
Hari demi hari Anita mulai merasakan kejanggalan pada suami nya itu, tapi Anita berusaha tenang karna takut akan mempengaruhi bayi yang ada di dalam kandungan nya itu.
Anita yang hari itu ada jadwal pemeriksaan, pemeriksaan yang kini di jadwalkan hampir dua Minggu sekali, karna kandungan nya sudah memasuki trimester terakhir.
Anita tidak ingin mengganggu suami nya hanya karna ingin di temani untuk pemeriksaan, Anita tahu siapa suami nya dan apa jabatan suami nya di kantor.
Anita ingin sekali menemui suami nya dan mampir ke kantor nya itu, tapi pasti suami nya akan tidak suka, dia pasti menggerutu karna takut istri nya kecapean.
Anita terus berpikir Fositif terhadap sikap suami nya, namun saat diri nya hendak melewati kantor suami nya Anita melihat kendaraan milik suami nya itu keluar dari area gedung.
"Mas ? mau kemana ? paling ada kerjaan di luar. " Ujar Anita tenang.
Namun dirinya berinisiatif untuk menelpon, dan menitip pesan agar selalu hati-hati pada suami nya.
"Non, itu mobil tuan ya ? " Ujar Pak sopir yang merupakan sopir pribadi di rumah Mahesa dan juga Anita.
Anita tersenyum.
"Iya Pak, mungkin tuan ada kerjaan di luar. " Jawab Anita ramah.
Pak sopir itu hanya mengangguk lalu tersenyum tak kalah ramah.
Anita mengambil ponsel nya, lalu menekan no Mahesa yang bertuliskan Suami ku.
Beberapa kali sambungan telpon itu tidak di angkat, namun Anita mencoba kembali dan sambungan telpon itu tersambung.
"Hallo Mas ? " Sapa Anita lembut.
"Iya sayang ! ada apa ? aku lagi Metting nih di kantor, nanti aku telpon lagi ya. " Jawab Mahesa langsung pada inti nya lalu menutup sambungan telpon itu.
Anita mengerutkan dahi nya, dan menatap layar ponsel.
"Mungkin tadi yang keluar hanya sopir nya saja, mungkin ada keperluan ! " Pikir Anita.
Namun Anita merasa tidak tenang, takut kendaraan suami nya itu keluar tanpa suami nya tahu.
Dan Anita langsung menghubungi sekertaris suami nya yaitu Putri.
__ADS_1
"Hallo put ? " Sapa Putri yang langsung mengangkat sambungan telpon dari Anita.
"Hallo Bu, ada yang bisa saya bantu Bu ? " Jawab Putri sangat sopan pada Bos wanita nya itu.
"Put, saya mau tanya ! Suami saya tahu gak ya kalau mobil nya barusan keluar dari pelataran kantor ? " Tanya Anita lembut.
"Oh Tuan, Iya Bu beliau tahu karna barusan saja beliau keluar dari kantor ! " Jawab Putri karna memang Mahesa tidak menitip pesan jika kepergian nya tidak ada yang boleh tahu.
Degg .... tapi Anita mencoba tetap tenang, dan berbicara biasa saja agar Putri tidak curiga dengan kecemasan nya.
"Oh begitu ! syukurlah soal nya saya tadi lewat, dan saya melihat mobil suami saya keluar ! hari ini memang tidak ada jadwal Metting Put ? " Tanya Anita mencoba tetap tenang.
"Loh ko tumben Bu Anita menanyakan Metting segala ? " Pikir Putri dalam hati nya.
"Oh tidak Bu, kebetulan agenda Tuan hari ini sudah beres 1 jam yang lalu, jadi Tuan barusan keluar tanpa agenda Bu. " Jawab Putri.
Jantung dan hati Anita mulai merasa tidak enak.
"Oh ya baik lah Put, terima kasih ya ? " Ujar Anita lembut lalu menutup sambungan telpon itu.
