PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
90. Sakit Perut Reza


__ADS_3

Di meja makan Reza dan Maryam telah di tunggu oleh kakek Amar dan Nenek Halimah dengan sabar.


Terlihat senyum yang tersungging dari wajah kedua pasangan suami istri yang tidak lagi muda itu, tatkala melihat cucu dan cucu menantunya sangat akrab dan begitu mesra.


"Assalamualaikum kek, nek" Ucap Maryam ketika menghampiri keduanya dengan senyum manis berkembang di balik cadar yang dia kenakan.


"Waalaikumsalam Maryam" jawab keduanya.


Seperti biasa , makan malam akan berjalan begitu khidmat, bukan merupakan larangan, namun sudah menjadi tradisi bagi keluarga kakek Amar untuk tidak bersuara ketika makan.


Namun kali ini terlihat Reza tidak bersemangat untuk mencicipi hidangan yang telah di sajikan oleh para pelayan.


Reza terlihat hanya mengaduk-aduk makanan yang ada di piringnya. Pasalnya Reza merasa ada sesuatu yang aneh dia rasakan pada bagian perutnya. Terasa sesuatu yang meremas didalam sana, hingga beberapa kali Reza harus memegangi perut dan pantatnya


"Mas Kau baik-baik saja ?" Tanya Maryam tampak cemas dengan suaminya.


Reza memberi isyarat anggukan kepala dengan pertanyaan sang istri


***


Ditempat lain , tampaknya Tasya tengah menemui seorang laki-laki berbadan tegap, dengan tato tergambar di beberapa tempat, perawakan tinggi besar dengan wajah garang dan kumis tipis, serta jambang yang terlihat lebat yang nyaris seperti preman pasar.


Tasya berjalan bak model papan atas dengan mengenakan pakaian serba minim dan tidak lupa kacamata hitam yang selalu dia kenakan.


Rambut pirang yang tergerai lurus dengan Sepatu hak tinggi yang selalu melekat pada kaki nya yang jenjang.


Berjalan dengan tatapan lurus dan gayanya yang berlagak bak sosialita dengan segudang kemewahan.


"Informasi apa yang sudah kau dapatkan ?"


Tanya Tasya seketika, dengan kedua tangan yang terlipat di dada dengan gaya angkuhnya


Menghampiri orang suruhanya tersebut yang tengah duduk di meja sebuah cafe dimana keduanya telah membuat janji sebelumnya.


"Tenang saja Bu Tasya, informasi ini sangat berharga" Ucap Laki-laki tersebut dengan senyum seringai


"Berikan" Ucap Tasya seketika , merasa sudah tidak sabar dengan informasi yang telah di peroleh oleh orang suruhannya.


"Tunggu dulu Bu, Tidak usah terburu-buru " ucap Orang suruhan Tasya.


Mendengar hal itu, ada rasa panas dalam diri Tasya, "Beraninya dia memerintah ! " Batin Tasya dalam hati

__ADS_1


"Sesuai kesepakatan, anda akan melunasi pekerjaan saya setelah saya menyelesaikan pekerjaan ini" Ucap laki-laki tersebut dengan senyum seringai.


Tasya tampak sedikit kesal dengan ucapan orang suruhannya itu, namun dia hanya dapat berdecak kesal. Dan menuruti permintaan laki-laki tersebut.


Seketika Tasya mengeluarkan Amplop coklat berukuran sedang dari dalam tas miliknya, tentunya amplop yang berisi sejumlah uang, dan melemparkan amplop itu keatas meja, tepat dihadapan orang suruhannya.


Dengan cepat laki-laki tersebut menyambar amplop coklat yang di lemparkan oleh Tasya.


Menghitung sejumlah uang yang sebelumnya di janjikan oleh Tasya. Dan segera menyodorkan Amplop coklat berukuran besar , yang berisi seluruh informasi yang di minta oleh Tasya.


Tasya pun mengecek sekilas isi dari amplop yang di serahkan oleh orang suruhannya, kemudian tidak ingin berlama-lama di tempat tersebut, tidak ingin jika akan ada orang yang melihat pertemuan keduanya, dan akan menimbulkan kecurigaan.


Setelah mendapatkan semua yang dia butuhkan, Tasya bergegas berlalu dari hadapan laki-laki tersebut.


Setibanya di apartemen mewah miliknya, Tasya terlihat sangat buru-buru untuk membuka amplop coklat yang sebelumnya dia minta dari sosok preman bayarannya.


