
Anita kini sudah berada di ruang perawatan, sementara orang tua Anita belum kunjung datang juga.
Anita mendapati kabar jika kedua orang tua nya terjebak macet parah, dan saat itu kendaraan roda dua atau pun roda empat tidak bisa bergerak sama sekali, di karna kan Demo tersebut.
Sehingga kini Anita sudah berada di ruang perawatan, namun Anita kini tertidur karna ada dalam pengaruh obat bius.
Gilang masih menemani Anita, sampai lupa tujuan nya kerumah sakit itu untuk apa, tujuan Gilang datang ke rumah sakit itu untuk mengambil hasil rontgen Ibu nya.
Gilang kini duduk di samping Anita dan sesekali Gilang melihat Bayi Anita, yang berada si sebuah kotak kaca agar si bayi tetap merasa hangat.
Gilang tersenyum, " Bayi yang sangat lucu. Kamu sangat tampan Nak, Om sangat berharap kelak kamu akan menjadi alasan kenapa Ibu mu selalu bahagia dan tersenyum. Ibu mu orang yang baik. "
Beberapa saat Gilang menemani Anita, sampai Anita terbangun dari tidur nya.
Rasa nyeri dan perih kini dirasakan oleh Anita, Anita membuka mata nya perlahan.
__ADS_1
Anita menatap samar sosok laki-laki yang ada di dekat nya, Anita tidak berharap itu adalah suami nya.
"Lang ... kamu masih di sini ? " Tanya Anita lemas tidak ada tenaga.
"Emm ... iya An, Maaf dari tadi aku menunggu orang tua atau suami kamu tapi belum datang juga, jadi aku tidak berani meninggalkan mu seorang diri. " Jawab Gilang tak berani menatap mata Anita.
"Terima kasih Lang, setidak nya tadi aku tidak merasa sendiri. " Jawab Anita tersenyum walaupun wajah nya masih terlihat sangat pucat.
Gilang menjadi salah tingkah saat itu. " Sama-sama An. "
"A-apa An. " Tanya Gilang.
"Emm ... jika tidak keberatan, aku minta tolong untuk memberi bisikan lantunan adzan di telinga bayi ku itu. " Pinta Anita, dengan nada memelas.
"Degggg ... ta-tapi An, Mahesa ? Apa dia tidak akan marah ? " Tanya Gilang mendekati Anita.
__ADS_1
"Mas Mahes .... di-dia, masih di luar kota Lang. " Jawab Anita tidak mau Gilang tahu tentang permasalahannya saat itu.
Karna bagaimana pun Aib keluarga harus ia jaga rapat-rapat.
Seketika mata Gilang membulat sempurna. " Apa ? luar kota ? Bisa-bisanya dia mengambil pekerjaan di luar kota di saat Anita hamil besar, apa dia tidak bisa berpikir. " Batin Gilang tidak berani menjelekan Mahesa di hadapan Anita, karna Gilang tahu Anita pasti tidak suka jika ia menjelek-jelekkan Mahesa.
"Baik lah, jika itu mau kamu An. " Sambung Gilang tersenyum penuh dengan ke Ikhlas san.
Anita menatap Gilang yang sedang menggendong bayi mungil itu dengan sangat hati-hati.
Gilang mendekat kan mulut nya pada telinga bayi itu, dan Gilang mulai mengumandangkan lantunan adzan di telingan bayi mungil itu.
Namun saat itu Anita hanya bisa melihat Gilang yang sedang membisikan lantunan adzan di telinga bayi nya, Anita tidak melihat jika kini Gilang sedang menangis saat melantun kan lantunan adzan itu.
Gilang teringat akan tubuh kecil bayi nya yang harus ia pangku dalam keadaan sudah tidak bernyawa, sungguh pilu Gilang mengingat nya.
__ADS_1
Sementara di tempat lain Mahesa baru sampai rumah nya, dan jelas ia langsung mencari Anita untuk meminta maaf atas ke khilaf pan nya itu.