"Emm ... Pak ! mobil suami saya masih terlihat tidak pak ? " Tanya Anita pada Pak sopir, niat Anita ingin mengikuti kemana mobil suami nya itu pergi.
"Tidak Non, tadi saya lihat Mobil Tuan belok ke arah kiri sementara kita lurus Non ! " Jawab Pak sopir.
"Oh ya sudah tidak apa-apa Pak, lanjut jalan pulang saja. " Jawab Anita mencoba tetap tenang.
"Baik Non ! " Timpal Pak sopir.
Tak lama kemudian Anita pun sampai di pelataran rumah nya, berharap mobil suami nya terparkir di halaman rumah nya, namun yang Anita lihat tidak sesuai harapan.
Anita turun dari mobil, dan berjalan menuju rumah nya dengan sangat pelan dan hati-hati.
Anita tidak ingin terlalu memikirkan apa yang menurut dia tidak perlu di pikirkan, Anita terus saja ber alih bahwa suami nya itu memang ada kepentingan lain.
Anita memilih untuk beristirahat sejenak.
Sementara mobil Mahesa kini sedang terparkir bebas di pelataran hotel berbintang lima, yang ada di kota itu.
__ADS_1
Mahesa berjalan menuju salah satu kamar, dengan jantung yang berdegup kencang Mahesa terus melangkah.
Setiba nya di depan kamar hotel itu, Mahesa menekan bel kamar itu, dan sangat cepat pemilik kamar hotel itu membuka kan nya.
Dengan pakaian serba mini sang pemilik kamar itu menyambut Pria tampan yang hendak datang pada nya.
"Hay .... " sapa wanita itu, tak lain dan tak bukan itu adalah Amel.
Mahesa hanya melirik Amel dari atas sampe bawah.
Tangan Amel menarik lengan Mahesa agar segera masuk ke dalam kamar nya, setelah itu Amel menutup kembali pintu kamar hotel nya.
Mahesa saat itu merasa gugup dan keringat mulai membasahi tubuh nya.
Amel semakin senang menggoda laki-laki impian nya itu, tak perduli jika dia sudah beristri.
Amel melingkarkan tangan Mahesa pada pinggang nya, Amel yang memposisikan tubuh nya di hadapan Mahesa kini dapat merasakan suhu tubuh Mahesa walau pun posisi Amel membelakangi tubuh Mahesa, karna tubuh mereka saling berdekatan.
Seketika Amel menghentikan langkah nya, lalu berbalik menghadap Mahesa.
Dua tangan yang Amel miliki ia lingkarkan di tengkuk leher mahesa, sementara kedua tangan Mahesa, terlebih dahulu sudah Amel tuntun untuk melingkar di pinggang nya yang ramping itu.
"Sayang, padahal di sini udara nya sejuk loh, ko keringatan gitu ? " Tanya Amel dengan suara menggoda.
Mahesa sadar jika diri nya kini sedang menahan birahi dan ambisi nya.
"Entah lah, aku merasa udara di sini panas ! " Jawab Mahesa seadaanya saja.
"Aku pun sama sayang, rasa nya aku ingin membuka semua pakaian ku agar udara sejuk mampu menembus tubuh ku tanpa ada sehelai kain pun yang menghalangi nya ! " Timpal Amel semakin membuat Mahesa salah tingkah.
"Apa yang akan kamu bicarakan, ada kabar apa dari Ayah mu ? " Tanya Mahesa.
Karna dari awal memang Amel menelpon Mahesa, agar segera datang ke tempat nya ada pesan dari ayah nya untuk segera di sampaikan pada Mahesa.
"Oh ya ... aku sampai lupa tujuan aku menyuruh mu datang kesini. ( Amel sedikit tertawa ) Aku menyuruh Papah untuk menambahkan lagi saham di perusahaan kamu Mas, dan tanpa lama Papah menyetujui nya dan total nya sangat pantastis sekali, aku yakin perusahaan yang kamu pegang itu akan tambah sukses. " Bisik Amel.
Mahesa pun senang mendengar nya, dan berterima kasih pada Amel.
__ADS_1