
BAB 128.
Anita mengunci rapat-rapat pintu rumah nya, lalu Anita menaiki anak tangga menuju kamar nya, Anita masuk ke dalam kamar nya dan mengunci erat pintu kamar nya.
Anita duduk di tepian tempat tidur nya, Anita menangis kembali, Anita merasa sangat kesal pada diri nya sendiri.
"Aaaaaarrrggghhhhh ..... Maafkan Mamah Nak hiks ... hiks.... "
Hari itu pun berlalu, Anita menjadi sakit mungkin itu efek saat hamil muda, namun Anita tidak mau berterus terang pada Ibu nya, Anita memandang wajah cantik nanpolos bidadari kecil nya yang kini sudah semakin pintar.
Anita sangat lemas, wajah nya pun pucat tak jarang Anita ingin muntah karna merasa mual, namun kedua Orang tua Anita menganggap itu hal biasa di karna kan masuk angin.
"Nak apa sebaik nya kita ke Dokter saja ? " Ucap Ibu Anita khawatir.
"Ti-tidak Mah, aku sudah ada obat nya ko. Palingan setelah istirahat aku akan merasa baikan, Mamah tenang saja ya ! " Jawab Anita sendu pada Ibu nya.
"Ann Mamah tidak enak perasaan, apa Nak Mahesa sudah tau kamu sakit ? " Tanya Ibu Anita seketika.
Anita seketika cemas saat mendengar nama Mahesa. " Su-sudah Mah, dia sedang sibuk jadi belum bisa kesini. Mamah tenang saja semua nya akan Baik-baik saja. " Ucap Anita menutupi kesedihan nya.
Dan Mahesa kini sudah merasa baikan, Mahesa sangat ingin menemui Anita, namun sayang kondisi nya masih lemas, dan Tuan Rama tidak mengijinkan Mahesa untuk keluar dulu, mengingat jahitan di jidat nya belum kering.
Mahesa kini sudah berada di rumah nya, sejak tadi pagi. Setelah Ibu dan Ayah nya keluar dari kamar Mahesa meraih Ponsel nya untuk menghubungi Anita.
Namun panggilan nya tidak dapat terhubung, Mahesa menelpon no yang akan tersambung ke ruangan kerja Anita, namun tidak ada yang mengangkat nya.
Mahesa menelpon bagian Receptionis untuk memanggilkan Anita untuk nya, namubjawaban menohok Mahesa dapat kan, bagian Receptionis itu mengatakan jika Anita sudah hampir 5 hari tidak masuk kantor.
Mahesa tidak habis pikir, " Apa ini ada hubungan nya dengan Mommy ? " Ucap Mahesa langsung berdiri untuk menemui kedua Orang tua nya.
"Pah, Papah bisa tolong jelaskan kenapa Anita tidak masuk kantor selama 5 hari ini ? " Tanya Mahesa pada Tuan Rama.
Tuan Rama terlihat tenang, " Duduk lah sebentar Nak ! " Mahesa pun duduk di samping Tuan Rama.
__ADS_1
"Anita sudah mengundurkan diri 5 hari yang lalu, Anita menitipkan surat pengunduran diri nya pada Antoni, dia tidak menghadap pada Papah. " Jelas Tuan Rama serius.
Mahesa langsung terlihat cemas, dan mengusap wajah nya kasar. " Pasti ini ada hubungan nya dengan Mommy " Batin Mahesa.
"Papah akan menemui Anita, setelah kamu benar-benar pulih, Papah tidak diam saja Nak, Papah beberapa hari ini sudah membujuk Ibu mu, tapi Papah masih belum bisa membuka pintu hati nya untuk menerima Anita. " Jelas Tuan Rama pada anak kesayangan nya.
Mahesa tak kuat menahan rasa kesal nya dan rasa putus asa nya. " Pah, Mahes mohon !! jangan biarkan Anita lepas dari hidup Mahes, Mahes sudah melakukan apa yang seharus nza tidak Mahes lakukan. Sungguh Pah itu Pyur kesalahan Mahes, dan asal Papah tau. Mahes sudah melakukannya lebih dari satu kali. " Jelas Mahesa pada Tuan Rama.
"Tenang Mahes, Papah tidak mau kamu melakukan hal bodoh seperti ini lagi. Papah akan cari jalan keluar nya, asal kamu tenang dan berpikir dengan jernih bagaimana cara nya agar Ibu kamu luluh Mahes. " Jawab Tuan Rama, meyakinkan Mahesa.
Tak lama kemudian Ibu Inggrit datang dengan santai nya, Tuan Rama memberikan kode ketenangan pada Mahesa.
"Mom, Papah ingin bicara. " Ucap Tuan Rama pada Istri nya.
"Apa sih Pah, soal Anita lagi ? Iya kan Pah, iya kan Mahes ? " Tebak Ibu Inggrit terlihat kesal.
"Mom tolonglah Mom ... menger ...... " Mahesa memohon pada Ibu nya namun sikap Ibu Inggrit memotong ucapan permohonan yang akan Mahesa katakan.
Ibu Inggit berdiri dan kesal. " Ya sudah lah terserah kalian, Mommy sudah pusing. Mommy tidak akan mencampuri urusan mu dengan Anita. " Ucap Ibu Inggrit pergi meninggalkan kedua Laki-laki itu.
"Pah apakah ini pertanda baik ? " Tanya Mahesa pada Tuan Rama.
