
"Tentu saja mas, Semua Sudah Allah atur, Termasuk kehidupan berumah tangga " Jawab Maryam lembut dengan senyuman
"Baiklah aku akan belajar " Ucap Reza semangat dengan senyuman merekah di bibir nya yang indah.
Reza tersenyum simpul menyadari permintaan Maryam yang begitu sederhana baginya, karena bisa saja Maryam meminta yang lainya.
Kembali Reza mengingat masa lalunya. Jika Tasya yang berada di posisi Maryam saat ini sudah pasti Dia akan meminta apa pun yang dia inginkan.
Jangankan Berpikir mengenai tata cara berhubungan di ranjang yang baik dan benar, Tasya saja tidak pernah puas dengan permainannya bersama Reza.
Maryam tersenyum, merasa bahagia dengan respon Reza yang tidak keberatan dengan permintaanya.
Keduanya saling pandang dengan genggaman tangan yang semakin erat dengan jari jemari yang saling bertautan.
Setelahnya Reza melanjutkan perjalanan mereka menuju sebuah supermarket, untuk membeli beberapa kebutuhan Maryam.
Beberapa saat kemudian keduanya telah sampai di salah satu supermarket yang menjual berbagai macam kebutuhan.
Maryam tampak mengambil sebuah sebuah troli berukuran cukup besar, mengingat Lis belanjaan Maryam yang mungkin lumayan banyak
Melihat hal itu dengan sigap Reza segera mengambil alih troli dari tangan Maryam
Reza hanya mengekor kemana Maryam berjalan.
Maryam mengambil beberapa keperluan yang di butuhkan untuk membuat campuran minuman herbal yang biasa dia buat untuk kakek Amar dan nenek Halimah.
"Madu hitam, Sari Kurma ? Untuk apa ?" Tanya Reza yang tampak tidak mengerti dengan belanjaan Maryam
"Iya mas, setelah kita menikah, Selama Dua bulan ini Maryam rutin membuatkan minuman herbal untuk kakek dan nenek" Ucap Maryam dengan fokus memilih barang-barang lain
"Ohh..." Ucap Reza dengan menganggukkan kepala
"Pantas saja nenek sudah tidak pernah memintaku untuk mengantarnya kontrol ke rumah sakit" Ucap Reza kemudian
Maryam tersenyum
"Ternyata kau merawat mereka dengan baik" Ucap Reza lagi dengan senyum manis kepada Maryam
"Lalau kapan kau akan merawat ku, sebaik kau merawat kakek dan nenek ? " Goda Reza dengan sedikit berbisik . Seketika Maryam tersipu Malu.
Sejenak suasana menjadi hening.
"Mas " Ucap Maryam dengan menghentikan langkahnya.
"Ya " jawab Reza singkat.
"Maaf mas, selama ini Maryam lancang mengambil beberapa Daun herbal dari taman milik Alm. mama mas Reza " Ucap Maryam menunduk
"Maaf tapi, Maryam sudah mendapatkan izin dari kakek" Tukas Maryam kemudian
Maryam sangat takut jika Reza akan marah dengan tingkah lakunya. dengan dirinya yang tidak meminta izin pada Reza sebelumnya.
Pasalnya Maryam sangat mengetahui jika taman herbal itu sangat dia rawat, karena merupakan salah satu peninggalan dari Almarhum orang tuanya.
"Tidak masalah, Kenapa kau harus meminta maaf" ucap Reza menenangkan Maryam.
Reza menyadari Maryam merasa tidak enak hati dengan dirinya.
"Ambil sebanyak yang kau butuhkan, Jika habis kita tinggal beli bibit baru " Ucap Reza santai.
__ADS_1
Maryam merasa lega dengan ucapan Reza barusan
"Mas kita ganti ke sana yuk" ajak Maryam kemudian
Reza hanya mengekor saja tanpa sedikitpun komplain
Maryam kemudian mengambil beberapa pembalut, tissue basah, kapas dan beberapa kebutuhan lainya.
Melihat Maryam yang mengambil pembalut, Reza memicingkan matanya dengan senyum kecut.
"Apa kau akan membutuhkan itu jika kita sudah berpetualang ?" Batin Reza dalam hati dengan senyum simpul
"Kenapa mas ?" Tanya Maryam yang mendapati Reza tersenyum sediri.
"Tidak, Tidak, Lanjutkan " Ucap Reza kemudian.
Keduanya berjalan menyusuri setiap lorong, dengan memilih beberapa barang lainya yang di butuhkan.
Setelah beberapa saat Maryam merasa semua kebutuhan yang dia butuhkan telah dia dapat.
"Apa mas Reza butuh sesuatu ?" Tanya Maryam
"Aku rasa tidak" Jawab Reza singkat.
Kemudian keduanya berjalan menuju kasir.
