PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
144. Kejadian Masa Silam


__ADS_3

Setelah mendapatkan jawaban atas lamarannya, Denis merasa begitu bahagia. Terlihat sesekali Denis yang menatap intens Mahira dari sudut mata indahnya.


Mahira yang merasa di tatap pun hanya menundukkan wajahnya, mengingat keduanya belum halal.


"Lalu mengenai rencana dan tanggal pernikahan ,sebaiknya kita bahas sekarang saja" Saran Kakek Amar


Hal itu kakek Amar lakukan karena alasan, jika kedua belah pihak sudah saling setuju, maka untuk apa berlama-lama, alangkah lebih baiknya jika di segerakan, begitu pendapat Kakek Amar


Deg.


Mendengar hal itu Mahira sedikit terkejut, begitu juga yang lainya.


"Bagaimana Mahira dan Nak Denis ?" tanya Abi hanif


Kembali Mahira merasa berdebar dengan pertanyaan sang Abi yang di tujukan kepada dirinya.


Begitu juga Denis yang juga merasa sedikit terkejut namun, dia merasa bahagia, menurutnya mungkin lebih cepat lebih baik


"Mahira terserah Abi dan kakek saja" Ucap Mahira lirih.


Denis pun menganggukkan Kepala, menyetujui ucapan Mahira sebelumnya.


"Baiklah, jika kalian sudah saling setuju, bagaimana jika akad kita lakukan Minggu depan" Ucap Kakek Amar memberi saran.


"Apa tidak terlalu cepat kek ?" Tanya Reza yang sedikit bingung dengan ucapan kakeknya.


Kakek Amar menatap sang cucu "Tidak ada yang cepat dan atau lambat Za, mereka sudah saling setuju, untuk apa masih harus menunggu" Ucap sang kakek


Reza menganggukkan Kepala, mengerti dengan ucapan sang kakek..


Mengingat acara akan di lakukan secara sederhana, atas permintaan Mahira. Setelahnya Abi Hanif pun menyetujui saran dari kakek Amar, karena tidak akan banyak yang perlu di siapkan.


Meskipun begitu Abi hanif akan tetap mengundang beberapa tamu selain keluarga besarnya, terutama karyawan pabrik, dan perkebunan yang sudah mereka anggap seperti keluarga, selain untuk syukuran, mengingat acara pernikahan tersebut juga menjadi simbol jika keduanya telah sah menjadi suami dan istri.


Sementara dari pihak Denis , karena tidak memiliki keluarga, kemungkinan hanya kakek Amar dan Reza lah yang akan menemani, namun rencana nya setelah menikah Denis akan mengadakan syukuran di panti asuhan.


Untuk Acara pernikahan Kakek Amar lah yang akan mengurus semuanya, sejujurnya Denis menolak hal itu karena terasa sangat berlebihan. Namun kakek Amar meyakinkan, terlebih dimana Denis yang sudah menemani Reza bertahun-tahun dan sudah dianggapnya sebagai cucu.


Mendengar penjelasan dari kakek Amar, akhirnya Denis menyetujui hal itu, dan setelahnya berterima kasih kepada sosok kakek dari bos besarnya tersebut.


Perbincangan kembali berlanjut malam itu.

__ADS_1


***


Duduk di gazebo serambi masjid , Merupakan tempat yang di pilih oleh tamu dari ustadz Hamzah yang ketika itu berkunjung.


"Assalamualaikum" Sapa ustadz Hamzah Ramah


"Waalaikumsalam" Jawab ustadz Furqan yang merupakan sahabat dari ustadz Hamzah, keduanya telah berteman sejak sama-sama mengenyam pendidikan di pesantren.


Setelah saling menyapa , ustadz Hamzah pun duduk di depan Ustadz Furqon.


"Bagaiman apa Nissa sudah kau beritahu Hamzah?" tanya Ustadz Furqon tanpa basa-basi.


Mendengar hal itu ustadz Hamzah sedikit terkejut, pasalnya jujur dia belum mengatakan rencana lamaran yang akan di lakukan ustadz Furqan dan anaknya untuk Nissa.


Karena Nissa memnag baru saja pulang dari Kairo, dan setelah itu, Nissa yang harus menemani Ali di rumah sakit, hal itu membuat Ustadz Hamzah belum sempat mengatakan apapun pada Nissa.


Mendapat reaksi ustadz Hamzah yang hanya diam, hal itu sedikit membuat Ustadz Furqon merasa jengah.


"Kau tidak lupa bukan Hamzah, bagaiman dulu pembebasan lahan ini" Ucap ustadz Furqan mengingatkan kejadian beberapa tahun yang lalu . Kejadian dimasa silam yang begitu membuat ustaz Hamzah menguras tenaga dan pikirannya kala itu.


"Furqon, Aku tidak lupa hal itu, hanya saja memang aku belum sempat mengatakan pada Nissa " Ucap Ustadz Hamzah


Ustadz Furqan haya menghela nafas dalam "Sebaiknya segera kau katakan, Aku ingin Maher segera menjadi suami dari Nissa " Ucap Ustadz Furqon dengan nada menekan.


