
Dan meski Denis selalu menatap Mahira, Mahira hanya bergeming tanpa memberikan sedikitpun respon pada Denis.
Sejujurnya Mahira tahu jika Denis tengah memperhatikan dirinya, namun Mahira memilih untuk tetap abai.
***
Waktu menunjukan pukul 13. 35
Bergegas Maryam dan Reza berpamitan pada Ummi Maya dan Abi Hanif untuk kembali ke kota.
Meski terasa berat namun Maryam harus tetap pergi, Karena sebagai seorang istri sudah menjadi kewajiban baginya untuk patuh pada suami.
Sebagaimana dalam keterangan haditsnya, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu,
أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرٍ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ إِذَا نَظرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ، وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ، وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ
“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri solehah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan menaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (Hadits Riwayat Abu Daud No. 1417).
Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
“ … perempuan yang solehah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka), …” (Surat ke-4 An Nisaa, ayat 34).
Dalam sebuah hadits Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri solehah.” (Hadits Riwayat Muslim).
Dengan mengulas senyum di wajah tampannya, Reza meraih tangan sang istri yang terlihat masih enggan untuk beranjak, mendekap penuh erat, dan menggandengnya seraya membuka pintu mobil, dengan melindungi puncak kepala Maryam menggunakan satu tangannya.
Begitu juga dengan Denis yang sigap mengambil posisi untuk duduk di bangku kemudi.
Setelah mengucapkan salam, Ketiganya lantas berlalu meninggalkan kediaman Abi Hanif.
Terlihat Maryam yang hanya membuang pandangan kearah luar jendela dengan tatapan sendu, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
Menyadari hal itu segera Reza meraih Kepala Maryam dan segera menyandarkannya pada bahu kekar Reza.
"Tidurlah, perjalanan masih panjang" Ucap Reza dengan suara lembut. Maryam tampak mengangguk
Seketika Tersirat sebuah senyum manis di wajah cantik Maryam.
Sepanjang perjalanan Maryam merasa sangat bahagia , Reza selalu mendekap erat tangannya dan menyandarkan kepalanya di bahu kekarnya, dengan sesekali mengusap dan mencium lembut puncak kepala Maryam.
"Ya Tuhan , Cobaan apa ini " Batin Denis yang mengamati keduanya dari balik kaca spion.
"Jaga matamu Denis! , apa kau sudah bosan bekerja !" Ucap Reza ketus dengan meninggikan suaranya satu oktaf , setelah menyadari Denis telah mengamatinya sedari tadi.
__ADS_1
"Ma--Maaf tuan " Ucap Denis dengan perasaan sungkan dan suara gagap.
"Mas !" Ucap Maryam
"Iya sayang" Jawab Reza dengan tertawa renyah yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Maryam terjaga setelah mendengar suara keras dari sang suami.
Menyadari hal itu Reza segera meraih kembali kepala Maryam dan membenamkan ya pada bahu kekarnya.
***
Setelah kurang lebih dua jam perjalanan ketiganya telah sampai pada rumah megah kakek Amar.
Seperti biasa beberapa pelayan akan dengan sigap menyambut kedatangan majikanya di pintu utama.
Salah seorang dari para pelayan bergegas membukakan pintu untuk Reza dan Maryam yang akan keluar dari mobil.
"Terima kasih" Ucap Maryam dengan suara lembut dan senyum yang senantiasa terlukis di wajah cantiknya yang tertutup oleh cadar yang dia kenakan.
Kedatangan Reza dan Maryam kali ini tampak sedikit berbeda, dengan tidak ada nya kakek Amar dan nenek Halimah di rumah tersebut.
Hal itu dikarenakan kakek Amar dan nenek Halimah yang tengah berada di luar kota dan belum kembali.
***
"Tumben rapi banget mas " Ucap Maryam kemudian setelah mendapati sang suami sudah stay on lagi.
Reza tampak mengulas sebuah senyum menawan di wajahnya.
"Sayang" Ucap Reza dengan tatapan mengarah pada sang istri.
"Em" Jawab Maryam singkat dengan suara lembut.
