
BAB 121.
Tak lupa Anita memakaikan kembali celana Mahesa, agar siapa pun tak curiga.
Anita menatap wajah Mahesa yang sedang tertidur pulas.
"Mas .. aku pulang dulu ya !! " Bisik Anita pada daun telinga Mahesa.
Mahesa menahan lengan Anita namun Mahesa kembali tertidur. Anita pun tak menunggu jawaban Mahesa, lalu keluar dengan pelan dari ruangan Mahesa untuk segera pulang.
Anita menatap hiruk-pikuk jalanan ibu kota yang semakin ramai dengan kendaraan yang mulai padat, dimana semua orang telah selesai melaksanakan tanggung jawab nya sebagai pekerja di bidang nya masing-masing.
Anita menaiki sebuah Taxi online, tak ada teman yang bisa ia ajak bicara di saat padat nya jalanan Ibu kota saat itu.
Anita melihat sekumpulan wanita di pinggir jalan dengan pakaian yang serba minim, terlihat seperti sedang menunggu seseorang yang hendak mengajak nya untuk berkencan kapan pun dan di mana pun.
"Wanita malam " Gumam Anita dalam hati nya.
Tetesan air mata tak terasa telah jatuh membasahi pelupuk matanya, rasa sakit dan penyesalan mulai terasa dalam hati nya, karna cinta, Anita buta akan hal sebesar itu.
"Aku lebih buruk di banding mereka. " Ucap Anita tiba-tiba dalam suasana hening di dalam Taxi itu.
Suara panggilan telpon terdengar dari dalam tas Anita, Anita enggan untuk melihat ponsel nya, apalagi untuk mengangkat sambungan Tlp itu.
Setelah beberapa jam Anita terjebak di dalam kemacetan jalanan, Anita sampai di kediaman nya, Anita menghela nafas panjang untuk berusaha menyimpan dulu rasa pilu nya di hadapan keluarganya.
Seperti biasa Anita selalu menghabiskan waktu nya bersama Nara sampai pada waktu jam tidur Nara, Saat setelah Nara tertidur pulas barulah Anita bisa beristirahat.
__ADS_1
Anita membaringkan badan nya di samping Putri kesayangan nya, Anita menatap wajah tanpa dosa itu yang sudah terlelap tidur.
"Maaf kan Mamah Nak, Mamah sudah gagal menjadi Ibu yang baik untuk diri mu. Mamah sudah menjadi wanita murahan seperti mereka yang sudah Mamah temui baik di jalanan maupun di dalam kisah Pilu perjalanan hidup Mamah Nak, Mamah sama buruk nya dengan mereka. " Ucap kecil Anita, sibuk menghapus air mata yang mengalir deras di pipi nya.
Sementara Mahesa dengan tak henti nya menghubungi Anita, yang sama sekali tidak bisa di hubungi. Mahesa takut jika Anita dalam keadaan kurang baik.
Mahesa keluar dari kamar nya, dan menuruni anak tangga dengan cepat, dengan cepat Tuan Rama menghentikan gerak Mahesa.
"Nak !! mau kemana kamu? baru juga sampai sudah mau pergi lagi. " Seru Tuan Rama dengan santai nya.
"Pah! A-aku mau menemui Anita Pah, dia tidak bisa di hubungi. " Jawab Mahesa, dengan gugup.
"Kau ini, baru juga tadi siang ketemu, palingan Anita lagi istirahat. Kecuali kalau kamu sudah melakukan kesalahan. " Ucap Tuan Rama berhasil membuat Mahesa menatap degan tegap.
"Aku tidak mungkin membicarakan nya pada Papah. " Ucap Mahesa dalam hati nya.
Tuan Rama membenarkan posisi duduk nya menjadi tegap, dan meletakan kacamata baca yang sedang ia pakai.
"Apa kamu sudah benar-benar yakin Nak? " Tanya Tuan Rama dengan serius.
"Sudah lah Pah, sudah berapa kali aku menjawab pertanyaan Papah yang itu!! apa papah tidak yakin akan kesungguhan ku ini ? " Ucap Mahesa menatap dalam pada Tuan Rama.