Tuan Rama menganggukan kepala nya perlahan dan tersenyum. " Tapi kamu jangan menemui Anita untuk sekarang, kamu masih belum bisa keluar sebelum luka mu kening Nak. "
Mahesa menuruti perkataan Ayah nya lalu kembali masuk ke dalam kamar nya. Tanpa memikirkan hal buruk dapa yang ada di balik Sikap tak peduli Ibu nya itu.
Di dalam kamar yang tidak terlalu besar, Anita merenung menghadap jendela kaca di rumah nya, Anita menitikan Air mata tak jarang Anita mengelus perut nya, "Nak, apa pun yang terjadi Mamah akan selalu menyayangi mu, sekali pun Orang di sekeliling kita tidak suka akan kehadiran mu di rahim Mamah, Mamah akan tetap menjaga mu bersama Kaka Nara, jangan khawatir Sayang, Mamah yang bersalah. Jika ada hukuman Mamah yang pantas di hukum bukan kamu Nak !!" Ucap Anita sendu dalam tangis nya pada janin yang ada di dalam rahim nya.
Anita selasempat terbesit pikiran kotor dalam hati nya, namun beruntunglah Anita mempunyai peri kecil yang selalu membuat nya sadar, bahwa Anita harus tetap bertahan.
Anita terduduk dan ingin menyalakan ponsel nya, Anita mendapatkan notifikasi bahwa Tuan Mahesa sudah beberapa kali menghubungi nya.
"Kenapa kamu Mas ? kenapa kamu hanya mencari ku lewat ponsel saja ? " Ucap kecil Anita masih menatap layar ponsel nya.
__ADS_1
Tiba -tiba suara ponsel Anita berbunyi, mungkin Tuan Mahesa mendapatkan Notifikasi bahwa no Anita sudah aktif dan bisa di hubungi. Tanpa mengukur waktu Tuan Mahesa langsung menghubungi nya.
Anita hanya menatap layar ponsel nya, Anita ingat akan perkataan yang di lontarkan oleh Ibu Inggrit pada diri nya. Anita tidak mengangkat sambungan Tlp itu.
"Aku memang bodoh Mas, tidak seharus nya aku begini, seharus nya aku bicara pada mu, tapi aku tidak mau merusak kami dan keluarga kamu. " Batin Anita langsung mematikan kembali Ponsel nya.
Hari itu pun berlalu.
Di pagi Hari Anita menguatkan diri nya sendiri agar tidak terus murung di kamar, karna Anita tidak mau jika Janin yang ada di kandungan nya tidak berkembang dengan baik.
Dan di hari itu Anita kedapati seorang Tamu yang tidak ia sangka-sangka, dia adalah Gilang dan Istri nya Glenka. Anita mendapati Glen dan Gilang sudah ada di ruang tamu.
Anita turun karna baru selesai membersihkan diri, Anita tersenyum lesu menyambut kedua pasangan Suami-istri itu.
Anita menghampiri Glenka, Usia kandungan Glenka kini sudah menginjak usia 5 bulan, dan kebetulan Glenka ingin memeriksakan kandungannya di Jakarta, untuk itu Glenka ingin pergi ke jakarta.
Anita memeluk Glenka, sungguh seperti sahabat yang sudah lama tidak pernah bertemu.
"Sabar ya Ann, Gilang sudah menceritakan nya semua, jangan merasa sendiri Ann. Kamu wanita kuat dan hebat, aku ada di sini. " Ucap Glenka dalam pelukan nya pada Anita.
Anita tak menyangka jika Glenka dan Gilang kini menjadi teman dalam derita nya, Anita sangat senang jika melihat Gilang datang bersama dengan Glenka.
"Terima kasih Glen. Terima kasih sudah mau datang. " Jawab Anita pilu.
Anita, Glenka dan juga Gilang berbincang-bincang beberapa saat, tak jarang Glenka dan Gilang pun bermain dengan Nara.
"Ann, jadi bagaimana sekarang ? kandungan mu tidak bisa terus di Tutup-tutupi, semakin lama semakin membesar, saran aku seharus nya Ayah nya harus tau dan kalian harus segera menikah. " Bisik Glenka pada Anita.
Anita tersenyum lalu menundukan kepala nya. " Tidak semudah itu Glen, jika kehadiran anak ini bisa membuat kehancuran di keluarga mereka untuk apa mereka tahu ? aku berpikir ingin melahirkan dan membesarkan nya tanpa meminta pertanggung jawaban dari Mahesa. " Jawab Anita putus asa.
Glenka menggelengkan kepala nya perlahan, lalu memegang kedua tangan Anita. " Tidak semudah itu Ann, kamu sama saja menghukum diri mu dan calon anak mu ini, dia butuh sosok Ayah nya. Setidak nya Mahesa harus tau Ann, jika dia lebih memilih Ibu nya berati dia pengecut dan biarkan lah dia pergi, untuk apa hidup bersama pengecut. Tapi jika dia lebih memilih hidup dalam kesederhanaan bersama kamu dan anak-anak kamu dia Laki-laki hebat."
"Tapi Glen, bagaimana jika keluarga nya hancur Gara-gara aku dan anak ku. " Tanya Anita khawatir.
__ADS_1
"Hidup itu sebuah pilihan Ann, biarkan lah Mahesa yang memilih. Aku ataupun Gilang akan selelu ada untuk mu, jangan sungkan. " Ucap Glenka menenangkan Anita.
Gilang tidak banyak bicara, Gilang hanya mengiyakan apa yang di katakan oleh Glenka, karna Gilang merasa Glenka bisa membuat Anita yakin dan tenang.