
Acara makan siang antara Bu Siska, Pak Fajar, Tama dan juga Nissa akhirnya selesai.
Mereka kini berada dalam satu mobil bersama untuk mengantarkan Nissa pulang ke ke Pesantren sekaligus rumahnya.
Bukan berniat untuk mengantar saja, namun ada niatan khusus dari sang mama dan papa Tama untuk meminta secara langsung Nissa.
"Matanya dijaga tam !" Ketus Bu Siska yang menyadari sang putra selalu mencuri pandang pada Nissa yang duduk di sebelahnya.
Mendengar hal itu Tama pun hanya bersungut kesal, dan kembali fokus pada kemudi.
"Nanti kalau udah halal boleh ngapain aja" Ucap Bu Siska lagi.
"Emang ngapain ma ?" Tanya Tama yang pura-pura tidak tahu.
Mendengar pertanyaan sang putra Bu Siska hanya memutar bola mata jengah dengan pertanyaan tersebut.
"Sepertinya kamu tidak benar-benar mempelajari pelajaran anatomi ketika di kampus " Ketus Bu Siska yang merasa kesal.
Melihat kemarahan sang ibu bukan merasa bersalah, Tama justru terkekeh kecil.
"Tama kan Spesialis jantung ma" Goda Tama dengan senyum smirk
"Astaghfirullah" Ucap Bu Siska dengan mengusap dadanya.
"Memangnya sebelum kamu jadi spesialis, dulu tidak mempelajari anatomi, khususnya reproduksi?" Tanya Balik Bu Siska pada sang putra.
"Apa perlu mama Meng Kuliahkan kamu lagi ?" Tanya Bu Siska dengan memajukan bibirnya.
Mendengar pernyataan sang mama, Tama.pun mendelik.
"Ampun ma !" Ucap Tama dengan wajah bersalah.
"Kalau Tama kuliah lagi, terus kapan Tama nikah ?" Tanya Tama seolah tengah merasa sedih, namun berkata dengan senyum di bibirnya.
"Terserah saja lah " Ucap Bu Siska kesal.
"Oke ma oke , Perkara mata aja sampai kemana-mana" Ucap Tama yang menyadari, setiap kali berbincang dengan sang mama pasti akan ada saja sesuatu yang menjadi perdebatan.
"Nissa , Jangan di pikirkan, mereka memang selalu seperti ini" Ucap Pak fajar
Mendengar kata-kata calon ayah mertuanya, Nissa pun hanya terkekeh kecil.
"Emang mama kenapa?, Anak papa itu " Ketus Bu Siska yang juga memusuhi sang suami
"Tau kan mama malah salah sangka sama papa" Ucap pak fajar dengan suara lembut.
"Papa sih gitu, nggak bela mama" Ucap Bu Siska
__ADS_1
Sikap manja dan polos sang mama lah yang terkadang mengundang gelak tawa diantara mereka.
Tak jarang obrolan kecil pun juga ikut memancing tawa yang begitu menggelitik.
Meski baru mengenal orang-orang yang saat ini berada dalam satu mobil dengan nya, Nissa merasa seolah telah mengenalnya lama.
***
Diwaktu yang sama namun tempat yang berbeda.
Mahira di temani oleh Denis tengah melakukan pengukuran baju untuk acara pernikahan keduanya. Bersama dengan sang ummi yang selalu setia menemani keduanya.
"Anda cantik sekali nona " Puji seorang pelayan butik yang membantu Mahira mencoba gaun pengantinnya.
Mendengar hal itu , Mahira hanya tersenyum dengan malu-malu.
"Sudah siap !, Silahkan Nona " Ucap sang pelayan yang mengarahkan Mahira untuk keluar memperlihatkan baju pilihannya pada calon suaminya.
Mahira berjalan dengan langkah pelan, ada rasa tidak percaya hari ini akhirnya tiba.
Menatap dengan tatapan tidak percaya, Denis yang saat itu betul-betul dibuat kagum oleh Penampilan Mahira, meski wajahnya masih tertutup oleh cadar yang dia kenakan. Namun hal itu tidak sedikitpun mengurangi kecantikannya.
"Mas !" Panggil Mahira dengan sedikit meninggikan suaranya, setelah beberapa kali Mahira memanggil Denis namun Denis tetap diam dan hanya menatapnya dari atas sampai bawah.
"Apa ini tidak cocok untuk ku ?" Tanya Mahira yang mulai tidak percaya diri karena tatapan Denis padanya seolah ada sesuatu yang aneh
"CANTIK !" ucap Denis spontan
"MashaAllah" Ucap Ummi Maya yang mengingatkan Denis akan pujian yang baru saja dia ucapkan.
