PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
89. Tingkah Konyol Reza


__ADS_3

Setelah penantian yang lumayan membuat Reza sedikit jengah , akhirnya Seblak Bandung yang di pesan pun telah siap Ter saji di meja mereka.


Maryam tampak bersemangat, dan sudah tidak sabar ingin mencicipi kenikmatan dadi seblak Bandung yang ada di depan matanya tersebut.


"Apa kau yakin ?" tanya Reza lagi tampak memastikan hidangan yang ada di hadapannya.


"Tentu saja , ini sangat enak mas " Jawab Maryam dengan penuh semangat dan air liur yang sudah membuncah di mulutnya.


"Dari baunya sih enak, Tapi entah lah" Batin Reza dengan senyum nyengir


Maryam telah lebih dulu memasukan beberapa suapan kedalam mulutnya, memuji skill memasak chief street food tersebut


"Pantas saja tempat ini sangat ramai, emm... Rasanya sungguh nikmat" gimana Maryam dalam lirih di sela-sela mengunyah kerupuk lembek dengan bumbu pedas level dua tersebut.


Disusul Reza yang memasukan satu suapan kedalam mulutnya.


Maryam tampak mengamati perubahan wajah Reza yang seketika merona setelah suapan pertama masuk dalam mulutnya.


"Apa itu sangat pedas ?" Tanya Maryam polos dengan perasaan khawatir.


Reza tampak gelagapan "Hah.. Tidak !" Ucap Reza seketika, tidak ingin Maryam mentertawakan dirinya.


"Bisa hancur harga diriku, jika suapan pertama saja aku sudah menyerah" Batin Reza dalam hati


"Ya Ampun, ini makanan Pakai cabe sekilo apa ! bisa pedes begini !" Batin Reza lagi dengan mulut mencucu, namun tetap berusaha memasukan suapan demi Suapan ke dalam mulutnya.


Reza sampai melepaskan jas dan membuka kancing kemeja bagian atas dengan melepas dasi yang dia kenakan, Rasanya seluruh badanya terasa panas.


Bahkan Es susu coklat yang di pesan Maryam untuk Reza pun telah tandas, dan hanya menyisakan bongkahan es batu disana.


"Aku sudah memasukan berkali -kali kedalam mulut, Tapi kenapa ini masih banyak"


Gumam Reza merasa kesal, namun masih tetap memasukan suapan demi Suapan Seblak kedalam mulutnya.


"Mas, kalau tidak kuat, jangan di paksakan" Ucap Maryam lirih , merasa iba pada sang suami.


Bagaimana Maryam tidak merasa kasihan terhadap suaminya, melihat peluh-peluh bermunculan dari sudut wajah tampan Reza, keringat berukuran sebesar biji jagung tiba-tiba muncul disana. Bahkan terlihat ingus yang keluar begitu saja, hingga membuat Maryam terkekeh kecil dibuatnya.


"Tidak, ini sama sekali tidak pedas !" Ucap Reza dengan suara serak


Reza mempercepat suapan demi Suapan,tidak ingin semakin menyiksa tenggorokannya dengan makanan yang entah terbuat dari apa ini.

__ADS_1


Seporsi Seblak Bandung dengan tingkat kepedasan level lima telah tandas dari mangkuk Reza.


Namun masalah baru muncul, melihat minumannya yang ternyata juga telah tandas hingga hanya menyisakan bongkahan es saja, Segera Reza mengambil aksi seribu dengan menyerobot gelas Maryam dan meminum nya seketika.


Maryam tampak dibuat kaget dengan tingkah Reza, dan hanya menggelengkan kepala mendapati tingkah konyol suaminya.


"Apa perlu Maryam pesankan minuman lagi" Ucap Maryam lembut dengan pandangan fokus pada wajah Reza yang sudah memerah dengan keringat berukuran besar tidak berhenti keluar dari pelipisnya.


"Tidak , Tidak perlu " Ucap Reza singkat.


"Baiklah " Jawab Maryam tampak memelas melihat ekspresi Reza.


Segera Reza membayar semua pesanan yang di pesan, Dengan sigap Reza meraih tangan Maryam, kemudian menggandengnya dan berlalu meninggalkan tempat tersebut menuju tempat dimana Reza memarkirkan mobilnya.


Reza masih tampak menyesap salivanya untuk mengurai rasa pedas yang masih saja menempel pada lidahnya.