"Apa kau tidak ingin membeli itu ?" Tunjuk Reza pada sebuah lingerie yang ada di sebuah Butik di depan supermarket tersebut.
Mendadak Maryam merona dengan wajah yang menghangat.
"Aku rasa sepertinya, aku akan selalu membutuhkan itu untuk berpetualang" Goda Reza dengan senyum simpul.
Melihat Maryam yang sudah tersipu, Reza segera menggenggam tangan Maryam dengan satu tangan lain mendorong troli, dan belanjaan menuju kasir.
Kini giliran Maryam yang mengekor Reza , mengikuti langkah kaki Reza dari belakang.
Beberapa saat kemudian seluruh belanjaan Maryam telah selesai di scan barcode oleh kasir.
Maryam mengeluarkan sebuah blackcard dari dompetnya.
Reza memicingkan mata, melihat Maryam memiliki kartu tersebut.
"Bukan milik Maryam mas, ini kakek yang memberikannya pada Maryam " ucap Maryam lembut
Mengetahui Reza terkejut dengan dirinya yang mengeluarkan sebuah kartu yang tidak banyak orang punya, seketika Maryam memberikan penjelasan.
"Kakek memberikannya padamu?" Tanya Reza
"Tentu saja " Jawab Maryam singkat
"Kakek bilang , Karena kakek merasa mas Reza belum memberikan nafkah pada maryam" Ucap Maryam polos
Mendengar hal itu Reza merasa malu dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Benar juga kakek, Memang aku belum memberinya nafkah Lahir ataupun batin" Batin Reza dalam hati dengan menghembuskan nafas kasar.
Dengan sigap Reza menarik blackCard dari tangan Maryam.
"Simpan kembali, Gunakan milikku" Pinta Reza pada Maryam .
__ADS_1
Seketika Maryam tersenyum bahagia.
"Setelah ini kau mau kemana ?" Tanya Reza berusaha Mencairkan suasana
"Emm.. Maryam tidak tahu, sepertinya pulang saja mas" Ucap Maryam Lembut
Keduanya kemudian berlalu, dengan beberapa kantong belanjaan menuju parkiran.
Reza kembali membukakan pintu mobil untuk Maryam dengan menutupi bagian atas menggunakan satu tangannya.
"Terima kasih" Ucap Maryam, dan di balas senyuman manis oleh Reza
Didalam mobil keduanya saling mengakrabkan diri dengan bercerita dan bersenda gurau.
Maryam mulai merasakan kenyamanan berada di samping Reza.
Begitu juga dengan Reza yang merasakan hal yang sama.
Beberapa hal yang baru dia rasakan ketika dirinya menikah dengan Maryam.
Seperti kegiatan yang baru saja dia lakukan, mengantarkan istri berbelanja bulanan, menemani Berbelanja dan melakukan banyak hal.
Hal itu tidak pernah Reza rasakan ketika bersama Tasya. Tasya tidak pernah mau untuk melakukan sesuatu yang akan membuat dirinya lelah, Tasya lebih memilih memanfaatkan fasilitas yang di berikan reza. termasuk para pelayan yang ada di rumah megah miliknya.
Meski sedikit aneh bagi Reza, seorang CEO mendorong troli di dalam Supermarket, menemani istrinya berbelanja, namun Reza sangat menikmati hal itu.
Menikmati setiap momen kebersamaanya bersama Maryam.
"Kau memang berbeda Maryam " gumam Reza dalam hati.
Beberapa kali Reza melemparkan sebuah senyuman manis pada Maryam, yang seketika membuat Maryam merasa malu namun juga bahagia.
"Mas " Ucap Maryam
"Emm..." Jawab Reza singkat.
"Maryam rasa, sebaiknya mas Reza fokus ke depan. Mas Reza masih bisa memandang Maryam nanti " Ucap Maryam membuyarkan Fokus Reza.
Mendengar penuturan Maryam sejenak Reza tertawa geli dengan tingkah ya sendiri.
"Kau sering bertemu Tama ?" Tanya Reza kemudian memecah keheningan di dalam mobil.
"Tentu saja , Dokter Tama dosen Maryam " Jawab Maryam sopan dengan senyuman
"Tapi itu dulu, sekarang ini sih sudah jarang soalnya Maryam sudah mulai fokus untuk tugas tugas praktikumnya" Ucap Maryam kemudian
"Ohh... " Ucap Reza singkat
"Kenapa mas Reza tanya ?" Ucap Maryam menelisik
"Tidak .. ! aku hanya ingin tahu" Jawab Reza singkat menutupi rasa tidak suka nya.
"Ohya , Maryam lupa, Sebetulnya tadi mas Reza ngapain sih ke kelas Maryam?" Tanya Maryam tampak penasaran.
Reza tersenyum getir, tampak malu dan ragu untuk menjawab pertanyaan Maryam
***
Bersambung
__ADS_1
***