"Oh iya Ummi, Astaghfirullah Denis lupa " Ucap Denis
"MashaAllah kamu cantik, Cantik sekali " puji Denis dengan mata yang tidak henti mengagumi Mahira.
Acara yang di siapkan serba dadakan, semua atas perintah kakek Amar, dan kakek Amar sendiri lah yang mengurus semua keperluan nya, Seperti pada saat pernikahan Maryam dan Reza beberapa bulan yang lalu.
Setelah Selesai mencoba semua baju , dan mahira telah menentukan sebuah pilihan, bergegas Denis mengantar Mahira dan Ummi Maya untuk kembali ke pesantren, mengingat Denis yang juga masih memiliki pekerjaan di kantor.
Reza memang tidak pernah membatasi Denis untuk keluar kantor, sekalipun di jam kerja, terlebih saat ini Denis tengah mengurus banyak hal berkaitan dengan Pernikahannya, Namun meski begitu Reza tetap tidak menginginkan jika Denis melalaikan tugas dan tanggung jawabnya.
***
"Assalamualaikum suami ku" Suara lembut yang tiba-tiba memecah fokus Reza sore itu.
Reza tersenyum simpul melihat Maryam yang berdiri di ambang pintu ruang kerjanya.
"Bagaiman sudah selesai semuanya ?" Tanya Reza dengan menarik tangan Maryam
__ADS_1
Maryam pun mendekat pada Reza dan begitu dirinya berdiri di samping Reza, segera Reza meraih tubuh Maryam dan mendudukkan nya di pangkuannya.
"Astaghfirullah. Mas !" Ucap Maryam dengan suara memekik
Reza hanya bergeming, justru dia begitu menikmati mengusap lembut perut Maryam yang mulai membuncit, meski masih terlihat begitu kecil, Hanya akan terlihat ketika Reza mengusapnya.
Tidak akan ada orang yang tahu jika Maryam tengah mengandung, terlebih melihat pakaian yang di kenakan Maryam begitu longgar.
"Ish Geli mas !"
Reza hanya terkekeh mendengar hal itu.
"Malu mas !" Ucap Maryam lagi dengan berusaha bangkit dari duduknya.
"Pada siapa ?" Jawab Reza singkat.
Mendengar jawaban santai Reza seketika membuat Maryam sedikit kesal.
"Kenapa kau tidak menghubungiku jika sudah selesai" Tanya Reza dengan menatap lekat sosok yang tengah duduk di pangkuannya.
"Mas. Maryam tahu mas Reza sibuk, dan Alhamdulillah semua berjalan lancar. Makanya Maryam bisa Samapi sini cepat" Ucap Maryam memberi penjelasan, sementara Reza hanya menganggukkan kepala.
Setelah dari rumah sakit , Reza mengantar Maryam ke kampus, sesuai kesepakatan yang telah di buat oleh keduanya.
Dimana Maryam akan mengajukan cuti setelah dirinya hamil, Meski di awal-awal kehamilan Maryam masih bersikukuh untuk kuliah, dimana dirinya harus berusaha keras membujuk sang suami. Dengan setengah hati Reza pun mengizinkannya.
Namun pada akhirnya dia juga harus tetap mengalah dan menuruti permintaan sang suami. Sejujurnya tidak masalah bagi Maryam untuk tetap kuliah, terlebih kehamilannya saat ini tidak menyulitkan dirinya.
Bahkan Maryam merasa sebelum dan saat hamil adalah satu hal yang sama, ketika banyak nya orang mengalami keluhan mual dan muntah, namun Maryam tidak sedikitpun mengalami hal itu. Hanya sesekali Maryam merasa sangat menginginkan sesuatu.
"Sayang "
"Em" Jawab Maryam singkat masih dengan menyandarkan kepalanya di dada sang suami dengan posisi duduk.
"Ada yang ingin aku tanyakan" ucap Reza hati-hati.
Maryam mendongakkan wajahnya, membenarkan posisi duduknya dan menatap lekat sang suami.
"Ada apa . Katakan ?" ucap Maryam lirih.
Reza meraih cadar yang di kenakan sang istri kemudian melepasnya.
"Mas !" Cegah Maryam
Belum sempat Maryam meraih tangan Reza, cadar yang dia kenakan telah tanggal "Tidak akan ada orang yang berani masuk ke ruangan ini"
"Apa keluarga mu tahu siapa yang telah menghamili kakakmu saat itu ?" tanya Reza dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
Maryam pun terdiam.
***