PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
86. Cerita Pagi


__ADS_3

Benar saja setelah sampai di dalam kamar, dengan sigap Reza membaringkan tubuh ramping Maryam dengan lembut.


Maryam pun hanya pasrah dengan aksi suaminya tanpa berniat menolak, meski hatinya berkata tidak.


Maryam menyadari tugasnya sebagai istri dan seorang muslimah yang baik, pantang untuk menolak permintaan suaminya, terlebih menyenangkan hati suami merupakan sebuah kebaikan, yang bernilai pahala.


Terlihat Maryam pasrah dengan memejamkan kedua bola matanya.


Namun sebelum Reza melancarkan aksinya untuk yang kesekian kali, terdengar sayup-sayup adzan subuh dari kejauhan yang berkumandang dengan begitu merdunya.


"Alhamdulillah" Ucap Maryam kemudian merasa lega.


Reza hanya bisa mendengus kesal dengan wajah yang tertunduk lesu, bagaimana tidak, Reza yang telah siap berada di bagian atas, mengunci Maryam bagai Casanova yang siap menerkam mangsanya. namun harus tertunda begitu saja.


"Mas! " Ucap Maryam membuyarkan Fokus Reza yang tengah menidurkan adik kecilnya yang sebelumnya telah siap untuk berpetualang.


"Panggilan Allah lebih utama, Kita bisa melakukan nya lagi dilain waktu mas" Ucap Maryam dengan berbisik tepat pada telinga suaminya.


"Allah mendengar doa mu " Ucap Reza kemudian, dengan muka masam.


Maryam hanya terkekeh kecil melihat tingkah suaminya yang sangat menggelikan.


Menyadari hal itu segera Reza menghempaskan tubuhnya dengan kasar di samping Maryam.


.


Cup.


Sebuah kecupan manis mendarat di pipi Reza yang tengah memejamkan matan, dan mengontrol adrenalinnya yang sebelumnya meningkat.


Segera Reza membuka mata , melihat Maryam yang lebih dulu memberikan sebuah semangat untuk dirinya.


Setidaknya sebuah kecupan manis dari Maryam dapat mengelabuhi adik kecilnya, dan seketika tertidur dengan pulas.


"Nggak usah sedih, Kita masih bisa melakukan itu lagi, lain waktu mas " Ucap Maryam kemudian, dengan usapan lembut di bahu kekar suaminya


Reza hanya tersenyum dengan hati senang, mendapat perlakuan dan sikap manis dari istrinya.


Bergegas Maryam untuk mengambil wudhu, dan menyiapkan sajadah untuk keduanya melaksanakan sholat subuh berjamaah.


Disusul Reza yang segera mengambil wudhu dan menyusul Maryam yang telah siap diatas sajadah miliknya.


Lantas keduanya melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan khusyuk Reza dan Maryam melaksanakan sholat.


Keduanya telah selesai dengan sholat subuh dengan Maryam pun telah selesai dengan dzikir pagi dan membaca beberapa ayat dadi mushaf Al-Qur'an miliknya.


"Mas " ucap Maryam dengan melipat Sajadah miliknya.

__ADS_1


"Em" Ucap Reza singkat dengan menyandarkan bahunya pada bagian tempat tidur berukuran king'Size tersebut


"Boleh Maryam tanya sesuatu?" Ucap Maryam kemudian


"Tentu saja" Jawab Reza kemudian.


"Maryam sedikit penasaran dengan ucapan mas semalam" Ucap Maryam tampak sedikit ragu.


"Soal ? " Ucap Reza kemudian tampak berfikir


"Soal cerita mas yang semalam , Mas Reza berjanji akan menceritakannya bukan?" Ucap Maryam kemudian.


Reza tampak mengingat apa yang di maksut oleh Maryam , sedikit ada rasa ragu dalam diri Reza untuk menceritakannya , namun hal itu tidak ada salahnya untuk Maryam tahu.


"Ohh" Ucap Reza tampak memahami arah pertanyaan Maryam, dengan menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan.


"Apa yang mas Reza maksut sebelumnya adalah dokter Tama " Ucap Maryam memecah keheningan diantara keduanya.


Reza merasa sedikit kaget dengan tebakan Maryam yang memang benar adanya.


Namun Reza hanya mengangguk lemah kemudian, tanpa memberikan jawaban apa pun.


"Apa dokter Tama juga adalah orang yang dulu sangat dekat dengan mas Reza , dan merupakan sahabat baik mas Reza ?" Tanya Maryam lagi, dan Reza lagi-lagi Reza menganggukkan ucapan Maryam.


