
Ustadz Hamzah merasa sangat terkejut, hingga dirinya harus memegang dadanya yang seolah terasa berdenyut, menahan rasa nyeri yang seketika itu juga muncul.
"Astaghfirullah" Gumamnya dalam hati.
Menatap tidak percaya pada sahabatnya tersebut, seseorang yang telah dia anggap keluarga, nyatanya telah begitu menyakitinya.
Terlebih dengan lantang Ustadz Furqon meminta tebusan sebanyak dua milyar, dimana itu tidak sebanding dengan 200 juta yang pernah dia berikan pada ustadz Hamzah saat itu.
Ustadz Hamzah jelas masih mengingat betul, jika ustadz Furqan memberinya cuma-cuma bahkan dia mengatakan ikhlas, dengan atas nama untuk membantu umat, namun nyatanya saat ini dia begitu tegas meminta nya kembali dan seolah menjadikannya sebuah peluang bisnis yang begitu menguntungkan, dengan meningkatkan nominal yang dia ajukan, sesuai harga jual tanah saat ini.
Apa ini tidak berlebihan Furqan?" Tanya ustadz Hamzah memastikan lagi jika memang ustadz Hamzah tidak salah mendengar.
Ustadz Furqan tampak berdecak kesal dengan pertanyaan ustadz Hamzah.
"Berlebihan ?" Ucap ustadz Furqan mengulang pertanyaan ustaz Hamzah.
Ustadz Hamzah mengangguk kan kepala dengan tatapan menatap lekat ustadz Furqan di hadapannya.
"Aku rasa tidak ada yang berlebihan Hamzah, Mungkin dulu memang hanya 200 juta, namun itu 17 tahun yang lalu Hamzah" Ucap Ustadz Furqon dengan congkak.
"Kau harus tahu, berapa harga tanah saat ini Hamzah " Ucapnya lagi dengan penuh penekanan.
Ustadz Hamzah hanya kembali meratap dan mengusap lembut dadanya.
"Kalau di hitung dengan bunga per tahun mungkin lebih dari itu nominalnya, terlebih tanah ini sangat luas " ucap nya lagi.
Gleg.
"Astaghfirullah Bunga ?" gumam ustadz Hamzah lirih, masih dengan rasa tidak percaya.
Lagi dan lagi ustadz Hamzah harus menelan ludah, menggelengkan kepala menyadari sosok di hadapannya betul-betul telah berubah.
Hening.
Semua orang tampak larut dalam pikiran masing-masing. Disaat di saat itu, justru Tama hanya tersenyum, menatap geli pada sosok laki-laki tua yang terlihat begitu sombong di usianya yang seharusnya banyak mendekatkan diri pada yang maha kuasa.
Tama menarik nafas dalam, dan mengurai penat di pikiran.
"OKE !" ucap Tama dengan suara datar
__ADS_1
Ustadz Hamzah, Nissa , dan ummi dari Nissa pun menatap kaget, tidak mengerti dengan kata oke yang di ucapan Tama .
"OKE , Saya akan memberikan sesuai permintaan anda " Ucap Tama dengan seringai tipis di wajahnya.
Lagi dan lagi ustadz Hamzah, Nissa dan yang lainya merasa terkejut, begitu pun dengan ustadz Furqan yang juga tidak kalah terkejut.
"Namun dengan satu syarat !" Ucap Tama dingin
"Saya tidak ingin perjanjian ini hanya diatas tangan, jadi saya pun akan mengurus secara jelas pelimpahan kepemilikan tanah ini " Ucap Tama
"Tidak masalah " Ucap ustadz Furqan ketus, namun dalam hatinya begitu berbunga, bagai mimpi disiang bolong mendapatkan uang dua milyar dengan begitu mudah.
Melihat perubahan wajah dari ustadz Furqon, Tama hanya tersenyum geli dengan menatap tidak percaya.
Tidak ingin berlama-lama Tama segera menelepon Sekertaris dan pengacara nya, meminta nya datang untuk mengurus semua.
Suasana menjadi begitu hening ketika Tama begitu serius dengan ucapannya.
Maher hanya dapat menggeleng pasrah, mengingat harapannya bersanding dengan Nissa, kandas sudah sebelum berkembang.
