
Nissa merasa berdosa pada mata nya, bagaiman dirinya begitu lancang mengagumi sosok di hadapannya.
"Astaghfirullah" Gumam Nissa dalam hati.
Setelah kepergian Tama, Nissa memilih untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat duha. Karena masih ada sisa waktu sebelum masuk waktu sholat Dzuhur.
Menyibukkan dengan segala aktifitasnya, tidak banyak yang Nissa bisa lakukan memang, sementara Ali juga tengah tertidur karen Efek obat yang baru saja dia minum.
Rutinitas menunggu Ali membuatnya begitu kelelahan, namun buka Nissa jika dirinya menyerah.
Setelah menyelesaikan sholatnya, Nissa memilih untuk membaca beberapa Ayat Al-Qur'an melalui smartphone miliknya.
Beberapa saat larut dalam bacaan, Tanpa di sadari oleh Annisa, Tama telah berada di dalam ruangan dengan menatap lekat sosok yang tengah duduk bersimpuh diatas sajadah
"Luar biasa " Gumam Tama dalam hati.
Setelah beberapa saat akhirnya Nissa mengakhiri bacaan alqurannya, setelah ada sebuah panggilan masuk kedalam handphone miliknya.
"Abi" Gumam Nissa lirih.
Segera Nissa menggeser ikon tanda hijau yang terdapat pada benda pipih di tangannya.
"Assalamualaikum Abi" Ucap Annisa setelah keduanya saling terhubung dalam satu panggilan.
"Waalikum salam Nissa" Jawab ustadz Hamzah kemudian.
"Ada apa Bi?" Tanya Nissa kemudian
Setelah nya Ustadz Hamzah memberi kabar bahwa ada seseorang yang saat ini tengah datang ke rumah dengan membawa niat baik untuk melamar dirinya.
Deg.
Seketika perasaan Nissa begitu terguncang, debaran jantung terasa begitu kuat didalam sana.
Seketika raut wajah Nissa berubah, bukan hingar bahagia yang dia rasakan, Maun lebih pada perasaan panik.
"Nis, Nissa ?" Panggil Ustadz Hamzah yang menyadari putrinya hanya terdiam,setelah ucapan yang terakhir ustad Hamzah ucapkan.
Tama yang sedari tadi mengamati Annisa merasa sedikit aneh dengan perubahan wajah sosok di hadapannya yang terlihat begitu pucat.
"Apa kau sakit" Tanya Tama setelah Nissa menutup panggilan telepon nya.
"Astaghfirullah" ucap Annisa kaget, menyadari suara tiba-tiba Tama.
"Kenapa kaget, aku sudah di sini sejak tadi" Ucap Tama kemudian.
Nissa sedikit di buat melongo dengan Ucapan Tama yang baru saja dia dengar.
"Maaf" ucap Nissa merasa tidak enak hati.
Tama pun hanya mengerutkan dahi menyadari sikap salah tingkah dari Nissa.
__ADS_1
***
Kediaman Abi hanif.
Mahira yang telah mendapatkan beberapa nasihat, nasihat yang dia dapatkan bahkan dari sang adik.
Merasakan sebuah ketenangan dalam ucapan Maryam.
Mengingat kembali jika Maryam sempat mengatakan jika Denis akan melamarnya secara resmi dalam waktu dekat, sedikit banyak membuat Mahira merasa berdebar.
Sudut hatinya terasa menghangat dan tanpa terasa mengulas sebuah senyuman manis di wajah cantiknya.
"Ehem " Ucap Abi hanif yang tiba-tiba muncul di dekatnya.
"Astaghfirullah Abi " Ucap Mahira kaget.
Abi Hanif hanya terkekeh mendengar ucapan sang putri.
"Abi tidak ke pabrik " Sapa Mahira kemudian
Abi Hanif menggelengkan kepala "Tidak, Abi ingin di rumah hari ini" Jawabnya kemudian.
Abi hanif mendaratkan tubuhnya di kursi panjang yang juga Mahira tempati.
"Mahira?" Panggil Abi Hanif
"Iya Abi" Jawab Mahira singkat.
Sejenak Abi Hanif tampak menghela nafas dalam, mencari kalimat yang tepat untuk memulai pembicaraan dengan sang putri.