Maryam hanya dapat mengatupkan bibirnya untuk menahan tawa, melihat tingkah Reza yang sangat menggelikan.


"Mas Reza baik-baik saja ?" Tanya Maryam kemudian


"Tentu saja ! , Aku tidak akan pingsan hanya karena memakan sekilo cabai " Ucap Reza datar


Maryam hanya mengatupkan kedua bibirnya untuk menahan tawa.


Kedatangan keduanya telah disambut oleh beberapa pelayan yang dengan sigap membuka kan pintu mobil untuk Maryam maupun Reza.


Menyadari kedatangan Maryam dan Reza yang bersamaan nenek Halimah merasa sedikit terkejut, pasalnya tidak biasanya keduanya pulang bersama. Namun hal itu membuat nenek Halimah tersenyum Bahagia.


Melihat nenek Halimah dan kakek Amar yang tengah berada di ruang keluarga, Maryam segera menghambur di susul Reza yang berada di belakang Maryam.


Segera keduanya mencium punggung tangan kakek dan nenek nya secara takzim.


"Kek , nek, Reza ke kamar dulu ya" Ucap Reza seraya berlalu dari hadapan keduanya.


Melihat hal itu Maryam segera menyusul suaminya, mengekor dadi belakang langkah jenjang Reza , hingga Maryam harus sedikit berlari untuk mengimbangi langkah suaminya.


"Mas Maryam siapkan air untuk mandi mas Reza dulu ya" Ucap Maryam seketika dengan meletakan tas nya diatas sofa


Melihat punggung Maryam yang menghilang dibalik pintu kamar mandi muncul ide licik di otak Reza.


Seperti biasa Maryam akan menyiapkan Air hangat di bathtub dengan melarutkan Bath bombs untuk Reza berendam.

__ADS_1


"Selesai" Ucap Maryam lirih setelah menyelesaikan tugasnya.


Maryam segera mengangkat bobot tubuhnya yang sebelumnya berjongkok untuk menyiapkan air untuk suaminya.


Tanpa di sadari Reza telah berada tepat di belakang Maryam yang akan keluar dari kamar mandi, hal itu sontak membuat Maryam kaget, dan hampir saja terhuyung hingga Maryam nyaris terjungkal.


Namun dengan sigap Reza meraih tubuh Maryam, dan mendekapnya dengan erat.


"Aku akan menghukum mu " ucap Reza dengan setengah berbisik tepat di telinga Maryam


Maryam tampak bergidik mendengar ucapan Reza yang terasa menekan dan menghujam sampai kedalam relung hatinya.


"Mas !" ucap Maryam kemudian.


"Mas Reza tega menghukum Maryam ?" Gerutu Maryam kemudian


"Memangnya Maryam salah apa , sampai mas Reza harus menghukum Maryam ?" Tanya Maryam dengan suara polos merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


Reza hanya tersenyum dengan rencana licik yang telah tersusun dalam otaknya.


"Sebaiknya kita mandi bersama, supaya lebih cepat , bukankah waktu sholat magrib tidak lama" Goda Reza pada Maryam yang berusaha melepaskan cengkeramannya.


"Tidak Tidak Tidak, Maryam rasa ini bukan solusi yang baik" Ucap Maryam gagap.


Tentu saja Maryam akan menolak ajakan Reza, sudah pasti tidak akan hanya mandi namun lebih dari itu akan Reza lakukan, dan justru hal itu akan memakan waktu lebih lama.


Melihat kepanikan pada wajah Maryam, Reza merasa sangat puas telah membuat istrinya berada dalam tekanan yang dia berikan. sebuah seringai licik terlihat dari bibir menawan Reza.


Menyadari hal itu, Maryam segera mengambil langkah seribu untuk segera berlalu dari hadapan Reza saat itu juga.


Beberapa saat keduanya telah berada dalam satu jamaah sholat dengan Reza sebagai imam dan Maryam sebagai makmum


Keduanya tampak semakin khusuk melaksanakan sholat jamaah.


Tidak lupa keduanya menutup ibadahnya dengan doa dan dzikir.


Reza yang sedikit banyak telah belajar bacaan Alquran pun mengikuti jejak sang istri, dengan membaca satu dua ayat dalam Mushaf Al-Qur'an yang telah beberapa saat dia gunakan.


***


Bersambung

__ADS_1


***


__ADS_2