"Ada sedikit urusan yang yang akan aku selesaikan" Ucap Reza lirih
Maryam hanya bergeming, dengan seksama mendengarkan apa yang akan suaminya katakan.
"Mungkin akan pulang sedikit larut, kau tidak perlu menungguku" Tukas Reza kemudian
"Tapi mas ! , urusan apa ?, kenapa harus sore begini !" Ucap Maryam tampak nada protes.
"Urusan kantor sayang" Ucap Reza dengan senyum manis menghiasi wajah tampannya.
Menyadari perubahan raut wajah pada sang istri Reza segera meraih pinggang Maryam dan mengikis jarak diantara keduanya.
Membenamkan beberapa kecupan mesra di pipi chubby Maryam.
"Apa kau sangat ingin aku di sini " Ucap Reza lirih tepat di telinga Maryam
__ADS_1
Seketika hal itu membuat tengkuk Maryam meremang dengan bulu kuduk yang seketika berdiri.
"Bukan begitu mas !, hanya saja tidak bisakah besok Saja, ini sudah sore lho ! " Tukas Maryam lagi, tampak guratan rasa khawatir di wajah cantiknya.
Maryam tampak mendengus kesal dengan keputusan suaminya yang telah bulat.
"Tenang saja meskipun aku akan pulang sedikit larut, tapi untuk malam ini aku akan menambah durasi untukmu sayang" Ucap Reza lagi dengan tawa renyah yang menampakkan deretan gigi putihnya.
"Ya Allah , Mas ! Mesum banget sih " Ucap Maryam dengan wajah yang sudah merona.
Reza tampak terkekeh melihat wajah Maryam yang sudah bagai udang rebus.
***
Suasana sore yang kembali tampak sahdu dengan pencahayaan yang tamparan dari sorot matahari yang mulai bergulir.
Seperti biasa kediaman Abi Hanif tampak kembali sepi. Dengan hanya ada Abi Hanif, ummi Maya , dan Mahira . Bi Minah pun telah pamit untuk pulang, dan baru akan kembali esok hari.
Seperti biasa Minggu sore merupakan waktu dilaksanakannya kajian rutin di kompleks kediaman Abi Hanif.
Kajian rutin yang di laksanakan semingu dua kali pada hari Jumat dan hari Ahad, dilaksanakan di masjid yang tidak jauh dari kediaman Abi Hanif.
Mahira tampak terlihat tengah bersiap untuk mengikuti kajian rutin tersebut. Dengan mengenakan gamis berwarna Lemon dan hijab dengan warna senada, juga dengan cadar yang memiliki warna sama, tampak terlihat lebih mempesona.
Bisa dikatakan Mahira yang sekarang bukanlah Mahira yang dulu, Mahira yang saat ini sudah belajar untuk menjadi Mahira yang lebih baik.
Mahira yang sempat merasa terpuruk dengan semua sikap buruknya dimasa lalu, sempat merasa minder. Bahkan sempat dirasakan Mahira merasa jijik dengan dirinya sendiri yang pernah hamil di luar nikah dengan dalih atas nama cinta.
Sungguh semua kenangan buruk itu membuat Mahira sepenuhnya sadar atas semua kesalahan yang pernah di buatnya.
Namun dengan kesabaran Ummi Maya dan Abi Hanif membuat Mahira kini bangkit dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
Hal itu bermula dari saat kejadian terahir pertemuannya dengan Reza di rumah sakit.
Sungguh Ucapan Reza betul-betul membuat hati Mahira tersayat, terlebih setelah menyaksikan sendiri bagaiman Abi Hanif harus memohonkan sebuah kata maaf pada sosok Reza atas segala perbuatan culas yang pernah dia lakukan.
Hal itu cukup menjadi pelajaran untuk Mahira agar kedepannya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
***
Bersambung
***
Buat para Reader setianya author, Hayoo siapa nih yang Udah sempat suudzon sama Mahira 😃🤭.
Alhamdulillah Mahira sudah bener-bener sadar Yaa...
Lope lope sekebon dah buat semua readerku yang baik hati 🥰🥰🤗🙏
__ADS_1