Mahira pun seketika mengetahui apa yang akan Abi nya ucapkan setelah ini.
"Reza mengatakan jika Dirinya akan melamarnya untuk Denis dalam waktu dekat ini" Ucap Abi Hanif
Mahira hanya mengulas senyum tipis di bibirnya.
"Iya Abi " Jawab Mahira singkat, karena memang Mahira pun telah mengetahui hal itu dari Maryam.
"Maksut Abi, apa kamu sedah memikirkan jawaban dari lamaran nak Denis tempo hari ?" Tanya Abi Hanif memastikan.
"InshaAllah sudah Abi" Jawab Mahira dengan mantap.
Abi Hanif pun menganggukkan kepala dengan hingar bahagia. seraya mengulas senyuman manis di wajah tua nya.
"Abi hanya ingin mengingatkan nak" Ucap Abi Hanif kemudian.
Mahira tampak serius mendengarkan ucapan sang abi.
"Jadilah perhiasan yang indah bagi keluarga mu nanti" Ucap Abi Hanif
"Dan sebaik-baik perhiasan adalah istri Solihah" Ucapnya lagi.
__ADS_1
Mahira tampak menganggukkan kepala memahami ucapan sang Abi.
"InshaAllah Abi" Jawab Mahira
"Mahira akan sangat membutuhkan nasihat dan bimbingan dari Abi " Ucap Mahira lagi .
Abi Hanif pun menjawab dengan anggukan kepala pada sang putri.
***
Kembali pada ruang perawatan Ali.
Nissa yang baru saja mendapatkan kabar dari Abi nya, kembali merasakan takut dan cemas yang seketika menyeruak di dadanya.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan dadi balik pintu kamar tersebut.
Pintu pun terbuka, menampakkan sosok dua orang perawat masuk kedalamnya.
"Selamat siang dok" Sapa perawat tersebut pada Tama yang tengah duduk di sofa.
Tama hanya mengulas senyum dan setelahnya menganggukkan kepala.
perawat tersebut melakukan tugasnya , beberapa instruksi yang telah di sampaikan oleh dokter Anton.
Dimana Ali akan mulai belajar untuk mobilisasi dini, sehingga perawat tersebut mencabut selang cateter, dan selang infus yang menempel, guna untuk memudahkan Ali dalam mobilisasi.
Bukan tanpa.alasan selang infus pun di lepas, hal itu karena memang Ali sudah tidak membutuhkannya, terlihat dadi bagaiman Ali saat ini makan, sudah begitu lahap seperti sebelumnya. Dan dokter merasa infus sudah tidak begitu di perlukan untuk Ali.
Selain itu juga karen obat-obatan yang di berikan merupakan obat oral , dan tidak membutuhkan infus sebagai perantaranya.
Setelah menyelesaikan tugasnya, para perawat tersebut undur diri dan kembali meninggalkan Ruang perawatan Ali, untuk melaksanakan tugas nya masing masing.
Menyadari Nissa yang lebih murung dari biasanya, Tama merasa sedikit aneh, pasalnya meski tidak pernah berbicara dengan Nissa berkaitan dengan hal pribadi.
Namun Tama sangat mengetahui bagaimana jika wanita sedang dalam kondisi tidak baik baik saja.
Ingin rasanya dia menanyakan hal itu, namun nuraninya mengatakan tidak, jangan tanyakan apapun pada gadis di hadapannya.
Dan pas akhirnya Tama memilih untuk diam, dan tidak lagi membahas mengenai pikiran dan pemikiran Nissa.
Tama lebih memilih Menyibukkan dirinya dengan laptop kesayangan miliknya, memberikan beberapa tugas pada mahasiswanya di kampus, tidak hanya itu, nyatanya Tama juga tengah fokus dengan laporan pasien pasien yang di kirim oleh perawat bangsal Jantung dan paru.
Untuk dia gali lebih dalam serta rencana tindakan pada beberapa pasiennya.
***
Maaf ya sehari kemarin terlewatkan
Semoga dengan bab ini bisa mengobati kerinduan Para Reader dengan Maryam
__ADS_1
Terima kasih telah membaca
βΊοΈπ€π