Maryam tampak menarik nafas dalam, Maryam pun tampak telah mengerti arah pembicaraan Reza sebelumnya yang sempat terputus.


"Begitu juga orang tua Tama yang juga menganggap ku sebagai anak mereka, setelah kepergian mendiang mama dan papa" Ucap Reza lagi.


"Kedekatan diantara kami sudah terjalin sejak kami masih dalam kandungan kedua orang tua kami, bahkan sampai orang tuaku dan orang tua Tama berniat menjodohkan kami. Sebelum keduanya tahu jika jenis kelamin anak yang mereka kandung sama, sama-sama laki-laki" Ucap Reza.


Dan benar saja Reza dan Tama menjadi sahabat yang sangat akrab dan sangat dekat , hingga satu sama lain sangat melindungi saat itu.


Hingga suatu ketika terjadi perselisihan diantara keduanya, yang hal itu bersumber karena seorang wanita, yang tidak lain dan tidak bukan karena sosok Tasya , tidak lain merupakan mantan istri Reza.


Maryam tampak fokus memahami cerita yang di sampaikan oleh Reza dengan sesekali menganggukkan kepala.


Sejenak Reza menjeda ceritanya dan menarik nafas dalam dengan kepala tertunduk.


"Apa Mas Reza tidak berencana berbaikan dengan Dokter taman ?" Ucap Maryam memecah keheningan


Reza hanya bergeming dengan ucapan Maryam.


"Apa mas Reza tidak merindukan masa-masa bersama dokter Tama?, Maryam rasa dulu pasti kalian sangat dekat" Ucap Maryam lagi dengan suara lembut.


"Terkadang aku ingin, tapi ..." Ucap Reza kemudian namun seketika dia hentikan


"Tapi ?" Ucap Maryam seketika

__ADS_1


"Tapi hal itu sulit untuk di lakukan" Ucap Reza kemudian.


"Kenapa ?, Bukankah kalian belum mencobanya ?, Mengapa mengatakan sulit!" Ucap Maryam dengan senyum manis di wajahnya.


"Tentu saja sulit, bagaimana tidak jika sekarang sasaran Tama adalah wanita yang juga tengah aku sayangi dan menjadi istriku saat ini" Batin Reza dalam hati


"Jika dulu dia menganggap aku yang telah menikungnya, tidak menutup kemungkinan, saat ini dia juga akan meninkungku, dengan merebut mu dari ku" Batin Reza lagi


Mengingat selera Reza itu sangat mirip dengan Tama, tak jarang keduanya memiliki pemikiran dan ide yang sama.


Reza tampak terdiam dengan mata fokus menatap Maryam.


"Maryam rasa mas Reza perlu mencoba, untuk berbaikan dengan dokter Tama " Ucap Maryam


Reza hanya nyengir mendengar saran yang di sampaikan Maryam.


"Oke , mungkin suatu hari nanti, namun tidak untuk saat ini" Ucap Reza lantang.


Maryam hanya mengangguk paham dengan ucapan suaminya dengan sesekali tersenyum manis pada Reza.


***


Pagi itu Reza telah siap dan rapi dengan semua perlengkapan untuk kekantor, Maryam sangat telaten menyiapkan segala keperluan Reza.


Tidak sedikitpun terlewat dari pandangan mata Maryam, hingga tampak terlihat ketampanan suaminya itu bertambah berkali lipat.


"Mas Reza " Ucap Maryam lembut.


"Emm" Jawab Reza singkat dengan satu tangan yang melingkar di pinggang ramping Maryam.


Keduanya tengah berjalan bersamaan menuju teras rumah, dengan Maryam yang selalu mengantarkan hingga ke depan sebelum Reza berangkat ke kantor.


"Hari ini Maryam berencana untuk Konsul dengan dokter Tama " Ucap Maryam tampak ragu.


"Haruskah kau melakukanya ?" Tanya Reza dengan suara sinis. Maryam mengangguk dengan pandangan tertunduk.


"Aku hanya tidak ingin kau terlalu dekat dengan Tama " Ucap Reza kemudian.


"Mas , Maryam hanya ingin konsultasi Tugas Praktikum, karena memang dokter Tama merupakan pembimbing Maryam" ucap Maryam seketika dengan nada lembut memberi penjelasan .


"Apa mas Reza tidak percaya pada Maryam?" Ucap Maryam lagi dengan suara lembut.


"Bukan aku tidak percaya padamu Maryam, tapi aku tidak percaya pada Tama " Batin Reza dalam hati


***


Bersambung

__ADS_1


***


__ADS_2