Pertahanan Seorang Wanita..

Pertahanan Seorang Wanita..
BAB 164


__ADS_3

Dan Anita kini sudah berada di dalam mobil dan segera pergi dari tempat itu, bayangan masa lalu Ter ingat kembali di pelupuk mata Anita.


"Kenapa ini harus terjadi di saat aku sedang hamil atau pun sudah melahirkan ? kenapa ? " Ucap sendu Anita dalam hati nya.


"Tidak An, tidak seperti itu ! kamu orang baik dan kuat jangan lah menyalahkan seorang anak dalam masalah ini, kamu di percayai untuk menjaga nya, kenapa ini semua terjadi di saat kamu akan menantikan kelahiran anak kamu, karna Tuhan tidak membiarkan anak kamu lahir di dampingi oleh seorang Ayah yang kotor . " Bisikan itu seketika ada di benak Anita.


"Ya benar An, anak itu anugrah untuk apa kamu kait-kaitkan dengan masalah suami mu itu, yakin lah kamu bisa melewati nya. " Anita terus menguatkan hati nya sendiri.


Dalam keheningan Anita merasa udara di malam itu sangat menusuk dalam tubuh nya, di iringi guyuran hujan yang cukup deras, dan saat itu Anita merasa rasa sakit di perut nya semakin intens.


"Arrggghhh .... sssssstttttt. " Anita meringis kesakitan dan terus menarik nafas panjang.


"Ibu kenapa ? " Tanya Pak sopir.


"Pak kita ke RS langsung ya Pak. " Pinta Anita tahu bahwa diri nya mengalami kontraksi.


"Baik Bu, apa sebaik nya saya Tlp Tuan saja ? seperti nya Ibu mau melahirkan. " Saran Pak supir.


"Tuan ? tidak jangan biar nanti saya saja yang menelpon nya. " Cegah Anita terus meringis menahan sakit.


Sebuah kontraksi saat hendak melahirkan itu rasa nya sungguh dahsyat, dan si saat-saat itu seorang suami seharus nya ada di sisi istri nya hanya sekedar untuk menguatkan.


Namun Anita merasa itu tidak perlu, karna bagi nya ada suami di sisi nya bukan lah untuk menguatkan namun menambah sakit di hati nya.


Anita menghubungi orang Tua nya, untuk segera bergegas ke RS saat itu juga. Anita menjelaskan jika ia sudah merasakan kontraksi se puluh menit sekali.


Kini hanya kedua orang tua nya lah kekuatan bagi nya di tambah ada Nara dan bayi yang akan lahir itulah kekuatan besar bagi nya.


Naas sebelum sampai pelataran Rumah sakit, mobil yang di tumpangi Anita mendadak berhenti dan mogok.


"Pak kenapa ? " Bentak Anita saat tahu kendaraan nya berhenti.

__ADS_1


"Seperti nya mogok Bu, untung kita sudah sampai di gerbang rumah sakit. Sebentar Bu saya akan mencari bantuan untuk Ibu. " Ucap khawatir Pak supir pada Anita.


"Baik Pak, cepat ya Pak. " Pinta Anita dengan linangan Air mata.


Saat Pak supir keluar dari dalam mobil, langsung di perhatikan oleh seorang laki-laki yang kebetulan sedang mengurus sesuatu di Rumah sakit itu.


"Kenapa mobil nya di biar kan begitu saja ? itu menghalangi kendaraan yang lain. " Gumam Laki-laki itu.


"Pak ... Pak kenapa ? itu mobil nya menghalangi kendaraan lain yang akan masuk lihat lah. " Ucap Laki-laki itu sedikit heran dan menghadang pak supir untuk segera meminta bantuan.


"Iya Mas saya tahu, mobil bos saya mendadak mogok Mas, dan di dalam nya ada Bos saya akan melahirkan. Saya mau cari bantuan dulu Mas. " Ucap Pak supir dengan basah kuyup hendak lari ke dalam Rumah sakit.


"Melahirkan ? " Ucap Laki-laki itu mendadak gemetar dan lemas, namun Laki-laki itu tergerak untuk membantu Pak supir itu untuk membawa Bos nya untuk segera masuk ke dalam rumah sakit.


