya Anita mendengar sapaan dari seseorang yang tak asing baginya.
__ADS_1
"Papah ? " Ujar Anita saat tahu, siapa yang tiba-tiba menyapanya.
Senyuman kerinduan dari seorang laki-laki paruh baya tersirat di wajahnya.
"Nak ada opah. " Ucap Anita pada kedua anaknya.
Tak lain dan tak bukan ia adalah sosok Pria kuat dan baikhati Tuan Rama.
Tuan Rama mengecup kening kedua cucunya, ya ... Tuan Rama selalu menganggap kadua anak Anita adalah cucu kesayangannya.
"Duduk Pah ! " Ujar Anita membenarkan kursi kosong yang ada di sampingnya.
Anita memperhatikan sekitar, Anita merasa heran karna bekas mertuanya itu datang seorang diri.
Tanpa ada Mahesa, Ibu Inggrit ataupun orang-orang yang berbadan besar di belakangnya.
"Papah sendiri ? Bagaimana kabar Papah ? " Tanya Anita lembut.
"Tidak,Papah tidak sendiri ! Ada beberapa anak panti yang Papah bawa, mereka sedang asyik bermain di sana. " Jawab Tuan Rama sambil menunjukan ke salah satu wahana permainan.
Anita selalu kagum akan jiwa sosial sang mantan Ayah mertuanya itu.
"Papah merasa bangga terhadap kamu An ! Ada ataupun tidak Mahesa di sampingmu kamu mampu bangkit dan menjadikan kehidupanmu dan juga cucu-cucu Papah lebih baik lagi seperti sekarang ini. " Jelas Pak Rama berhasil membuat Anita tersenyum tanpa kata.
"Memangnya apalagi yang harus Anita lakukan Pah, sudah cukup waktu yang Anita habiskan untuk meratapi semuanya. " Jawab Anita penuh dengan senyuman yang begitu teduh.
"Kamu tahu kabar Mahesa sekarang ? " Tiba-tiba tuan Rama memasang wajah sendu.
Anita terdiam, saat mendengar nama itu terdengar lagi di telinganya.
Selama dua tahun ke belakang memang dia tidak pernah bertemu lagi dengan mantan suaminya itu, bahkan kabarnya pun ia tidak tahu. Karna memang Anita tak mau dan tidak mencari tahu akan hal itu.
"Mas- mas Mahes Pah ? Emmm ... Tidak Pah. " Jawab Anita merasa kaku saat mengucapkan nama itu.
"Sesekali bawalah anakmu menemui Ayahnya ! Dia kini banyak diam. " Jelas kecil Tuan Rama yang mampu membuat segudang pertanyaan di benak Anita.
"Deggg ..... " Ada perasaan tak baik dalam hati Anita.
"Diam ? Kenapa Pah ? Padahal terakhir kita ketemu Mas Mahes baik-baik saja. " jawab serius Anita.
Pak Rama mengajak Anita dan cucu-cucunya untuk berpindah tempat, ke tempat yang lebih tenang dan aman.
"Nak, ketahuilah kesalahan yang sudah ia lakukan bersama Amel kini kesalahan itu sedang menghukumnya ! " Tuan Rama mulai menjelaskan perlahan.
Berbagai pikiran muncul dalam benak Anita, ia yakin bahwa mantan suaminya itu kini sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Pah ... apa yang terjadi ? " Ucap sendu penuh ke khawatiran tersirat dalam wajah Anita.
Keadaan kini menjadi hening sesaat.
Tuan Rama menghela napas panjang, dan ia hembuskan perlahan.
"Amel ... Amel melakukan hal yang membuat Mahesa harus menghabiskan waktunya di kursi roda beberapa tahun belakangan ini. Karna itulah ia banyak Diam ! " Ucap pilu Tuan Rama.
"Apah ? " sakit rasanya hati Anita mendengar penjelasan dari Tuan Rama.
Seketika tubuh Anita lunglai lemas, dan ia menatap wajah anaknya yang begitu mirip dengan ayahnya.
"Temuilah dia, jangan anggap dia sebagai mantan suamimu ! anggaplah dia sebagai kerabat terdekatmu. Papah berharap dia akan lebih baik saat bertemu dengan anaknya. " Pinta Tuan Rama pada Anita.
"Dimana sekarang dia Pah ? "Tanya Anita dengan tak sabar menanti jawaban dari mantan ayah mertuanya.
"Dia ada di salah satu apartement milik Papah. " Jawab Tuan Rama.
"Apartment ? Kenapa tidak di rumah saja, bersama Ibu ? " tiba-tiba Anita mempertanyakan hal itu.
Lagi-lagi Tuan Rama menyimpan sesuatu hal yang Anita tidak tahu.
"Ibu Mahesa, sudah meninggal ! "
Duarrrrrr .... Bagai tersambar petir di siang hari, Anita terkejut setengah mati mendengar nya.
"Ibu ? Ibu Inggrit meninggal ? " Anita mengulang perkataan Tuan Rama yang sungguh tidak dapat ia percayai begitu saja.
"Iya Nak ... Mantan Ibu mertuamu itu meninggal di hari yang sama .... dimana Amel berhasil membuat Mahesa diam dan menghabiskan waktunya di atas kursi roda, seperti sekerang ini. "
"Apah ... Amel lagi ? " Rongga mulut Anita melebar dan tak menyangka Amel segila itu.
"Ya Tuhan Mas Mahes, Ibu ! "
"Lalu Amel sekarang bagaiman Pah ? " Tanya Anita geram.
"Penjara lah yang lebih pantas untuknya, keadilan kini sudah menghukumnya, Amel di penjara seumur hidupnya. " Jelas Tuan Rama.
Entah perasaan apa yang Anita harus rasakan saat ini, antara Puas dan tak tega mendengarnya.
"Ya Tuhan ... seburuk inikah ! " Ucap kecil Anita lemas.
"Beruntunglah Mas Mahes, masih memiliki Ayah seperti Papah. " Ucap Anita mengucapkan beribu terimakasih pada mantan ayah mertuanya itu.
"Mahes bukanlah anakku, tapi dia sudah ku anggap seperti anak ku. Sama seperti anak panti itu. " Jawab Tuan Rama menjelaskan semua hal yang Anita tidak tahu selama ini.
__ADS_1
Anita semakin terdiam saat mendengar ucap pilu dari Tuan Rama, begitu banyak rahasia yang di simpan oleh Tuan Rama rupanya.