"Lusa aku dan istriku akan datang bersama dengan Maher untuk melamar putrimu !" Ucap ustadz Furqan dengan suara dingin.


Ustadz Hamzah hanya menghela nafas lemah , mendengar penuturan sahabat lamanya.


"InshaAllah " jawab Ustadz Hamzah lirih pada sang sahabat.


"Dan pastikan Nissa menerima lamaran dari putraku Maher" pinta Ustadz Furqon lagi dengan sedikit pemaksaan.


Deg.


Ustadz Hamzah pun membelalakkan matanya "Tidak bisa begitu Furqan, Mana bisa kita memaksa untuk saling menerima, sementara yang menjalani adalah anak-anak kita" Ucap Ustadz Hamzah.


Mendengar hal itu ustadz Furqan hanya mendengus kesal.


Sejujurnya ustadz Hamzah sangat kesal pada Ustadz Furqon yang begitu mengendalikan keadaan, atas nama balas Budi.


"Tidak masalah, aku hanya mengingatkan mu mengenai pembebasan lahan ini" Ucap Ustadz Furqon lagi, dengan beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Assalamualaikum" Ucap ustadz Furqan setelah itu dirinya bergegas meninggalkan Ustadz Hamzah yang masih duduk mematung di posisinya semula.


"Waalaikumsalam" Jawab ustadz Hamzah lirih, dengan menatap punggung sahabat lamanya yang semakin menjauh.


hening.


"Astaghfirullah" Gumam ustadz Hamzah.


Dengan langkah gontai ustadz Hamzah memilih untuk kembali ke rumah utama.


Sejujurnya dia tidak begitu setuju dengan usulan ustadz Furqan untuk menjodohkan Nissa dengan Maher, pasalnya ustadz Hamzah jelas tahu bagaiman sifat dan sikap dari Maher.


Mengingat kembali beberapa hari yang lalu dirinya dengan tegas dan berani melamar Denis untuk putrinya, dan salah satu alasannya karena hal ini, dia takut jika ustadz Furqan tahu jika Nissa telah kembali dari Kairo. Maka Ustadz Furqon akan menekan dirinya dengan menjodohkan anak-anak mereka.


Dan hari yang di takutkan oleh ustadz Hamzah pun terjadi, dimana Ustadz Furqon meminta Nissa untuk menikah dengan putranya.


Meski merupakan putra dari seorang ustadz namun ustadz Hamzah tahu betul bagaiman perangai Maher dan juga perilakunya di luar sana.


Namun kembali ustadz Hamzah yang mengingat kejadian yang hampir 17 batun terlewat, ketika usia Nissa masih 10 tahun.


Pesantren yang mengalami gonjang ganjing, karena berdiri di atas tanah sengketa, meski merupakan tanah wakaf, namun nyatanya pihak keluarga tidak menyetujui, setelah orang yang mewakafkan ya meninggal, tanah itu pun di perebutkan, dan mau tidak mau ustadz Hamzah harus membayar atau lebih tepatnya membeli tanah tersebut, mengingat saat itu pesantren mulai berkembang.


Disaat genting itulah Ustadz Furqon datang dan menawarkan bantuan. Dengan senang hati ustadz Hamzah menerima, terlebih tidak ada embel-embel apapun saat itu, namun belakangan ustadz Hamzah pun kaget ketika ustadz Furqon datang untuk meminta Nissa menikah dengan putranya, serta mengungkit-ungkit masa lalu mengenai pembebasan tanah tersebut.


Sejujurnya ustadz Hamzah sedikit jengah dengan hal itu, namun kembali lagi dia tidak dapat melakukan banyak, tidak mungkin dirinya akan membayar tanah itu lagi, mengingat mungkin saja harga jual tanah tersebut sudah sangat tinggi saat ini.


Setelah bergelut dengan pikirannya, ustadz Hamzah pun mempercepat langkahnya untuk menyusul Tama dan Nissa yang mungkin saja masih menunggunya di ruang tamu teras rumahnya.


Benar saja ternyata Tama masih berada di sana, namun saat ini dirinya tengah berdiri di temani oleh istri ustadz Hamzah dan juga Nissa untuk berpamitan.


"Lho nak Tama sudah mau pulang?" ucap Ustadz Hamzah yang tiba-tiba muncul


Tama pun menganggukkan kepala "Iya Abi, saya masih ada beberapa pekerjaan, dan sore nanti masih ada kelas untuk mengajar" Ucap Tama sopan.


"Mengajar " Gumam Nissa yang tidak mengetahui jika Denis juga merupakan seorang dosen di salah satu fakultas kedokteran di kampus kenamaan


"Baiklah jika memang begitu, hati-hati di jalan nak Tama" Ucap ustadz Hamzah ramah.


"Sering-seringlah berkunjung nak Tama " Pinta Ummi pada Tama


"InshaAllah Ummi" Jawab taman dengan mengulas senyum manis di wajah tampannya.

__ADS_1


***


__ADS_2