Mata Tasya membulat sempurna, senyum yang mengembang lebar dari sudut bibirnya , tatkala melihat isi dari amplop coklat yang dia terima. Tampak tersirat sebuah senyum licik dari bibir **** Tasya


"Jadi aku bersaing dengan wanita Kampungan seperti dia" Ucap Tasya seolah meremehkan.


"Ya Tuhan ! Aku pikir kau tengah dekat dengan Pebisnis, atau mungkin artis , atau model, ternyata hanya perempuan bercadar" Ucap Tasya lagi dengan suara mengejek dan tawa nyaring yang mengisi seluruh ruangan tersebut.


"Jika hanya dia, aku rasa tidak akan sesulit yang aku bayangkan jika hanya untuk menyingkirkannya" ucap Tasya dengan suara sinis.


Tasya Merasa sangat bahagia hingga dia berfikir tidurnya akan terasa begitu nyenyak malam ini , dengan segala macam rencana licik yang telah tersusun rapi.


***


Berbeda dengan Tasya yang tengah berbunga-bunga dengan informasi yang telah dia dapatkan.


Reza justru harus bolak balik ke kamar mandi hanya untuk menuntaskan hajatnya.


Beberapa kali Reza harus meringis kesakitan, karena siksaan pada bagian perutnya yang terasa di tusuk dan di remas-remas.


"Mas Reza , Yakin tidak papa ?" Tanya Maryam tampak panik.


"Atau Maryam panggil dokter saja" Ucapnya lagi.


Reza hanya menggeleng lemas dengan badan yang terkulai tak berdaya diatas sofa setelah beberapa kali, bolak balik kamar mandi untuk menguras isi perutnya.


Rencana Reza pun yang semula akan menghukum Maryam malam ini, harus gagal total karena kondisinya kini ya justru terhukum.

__ADS_1


"Mas, minumlah susu hangat ini, semoga bisa menetralisir isi lambung mas Reza " Ucap Maryam lembut dengan menyodorkan segelas susu putih pada Reza yang terlihat lemas dengan Mata terpejam.


Baru saja Reza akan menyentuh gelas yang di berikan istrinya, gejolak dari dalam perutnya sudah meraung lagi minta untuk di keluarkan.


Reza keluar dari kamar mandi dengan raut wajah pucat pasi tampak sudah tidak memiliki tenaga lagi. Dan hal itu sontak membuat Maryam merasa iba.


"Pasti makanan Sore tadi penyebabnya, pasti tidak bersih dan higienis!" ucap Reza dengan mulut meracau tampak kesal .


"Mas kenapa harus menyalahkan Makanannya, Bukanya mas Reza sendiri yang memesan dengan pesanan level lima ?" Ucap Maryam kemudian.


Reza hanya bergeming dengan mengabaikan kata-kata Maryam.


"Lagi pula Level lima itu merupakan level dengan tingkat kepedasan tertinggi mas !" Ucap Maryam lagi, tampak memberi penjelasan


Kedua bola mata Reza tampak membulat mendengar penuturan dari Maryam "Kenapa kau tidak bilang !" Ucap Reza dengan mulut mencucu


"Maryam sudah memperingati mas Reza beberapa kali bukan ?" Ucap Maryam dengan meninggikan suaranya satu oktaf.


"Dan lagi Maryam sudah katakan pada mas Reza, jika tidak kuat jangan di paksakan"


"Kenapa mas Reza harus menghabiskan makanan tersebut !" Timpal Maryam kemudian.


"Ahh... Iya , bodoh sekali diriku, hanya karena gengsi, sekarang harus seperti ini" Batin Reza dalam hati


Reza tampak merutuki kebodohan dirinya sendiri yang justru hal itu membuatnya merasa tersiksa.


Semalaman Reza masih harus terus bolak-balik kamar mandi, namun Maryam tetap setia menemani suaminya dengan tetap terjaga dari tidurnya.


Setelah hampir tengah malam keduanya baru dapat terlelap dengan posisi masing-masing.


Bahkan Reza sudah tidak memperdulikan suara lambungnya yang menangis minta di isi, akibat kekosongan yang sebelumnya mendera


Reza memilih untuk segera terlelap karena rasa lelah dan lemas akibat hantaman sekilo cabai yang dia rasakan.


***


Bersambung


***


Semoga babang Reza sadar yaa... gengsi aja di gedein

__ADS_1


Peluk jauh dari author untuk para reader yang Budiman 🥰🤗🙏


__ADS_2