"Pak ... Pak, ayo biar saya bantu. Apa dia bersama suami nya ? " Tanya Laki-laki itu.


"Tidak Mas, Ibu sendiri suami nya sedang bekerja. " Jawab Pak supir.


Saat mendekati mobil itu, laki-laki itu mendengar teriakan di dalam nya.


Langkah Laki-laki itu seketika melambat dan terhenti.


"Mas ayok, kasihan Bos saya sudah menahan sakit dari tadi. " Ucap Pak supir terburu-buru.


"Oh i-iya Pak, buka pintu nya Pak. Bpak siapkan payung sementara saya akan mengangkat Bos Bpak sampai ke dalam rumah sakit. " Perintah Laki-laki itu cepat.


Laki-laki itu mempunyai trauma dengan kata-kata melahirkan.


Saat pintu mobil itu terbuka, Laki-laki itu tercengang hebat saat melihat seorang wanita sedang meregang kesakitan menahan rasa sakit yang hebat, keringat bercucuran walaupun dalam ke adaan sedang hujan lebat pada saat itu.


"Bu ayok kita bantu Ibu masuk ke rumah sakit, jika menunggu Blankar itu tidak mungkin Bu, hujan sangat lebat. " Ucap Pak Supir.

__ADS_1


Laki-laki itu masih tercengang. " Anita ! "


Anita yang belum sadar dengan seseorang di hadapan nya kini sadar karna nama nya di sebut, dan suara itu sangat tidak asing bagi nya.


"Gilang ? " Ucap Anita terus merengang kesakitan.


Anita tidak mau berpikir lebih lama lagi, Anita tidak ada kesempatan untuk menanyakan keberadaan Gilang kenapa dan mengapa dia ada di rumah sakit itu, dan hendak menolong nya.


"Tolong Lang ... sakittttttttt. " Rintih Anita memegang perut nya.


"I-iya An, Ayo aku gendong bertahan ya An, kamu bisa, kamu kuat An. Pak tolong siapkan payung nya agar Anita tidak kehujanan. " Ucap Gilang kini siap menggendong tubuh Anita dengan kekuatan penuh walaupun tubuh Gilang di guyur hujan ia tidak perduli.


Sepintas Gilang bertanya dalam diri nya. "Kemana suami nya ? kemana Mahesa ? apa dia sedang menuju ke sini ? " Namun ia tidak menanyakan perihal itu pada Anita.


Di samping itu Gilang percaya jika Mahesa tidak mungkin menyia-nyiakan Anita sesuai perjanjian nya dulu, dan Gilang tahu Anita segalanya bagi Mahesa.


Sesampai nya di Rumah sakit, Gilang terus menggendong Anita hingga para suster dan dokter pun datang membawa Blankar yang siap membawa Anita.


"An kuat ya. " Ucap Gilang terus menguatkan Anita sampai kedepan ruangan persalinan.


"Pak kenapa tidak masuk ? suami di perbolehkan masuk jika istri nya hendak melahirkan. " Ucap salah satu Suster.


Bak terpukul keras hati Gilang saat itu, andai ia tidak melakukan ke salahan sehingga menyakiti Anita di masa lalu mungkin kini ia sudah menjadi suami Anita bukan Mahesa.


"Tidak Sust, saya keluarga nya. Nanti jika suami nya sudah datang saya suruh untuk segera masuk menemani pasien. " Jawab Gilang mengusap wajah nya yang basah kuyup.


"Oh baik lah Pak, terima kasih. " Sambung Suster itu.


Anita langsung di tangani oleh Dokter kandungan yang merupakan rekan dari dari mertua nya, dari awal kehamilan Anita sudah di saran kan oleh Tuan Rama periksa ke Dokter tersebut, karna Tuan Rama yakin bahwa teman nya itu Dokter kandungan yang sangat hebat.


"Dok tolong saya ! seperti nya saya mau melahirkan. " Ucap Anita memegang kuat lengan Dokter itu, sementara Anita kini sudah berbaring di dalam ruangan bersalin.

__ADS_1


"Tenang An, saya akan melakukan yang terbaik. Kamu tenang saya akan memeriksa nya terlebih dahulu. " Ucap Dokter kandungan itu.


__ADS_2