Belum juga obrolan itu selesai, Suara sapaan wanita terdengar di sela-sela keseriusan antara Tuan Rama maupun Mahesa.
"Mommy ?? " Ucap Mahesa pada wanita itu.
"Hallo !! Uhh Mommy sangat rindu pada kalian, Maaf Mommy baru selesai , jadi Mommy baru bisa pulang. " Ucap Ibu nya Mahesa, sambil memeluk dan mencium kedua Laki-Laki yang sangat berarti dalam hidup nya.
__ADS_1
Mahesa memberikan kode pada Ayah nya, meminta pendapat atas keinginan yang telah ia ucapkan pada Ayah nya, namun Ayah Mahesa memberikan isyarat bahwa saat itu bukanlah waktu yang tepat, di samping Ibu nya Mahesa baru sampai pasti lebih membutuhkan waktu untuk beristirahat terlebih dahulu.
Mahesa mengangguk paham, lalu tersenyum kembali pada Ibu nya, namun Mahesa tak lepas dari ponsel yang sedang ia pegang saat itu, hanya ada Anita dan Anita di dalam pikiran nya
Mahesa ijin ke kamar kembali dan ingin segera beristirahat, andai kedua Orangtuanya Mahesa tau. Mahesa saat itu tidak ingin dan pasti tidak akan bisa untuk beristirahat.
Dan andai Mahesa bisa memaksa diri nya untuk keluar menemui Anita, pasti Mahesa akan melakukan nya. tapi Mahesa tidak ingin ada pertanyaan dari Ibu nya, yang nanti nya akan berdampak buruk pada diri Anita.
Dan Mahesa pun sadar akan waktu yang sudah mau larut untuk bertamu ke rumah seseorang, dan pada akhir nya Mahesa lebih memilih untuk menahan ego nya dan bersabar menunggu hari esok.
Di dalam sebuah kamar yang menjadi saksi bisu antara Ayah Mahesa dan Ibu Mahesa, kini sedang berbaring dan saling menumpahkan kerinduan antara kedua nya, dan sebuah obrolan pun terjalin dalam suasana yang begitu hangat.
"Pah, anak kita Mahesa apa ada perubahan? setelah kejadian waktu itu? " Tanya Ibu Mahesa dalam pelukan suami nya.
"Iya Mom, sukur anak kita sudah berubah, dan anak kita tidak pernah menyakiti diri nya sendiri karna selalu ingat akan masa lalu nya. " Jawab Tuan Rama lembut pada Istri nya, tidak terlihat sedikitpun sosok Tuan Rama yang tegas dan buas saat itu, yang terlihat hanya lah seorang Suami yang sangat menghargai seorang istri dan sangat menyayangi nya.
"Mommy jadi lega Pah mendengar nya, Oh ya Pah, Mommy punya rencana baik untuk anak kita, dan Mommy yankin anak kita akan lebih baik jika rencana Mommy bisa berjalan dengan baik. " Ucap Ibu nya Mahesa.
"Oh ya ? Apa itu Mom ? " Tanya Ayah Mahesa pada Ibu Mahesa.
"Mommy selama Disana kenal betul sama Orang-orang baik, dan mereka ada yang mempunyai anak yang baik pula Pah. Trus .... " Ucapan Ibu nya Mahesa seketika berhenti saat Tuan Rama seperti sudah tau apa yang akan di katakan oleh Istri nya itu.
"Mom !! Sudahlah Anak kita sudah besar, biarkan dia memilih sesuai keinginan nya. " Ucap Tuan Rama pura-pura sudah tak kuat lagi menahan kantuk nya.
"Ihh apaan sih Pah, kita juga berhak ko, lagian itukan demi kebaikan anak kita sendiri. " Jawab Ibu nya Mahesa tidak mau kalah.
"Kita bicarakan esok hari saja Mom, mending Mommy istirahat. " Ucap Tuan Rama mengecup kening Istri nya.
__ADS_1
"Papah akan memperjuangkan Anita demi kamu Mahes. " Ucap Tuan Rama dalam hati nya lalu kedua nya beristirahat setelah seharian di sibukkan dengan pekerjaan nya Masing-masing.