
Dengan rasa cemas dan khawatir, Abi Hanif menghampiri Mahira yang berada di atas brankar.
Menanyakan bagaimana keadaanya, dan bagaiman kejadian nahas ini bisa terjadi.
Masih segar di ingatan Abi Hanif , Jika Kemarin sore Maryam yang mengalami kecelakaan , dan Saat ini Putrinya Mahira juga tengah mengalami kecelakaan yang Sama.
***
Abi Hanif terlihat meloloskan bulir bening dari sudut matanya, yang saat itu dengan jelas terlihat oleh pasang mata dokter Tama.
Ada sedikit rasa iba pada dokter Tama melihat kepedihan yang di rasakan oleh Abi Hanif.
Abi Hanif merasa sangat sedih, terlebih setelah mendengar penuturan dari dokter Tama mengenai beberapa spekulasi yang mungkin saja terjadi, yang mungkin menjadi latar belakang dari kejadian yang saat ini dialami oleh kedua putrinya.
Ditengah obrolan ketiganya, terlihat seorang dokter jaga yang menghampiri.
"Lho Dokter Tama !" ucap dokter jaga tersebut.
Tatkala mendapati sosok dokter Tama yang sangat di Segan i di rumah sakit besar tersebut, tengah berada di Ruang UGD.
"Oh, iya dok" Ucap dokter Tama ramah.
"Keluarganya ?" Ucap dokter jaga tersebut pada sosok dokter Tama
Sejenak dokter Tama menyadari jika sang dokter jaga menganggap jika Abi Hanif , Ummi Maya, dan Mahira merupakan keluarganya.
"Ah.. Ini dok, Ummi Maya ini sebelumnya menjadi pasien saya , dan ini putrinya " Ucap dokter Tama dengan tatapan mengarah pada Mahira yang tengah berbaring.
"Emm, Begitu" Ucap dokter jaga tersebut, tampak menganggukkan kepala.
"Oya , jadi bagaiman dok kondisi Mahira saat ini?" Tanya dokter Tama kemudian.
"Alhamdulillah kondisinya baik-baik saja , dan setelah di periksa tidak ada cedera serius, pasien hanya mengalami Shock hingga tidak sadarkan diri sebelumnya" Ucap dokter jaga tersebut memberi penjelasan.
Abi Hanif dan Ummi Maya tampak mengangguk, mengerti dengan ucapan sang dokter.
"Untuk selanjutnya pasien hanya perlu rawat jalan saja, tidak perlu rawat inap, dan saya akan resep kan beberapa obat untuk pasien" Tukas dokter jaga tersebut lagi.
"Baik dok, terima kasih banyak" Ucap dokter Tama seketika dengan menjabat tangan erat sosok dokter jaga yang telah merawat Mahira.
__ADS_1
Setelah menyampaikan perihal kondisi sang pasien, dokter jaga tersebut bergegas berlalu dari hadapan dokter Tama dan yang lainya.
"Kalau begitu saya permisi dok" Ucap dokter jaga tersebut.
"Terima kasih dok" Ucap dokter Tama kemudian dengan menganggukkan kepala.
Mahira terlihat hanya diam dan membisu sejak kedatangan dokter Tama sebelumnya.
Sejujurnya Mahira masih merasa sangat sungkan, jika harus berhadapan dengan sosok dokter Tama yang dulu pernah menjadi seseorang yang sangat di idolakan.
Bahkan alasan dimana Mahira Drop Out, salah satunya juga adalah karena dokter Tama yang dengan terang-terangan menolaknya di hadapan umum , dan mengatakan jika dirinya telah mencintai wanita lain, dan wanita tersebut adalah Tasya. Seseorang yang saat ini menjadi Mantan istri dari Reza Abizar El Shirazy.
Setelah menyelesaikan Administrasi, dan telah menebus obat yang di butuhkan Mahira selama masa penyembuhan, Bergegas Ummi Maya mengajak Mahira dan Abi Hanif untuk Segera Kembali ke rumah.
Mengingat hari yang semakin petang.
"Abi, Mobilnya di bawa kesini saja, supaya lebih dekat"
Ucap Ummi Maya dengan menunjuk Teras UGD, Ummi Maya mengatakan hal itu karena merasa kasihan jika Mahira harus berjalan menuju parkiran yang jaraknya lumayan jauh.