Beberapa kali Maher hanya mendengus kesal, entah saat ini dia ingin marah terhadap siapa, Maher sendiri tidak dapat lagi memahami isi kepalanya.
Ya.
Tama yang memang sedari tadi tak henti-hentinya melemparkan pandangan pada Nissa yang menundukkan wajah, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Namun Tama begitu tertarik, seolah wajah Nissa saat ini begitu menjadi candu baginya.
Wajah teduh dan cantik yang seolah membius mata Tama untuk selalu melihat nya tidak hanya Tama saja mungkin namun banyak dari laki-laki lain pun mungkin juga akan merasakan hal yang sama.
Termasuk Maher yang saat ini juga tengah menatap Nissa dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Suasana begitu hening, dan terasa canggung.
Tidak hanya Nissa yang menundukkan wajah dengan perasaan Bingung, Begitu juga Ustadz Hamzah yang juga terlihat raut wajah bingung di sana.
Tidak butuh waktu lama, lima belas menit menunggu akhirnya sekertaris dan juga pengacara yang sebelumnya di panggil oleh Tama telah datang di tempat tersebut.
"Selamat siang tuan Tama " Ucap sang pengacara dengan Membungkukkan badan.
Tidak hanya pengacara dan sekertaris Tama saja yang datang, namun juga ternyata Tama menghubungi seorang notaris yang dia percaya untuk mengurus semuanya.
__ADS_1
Proses mengurus surat menyurat memang sangat rumit, itu di akui oleh Tama, terlebih sebelumnya tanah tersebut merupakan tanah sengketa keluarga, yang awal mulanya adalah di niatkan untuk wakaf.
Namun dengan peran Pengacara dan notaris kepercayaan Tama. Tama yakin semua akan berjalan dengan lancar, terlebih orang-orang yang di minta oleh Tama adalah orang-orang yang ahli dalam bidangnya.
Setelah surat-menyurat selesai, kini tiba saatnya pembayaran tanah sesuai dengan harga yang telah di sepakati.
Tama segera menuju mobil pribadinya, diambil tas kerja miliknya.
Tidak butuh waktu lama Tama telah kembali, dan duduk diantara orang-orang yang ada di ruang tamu tersebut.
Tama mengeluarkan chek yang bertuliskan uang sejumlah dua milyar, dan ada juga bubuhan tandatangan miliknya.
"Apa ini, apa ini berlaku ?" Ucap ustadz Furqan tampak bingung menerima chek dari Tama tersebut.
Karena pikirannya dia akan menerima uang dalam jumlah ber gepok gepok, nyatanya dia hanya mendapatkan selembar kertas.
"Ehem !, Saya akan membantu anda mengurus pencairan cek itu" Ucap sekertaris Tama kemudian.
Tama hanya tersenyum geli melihat wajah ustadz Furqan yang seolah tidak tahu malu.
"Baiklah" jawab ustadz Furqan masih dengan membusungkan dada.
Ustadz Furqan segera bangkit dari duduknya, hal itu sontak membuat orang-orang yang ada di sana kaget.
"Ada apa ?" Tanya ustadz Furqan congkak
Semua orang hanya menggelengkan kepala, termasuk Maher sendiri yang merasa malu dengan sikap ayahnya.
"Kamu, bukankah ingin membantu mengurus pembayaran ini, kenapa masih duduk" Ucap Ustadz Furqon lagi tampak tidak sabar.
Sekertaris Tama pun hanya tersenyum getir melihat hal itu . "Baik tuan , Mari " Ajak sekertaris Tama yang mulai bangkit dari duduknya.
"Maaf tuan Tama saya permisi dulu " Ucap sang sekertaris dengan menunduk sopan.
Tama hanya menganggukkan kepala, setelahnya mengibaskan tangannya.
Maher masih saja terlihat menatap Nissa, tatapan yang seolah memohon maaf atas sikap sang ayah.
Namun Nissa hanya menunduk , dan enggan untuk mengangkat wajahnya, meski Maher dan kedua orang tuanya terlihat akan beranjak pergi meninggalkan ruang tamu tersebut.
__ADS_1
***