"Ummi , Mobil Abi Tadi mengalami pecah ban, dan Abi tadi naik ojek, makanya tadi Abi sedikit lama" Ucap Abi Hanif dengan wajah lesu dan tatapan sendu.
"Ummi , Abi , Tidak perlu Cemas, Mahira akan memesan Taksi Online" Ucap Mahira kemudian dengan menggeser ikon pada layar ponselnya.
"Tidak Perlu, biar saya yang antar" Ucap Dokter Tama sopan, dengan senyum manis menghiasi wajah tampannya.
"Apa tidak merepotkan dokter ?" Tanya ummi Maya tampak sungkan dan perasaan tidak enak.
"Tidak ummi, tidak masalah, lagi pula Saya juga sudah turun Piket" Ucap dokter Tama kemudian.
"Baiklah jika tidak merepotkan, terima kasih dok sebelumnya " Tukas Ummi Maya dengan senyum sumringah.
"Ummi, Abi, dan Mahira tunggu sebentar disini" Ucap dokter Tama dengan berlalu dari hadapan ketiganya.
Bergegas dokter Tama menuju tempat dimana dia memarkirkan mobilnya "Parkiran Khusus Dokter" Dimana tempat mobil dokter Tama berada.
Sebuah mobil mewah milik seorang dokter spesialis jantung yang terparkir rapi bersama deretan mobil para dokter lainya.
Segera dokter Tama menuju kemudi dan berlalu meninggalkan parkiran untuk menuju halaman UGD, dimana sebelumnya Abi Hanif, Ummi Maya dan Mahira menunggu dirinya.
__ADS_1
Setelah berhenti tepat di hadapan ketiganya, Segera dokter Tama meraih pegangan kursi roda yang di gunakan oleh Mahira untuk duduk menanti kedatanganya, dari tangan salah satu perawat untuk memindahkannya ke dalam mobil.
Namun sebelum dokter Tama meraih tubuh Mahira, untuk mengangkat tubuh ringkih tersebut, segera Mahira menolah "Maaf dok, saya bisa sendiri" Ucap Mahira lirih dan menundukkan pandangan, dengan rasa sungkan pada sosok Tama.
Mendengar penolakan dari Mahira, dokter Tama sejenak tergugu dan segera memundurkan badanya, untuk memberi ruang pada Mahira agar leluasa masuk kedalam mobil.
"Baiklah" Ucap dokter Tama singkat.
Setelah ketiganya masuk kedalam mobil mewah dokter Tama , dokter Tama pun segera duduk di bangku kemudi untuk melanjutkan perjalanan menuju kediaman Abi Hanif.
Sepanjang perjalanan tampak ketiganya saling diam membisu, terlebih Mahira yang hanya membuang pandanganya ke arah luar jendela dengan tatapan kosong.
Hal itu pun tidak luput dari pandangan dokter Tama yang tidak sengaja melihatnya.
Tidak jarang Mahira menundukkan pandanganya setelah sesaat membuang pandanganya kearah luar jendela mobil mewah dokter Tama.
***
Deretan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, Terlihat dari balik dinding kaca , sebuah tempat dimana Reza dan beberapa asisten dan orang kepercayaan nya saat itu tengah mengadakan pertemuan penting.
Sejenak Reza merasa sangat geram, dengan rahang yang mengeras, dan tangan yang mengepal di balik saku celana yang dia kenakan.
Hal itu membuat setiap orang yang berada di ruangan tersebut merasa takut, meski hanya untuk menatap sorot mata tajam Reza.
"Bagaimana penyelidikan mu ! " Ucap Reza dengan suara dingin dan tatapan tajam bagai pedang yang siap menghunus musuhnya.
"Untuk saat ini semua informasi sudah kami dapatkan Tuan !" Ucap Lian dengan suara mantap
"Bagus , Lanjutkan penyelidikan, dan usut sampai tuntas, aku tidak akan pernah mengijinkan seekor kecoa pun bermain-main dengan keluargaku" Ucap Reza dengan suara lantang dan sorot mata tajam menusuk.
***
Bersambung
***
Assalamualaikum para Reader ku sayang...
Terima kasih telah setia menantikan cerita dari Pesona Maryam Albatul Rahmah. Semoga menghibur kalian semua.
__ADS_1
Ohya, siapa nih disini yang lagi mikir Mahira bakal sama Dokter Tama ngacunggg 👆👆😃